Sebagai Program Unggul Upaya Kolaboratif Antar-Profesi di Bidang Kesehatan Menyisihkan 800 Abstrak di Forum “All Together Better Health VII”

Pittsburgh, Amerika Serikat, 8 Juni 2014 – Pencerah Nusantara, program antar-profesi yang menyentuh aspek kesehatan sebagai daya ungkit pencapaian Millennium Development Goals di Indonesia, berhasil terpilih menjadi salah satu studi kasus yang dipresentasikan di forum All Together Better Health VII (ABTH VII) di Pittsburgh, Amerika Serikat – sebuah ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh University of Pittsburgh.

Mengusung tema ‘Interprofessional Collaboration for Health’, program Pencerah Nusantara berhasil menyisihkan 800 abstrak yang diterima oleh panitia untuk dipresentasikan di hadapan pakar kesehatan masyarakat dan penggiat pendidikan antar-profesi dari sejumlah universitas ternama di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Norwegia, Swedia dan Australia.

Lebih istimewa, abstrak Pencerah Nusantara merupakan satu dari 35 studi kasus terbaik tentang kolaborasi antar-profesi, sehingga mendapatkan kesempatan untuk memaparkan lebih detail tentang programnya pada sesi diskusi panel selama 90 menit. Diskusi panel tersebut merupakan bentuk apresiasi tertinggi setelah presentasi makalah (paper presentation) dan presentasi poster (poster presentation) yang  dievaluasi oleh Board of Reviewers.

Program Pencerah Nusantara dipresentasikan oleh Diah S. Saminarsih – Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs & Direktur Eksekutif Pencerah Nusantara, Anindita Sitepu – Program Manager Pencerah Nusantara, Yurdhina Meilissa dan Olivia Herlinda – alumni Pencerah Nusantara angkatan 1 yang telah mengabdikan diri selama setahun di Ogotua (Sulawesi Tengah) dan Tosari (Jawa Timur).

Gambar 1. Tim Pencerah Nusantara di Pittsburg

Tim Pencerah Nusantara mengemukakan fakta bahwa meski Indonesia sebagai negara berkembang telah termasuk dalam kategori ekonomi menengah (middle income), namun Indonesia masih dibayangi berbagai tantangan geografi, demografi dan ketimpangan sosial. Kondisi geografis Indonesia misalnya, menyulitkan upaya pelayanan kesehatan yang layak mengingat perbedaan tingkat pembangunan di berbagai wilayah nusantara.

“Berdasarkan evaluasi data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014, sebanyak 60% tenaga kesehatan terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Hal inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan kualitas layanan di pusat-pusat layanan kesehatan primer Indonesia”, tutur Diah S. Saminarsih, Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs dalam pembukaan paparannya. Hal tersebut juga turut berkontribusi pada lemahnya pencapaian MDGs seiring dengan persoalan akses terhadap pengobatan dan sistem informasi.”

Diah menambahkan, “Tantangan lain adalah berubahnya sistem pemerintahan dari sistem sentralistik menjadi desentralistik, di mana salah satu konsekuensinya adalah melebarnya ketimpangan antar daerah serta ketidaksesuaian antara kebijakan dengan implementasi, di mana sistem kesehatan nasional. Selain itu, tenaga kesehatan pun lebih berorientasi pada upaya kuratif, dibandingkan dengan upaya edukatif, preventif dan promotif yang seharusnya dapat mengubah paradigma masyarakat tentang bagaimana menjaga kesehatan.”

Terdorong berbagai tantangan tersebut, Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs (KUKPRI-MDGs) melahirkan program Pencerah Nusantara dengan tujuan memperkuat pelayanan kesehatan primer dan lebih luas mewujudkan pemberdayaan masyarakat dalam memelihara kesehatan diri dan lingkungan.

Anindita Sitepu, Program Manager Pencerah Nusantara mengatakan, “Program yang digagas sejak tahun 2011 ini digarap secara serius oleh KUKPRI MDGs dengan merekrut profesional muda yang berkarir di bidang kesehatan meliputi dokter umum, dokter gigi, bidan dan perawat, serta para pemerhati kesehatan yang tidak terbatas latar belakang pendidikan. Mereka dapat terdiri dari sarjana farmasi, kesehatan lingkungan, epidemiolog, bahkan dari bidang ilmu sosial seperti psikologi, bahasa dan sastra, antropologi, sosiologi, komunikasi hingga teknik.”

Gambar 2. Tim Pencerah Nusantara memberikan penjelasan tentang program Pencerah Nusantara di forum All Together Better Health VII (ABTH VII)

Yurdhina Meilissa, dokter umum pada Pencerah Nusantara Angkatan 1 menjelaskan, “Program ini memberikan kesempatan bekerja sama dengan berbagai latar belakang profesi yang membuka wawasan baru tentang kesehatan, sekaligus memberikan kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan dari akarnya. Permasalahan kesehatan tidak terbatas pada fisik saja, namun terkait seluruh sistem dan lingkungan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, solusi kuratif atau klinis saja tidak cukup, melainkan perlu peran profesi lain untuk memitigasi persoalan dari berbagai aspek.”

Pandangan lain dikemukakan oleh Olivia Herlinda, lulusan Fakultas Farmasi ITB, “Melalui program ini kami mendapat kesempatan melakukan berbagai riset ilmiah sehingga program yang dilakukan merupakan intervensi berbasis bukti. Riset ini tidak hanya digunakan untuk terus mengembangkan model gerakan Pencerah Nusantara, namun juga diharapkan turut memberikan rekomendasi terhadap kebijakan Pemerintah. Semua kami lakukan demi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.”

Gambar 3. Tim Pencerah Nusantara setelah melakukan presentasi di forum All Together Better Health VII (ABTH VII)

Program ini merupakan salah satu contoh inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah atau government-led innovation, menyusul perubahan fundamental dalam cara kerja Pemerintah di seluruh dunia yang menyebabkan lahirnya inovasi-inovasi penting dalam struktur dan sistem pemerintahan untuk menciptakan hasil yang lebih efektif, lebih responsif, serta lebih fleksibel bagi pelayanan publik. Kesempatan tersebut menjadi titik awal untuk mengawal reformasi pemerintah dan perubahan politik di berbagai negara.

Sebagai penutup, Diah menegaskan, “Ke depannya, Pencerah Nusantara akan terus memposisikan diri sebagai pemberi perspektif kolaborasi multi profesi melalui pelayanan kesehatan primer, dengan tujuan untuk memperkuat pembangunan kesehatan masyarakat dan pelaksanaan BPJS Kesehatan.”