SORE itu, cuaca begitu cerah di Kecamatan Sikakap, Kepulauan Mentawai, sebuah pulau yang berjarak 130 km dari Padang, Sumatera Barat. Dalam sebuah rumah, tampak lima orang pemuda-pemudi tengah santai bercengkerama. Namun, keadaan begitu cepat berubah. Seorang bidan desa meng antar seorang ibu berbadan dua yang mengerang kesakitan. Sang bidan meminta tolong kepada lima pemuda-pemudi itu, yakni Gustin F. Mulayani, 26; Sri Wahyuni, 27; Afrieni Melti, 24; Umi Hani, 26; dan Ade Pratama, 23. Kelimanya meru pakan tenaga kesehatan yang ter gabung dalam Pencerah Nusantara.

Dari bidan itu, diketahui ibu tersebut telah mengejan hampir tiga hari. Namun, si bayi tidak kunjung keluar dari rahimnya. Muka lima orang itu langsung pucat pasi karena sama sekali tidak menda patkan informasi adanya ibu hamil yang akan dirujuk kepada mereka. Tapi, mereka tetap cepat bertindak. Afrieni, yang juga seorang bidan, langsung mengambil kendali. Dia melihat kondisi ibu hamil yang bernama Rina itu. Pembukaan sudah sampai tahap kelima. Keadaan tersebut harus ditunggu agar sampai ke pembukaan terakhir, kesepuluh. Setelah empat jam ditunggu, sekitar pukul 22.00 pembukaan kesepuluh terjadi. ”Kami periksa bayi itu masih hidup,” cerita Gustin. Berkali-kali kelimanya meminta Rina untuk mengejan, namun hingga pukul 01.30 bayi itu tidak kunjung keluar. Afrieni yang melihat kejanggalan tersebut langsung memeriksa kondisi rahim.

Ternyata, bayi itu terlilit tali pusar. Keadaan yang kian berbahaya membuat kelimanya memutuskan untuk memotong tali pusar tersebut dari dalam rahim. ”Ini jalan satusatunya,” ujarnya. Sebuah gunting sudah berada di genggaman Afrieni. Dengan begitu hati-hati, dimasukkan gunting itu. Dengan cepat, tali pusar tersebut terpotong dan bayi mulai keluar. Kepala bayi sudah terlihat. Tangisannya memberikan secercah harapan. Namun, sedetik kemudian keadaan menjadi lebih berbahaya. Ternyata, bahu bayi itu lebih besar daripada kepalanya. Bayi berumur beberapa menit tersebut tersangkut di rahim ibunya. Lima pemudapemudi itu kebingungan bukan kepalang. Waktu terus berjalan hampir sepuluh menit. Tebersit dalam pikiran mereka untuk menghancurkan pundak bayi tersebut agar bisa keluar. Jalan itu satu-satunya untuk menyelamatkan keduanya. ”Kami sudah memikirkannya masakmasak,”terangnya.

Namun, tiba-tiba bayi itu tidak lagi menangis. Mereka gelagapan dan memeriksa napas bayi tersebut. Ternyata, bayi itu sudah tidak bernapas. Tidak ingin kehilangan sang ibu, mereka langsung mematahkan pundak bayi tersebut. Jenazah bayi itu pun keluar. Keadaan senyap. Pikiran mereka sudah gelap. ”Kami pengap,” ujarnya. Semuanya menangis lirih, tetapi tidak ada yang bisa diperbuat. Gustin yang melihat kondisi itu sudah hilang rasa. ”Kami blank dengan kondisi ini,” keluhnya dengan mata memerah. Keadaan menyakitkan itu tidak membuat mereka berhenti mencari penyebab kemalangan tersebut. Gustin mencari informasi soal ibu hamil itu. Ternyata, ibu tersebut sudah tujuh kali hamil. Dari semua kehamilan itu, hanya dua bayi yang mampu dilahirkan dengan selamat.

Hal itu membuat Gustin mencurigai bahwa sebenarnya Rina memiliki riwayat persalinan yang buruk. Kondisi tersebut semakin menyesakkan pikiran kelimanya karena sebenarnya itu bisa dicegah. ”Kalau punya riwayat persalinan buruk, seharusnya bidan sejak awal meminta ibu itu tinggal dekat fasilitas kesehatan yang memadai. Sekarang ini sudah ada persalinan Caesar, ini bisa dilakukan,” jelasnya. Dari kejadian itu, mereka mengetahui dampak pembangunan yang tidak merata. Sumber daya manusia (SDM) kesehatan perlu diperbaiki. Begitu pula rumah sakit yang berjarak lebih dari 100 km dari Kepulauan Mentawai. ”Kalau saja sejak awal kami menangani Ibu Rina, tentu sudah kami rujuk ke rumah sakit,” tutur Gustin. Kejadian itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berbuat di Mentawai.

Sementara itu, Assistant to Special Envoy on Program Planning and Community Partnership Kantor Presiden Utusan Presiden Diah Saminarsih menuturkan, sebenarnya Pencerah Nusantara tidak ditujukan untuk memberikan pengobatan, namun memberikan pemahaman cara hidup sehat. ”Sehingga potensi datangnya sakit bisa ditekan,” katanya. Tidak hanya itu, lanjut dia, dengan adanya komunitas Pencerah Nusantara, ada target untuk bisa memetakan daerah bermasalah kesehatan (DBK) di Indonesia. Bahkan, komunitas tersebut bisa memberikan masukan kepada pemerintah, daerah mana saja yang perlu perbaikan kesehatan. (idr/c6/diq) 

Sumber : Jawa Pos 27 Oktober 2014