Kader Kelurahan Kebon Bawang bersama tim Pencerah Nusantara melakukan edukasi 3M kepada masyarakat. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

 

Indonesia bisa belajar upaya penanganan COVID-19 dari Thailand yang melibatkan 1 juta kader desa atau village health volunteer. Kader desa sudah biasa berkontribusi membantu melakukan promosi kesehatan di lingkungan terdekatnya. Mereka diawasi oleh dinas kesehatan setempat dan berperan sebagai mata dan telinga dari sistem kesehatan di komunitas. Pemerintah Thailand juga berkolaborasi dengan semua pihak di sistem kesehatan, baik dari praktisi kesehatan masyarakat, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Thailand sudah belajar dari wabah SARS yang terjadi pada 2003.

Sebaliknya, penanganan pandemi di Indonesia belum optimal karena terbatasnya pelibatan kader. Untuk mengejar ketinggalan tracing misalnya, Indonesia dapat melakukannya dengan merekrut contact tracer tambahan serta melibatkan kader kesehatan setempat untuk membangun surveilans berbasis masyarakat. Hal ini sudah dilakukan oleh sebagian Puskesmas di DKI Jakarta dan Bandung. Meski begitu, banyak tantangan yang dihadapi ketika melibatkan kader dalam penanganan pandemi.

Di Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, kader masyarakat dari dasawisma, PKK, dan juru pemantau jentik (jumantik), dilibatkan untuk membantu mengecek data dan mengedukasi warga. Bersama tim Pencerah Nusantara, kader mempromosikan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) kepada warga, monitoring sarana cuci tangan yang perlahan berkurang jumlahnya, menempelkan sticker wajib masker di setiap rumah makan dan tempat perbelanjaan, serta memutar audio himbauan 3M di masjid dan mushola.

Kader juga pernah terlibat dalam tracing. Namun, karena pernah ada kasus kebocoran data pasien konfirmasi positif COVID-19 oleh kader, Puskesmas Tanjung Priok enggan untuk melibatkan kader kembali untuk melakukan tracing.

Di sisi lain, kader memiliki beberapa kelebihan dibanding contact tracer. Pertama, kader berdomisili di wilayah tersebut dan bisa melakukan surveilans 1 x 24 jam, sedangkan contact tracer hanya bertugas pada jam kerja yaitu pukul 07.30 hingga 16.00.

Kedua, kader biasanya sudah dipercaya oleh masyarakat sehingga akan lebih mudah mendapatkan informasi ketika melakukan tracing. Sebaliknya, masyarakat seringkali tidak nyaman membuka informasi kepada contact tracer sehingga menghambat penelusuran.

Permasalahan lain ketika melibatkan kader adalah insentif yang tidak kurang dari pemerintah. Untuk kader dasawisma, misalnya, dibayar Rp1.500.000 per 3 bulan, kader jumantik sebanyak Rp500.000 per bulan, sementara kader PKK tingkat RW tidak dibayar. Padahal, ketiga kelompok kader tersebut melakukan kegiatan yang sama selama pandemi. Pemerintah harusnya mengalokasikan dana lebih untuk meningkatkan insentif kepada kader. Pelibatan kader dan terwujudnya surveilans berbasis masyarakat yang berkualitas masih merupakan PR besar bagi Indonesia.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis