JAKARTA, KOMPAS— Kebutuhan tenaga kesehatan di 120 puskesmas di wilayah perbatasan dan kepulauan akan dilengkapi. Tahun ini, Kementerian Kesehatan melalui program Nusantara Sehat akan menugaskan tim tenaga kesehatan di wilayah itu untuk memperkuat fungsi puskesmas dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes Usman Sumantri, Selasa (17/3), di Jakarta, mengatakan, pengiriman tim tenaga kesehatan ke puskesmas di perbatasan diharapkan bisa meningkatkan indikator kesehatan masyarakat setempat.

Selama ini, peran kuratif puskesmas lebih menonjol dibandingkan dengan promotif dan preventif. Padahal, seharusnya puskesmas berperan dalam deteksi dini penyakit sebelum penyakit itu muncul menjadi kasus. Persoalan lain, banyak puskesmas tak memiliki tenaga kesehatan yang lengkap sehingga fungsi mereka dalam upaya kesehatan masyarakat terhambat.

Padahal, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, tenaga kesehatan di puskesmas paling sedikit terdiri atas dokter atau dokter layanan primer, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga kesehatan masyarakat, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian.

Oleh karena itu, melalui program Nusantara Sehat, Kemenkes akan menugaskan tenaga kesehatan berbasis tim ke daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Tim tersebut akan melengkapi kebutuhan tenaga kesehatan di puskesmas selama dua tahun. Sesuai rencana strategis Kemenkes, tim itu bertugas memberdayakan masyarakat, mengendalikan penyakit, dan promosi kesehatan. "Tentu itu tanpa mengesampingkan kuratif," kata Usman.

Saat ini Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kemenkes menyeleksi 630 orang untuk mendapat 480 tenaga kesehatan yang akan dikirim. Jumlah tenaga kesehatan yang dibutuhkan untuk mengisi 120 puskesmas adalah 960 orang. Perekrutan berikutnya akan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan itu.

Tahun ini, puskesmas tujuan yang diprioritaskan untuk dilengkapi adalah yang berada di wilayah perbatasan dan kepulauan. Contohnya, di perbatasan Papua ada 24 puskesmas yang menjadi tujuan penugasan.

Bisa dicegah

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Perlindungan Faktor Risiko Kesehatan Sri Henni Setiawati menjelaskan, dari seluruh populasi, proporsi orang sakit hanya sekitar 20 persen dan sebagian besar menderita penyakit tak menular yang bisa dicegah.

Dalam paradigma sehat pada era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini, ketersediaan tenaga kesehatan kompeten jadi kunci keberhasilan. Untuk itu, Kemenkes melalui Nusantara Sehat mencoba melengkapi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah.

Menurut Usman, semua unit di Kemenkes terlibat dalam Nusantara Sehat. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan ataupun Direktorat Jenderal Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional akan menetapkan program yang harus dilakukan.

Selanjutnya, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes akan memperkuat sarana puskesmas. Adapun Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes akan mengukur capaian kinerja puskesmas dalam menerapkan program kesehatan sebelum, selama, dan sesudah tim diturunkan.

"Tidak seperti dokter pegawai tidak tetap (PTT), tim Nusantara Sehat akan diberi bekal dulu terkait aspek-aspek nonmedis di tempat tujuan. Misalnya, bagaimana bertahan di sana dan budaya di sana," kata Usman.

Kepala Biro Kepegawaian Kemenkes Pattisellano Robert Johan memaparkan, selama ini pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan Kemenkes melalui pengiriman dokter PTT dan penugasan khusus.

Namun, hasil evaluasi pada dokter PTT menunjukkan, dokter yang ikut umumnya hanya melakukan upaya kesehatan perorangan atau kuratif. Padahal, kini upaya kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan perlu ditingkatkan demi menekan angka kesakitan. (ADH) 

Sumber : Kompas