Suasana obrolan santai bersama Ibu Menteri

Kamis malam, 26 February 2015, menjadi hari spesial untuk Kantor Obsat atau Obrolan Langsat, yang terletak di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan. Malam itu Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek bersama Prof. Akmal Taher, Direktur Jenderal  Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Mba Diah Saminarsih, Ketua Dewan Pembina CISDI, dan Mba Ainun Chosum, pendiri Akademi Berbagi, hadir untuk ngobrol-ngobrol santai sambil duduk lesehan membicarakan masalah kesehatan negara Indonesia dan rencana Kementerian Kesehatan dalam memperkuat pelayanan kesehatan primer.

Topik yang berat pun dibawakan dengan bahasa yang mudah dimengerti peserta, yang kebanyakan merupakan professional muda usia 25-35 tahun. Sambil disisipkan candaan, Prof Nila yang duduk di antara Prof Akmal dan Mba Diah, memberikan gambaran double burden of disease di Indonesia dimana penyakit infeksi yang belum terselesaikan, yang umum di negara berkembang, sudah ditambah dengan masalah penyakit tidak menular, yang lebih umum di negara maju.

Sebagai solusi masalah kesehatan yang ada saat ini, orang-orang nomor satu Kementerian Kesehatan itu pun menjelaskan strategi mereka dalam penguatan Puskesmas untuk memperbaiki sistem kesehatan Indonesia. Prof Akmal yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo bercerita tentang pengalamannya memperbaiki sistem Rumah Sakit dan menambah kapasitasnya dari 500 tempat tidur sampai 1500, namun selalu saja penuh. Menurutnya, hal itu merupakan tanda bahwa masalahnya bukan di Rumah Sakit, tetapi justru ada di luar Rumah Sakit. “Kalau yang di Puskesmas tidak bekerja dengan baik. Percuma saja bangun Rumah Sakit terus, pasien tidak akan ada habisnya,” tutur Prof. Akmal.

Prof. Nila juga menyinggung sistem pembayaran tenaga kesehatan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merubah tren pengobatan kuratif menjadi upaya promotif preventif dengan pola hidup sehat. Atau dari paradigma sakit menjadi paradigm sehat. Dengan pembayaran sistem kapitasi di tingkat Puskesmas, dokter akan mendapat gaji yang sama berapa pun jumlah pasiennya. “Sudah nggak jaman dokter pengen pasien sakit. Dokter sekarang akan lebih senang kalau pasiennya sehat karena jadinya uang untuk mereka juga lebih banyak,” tambah Prof Akmal.

Obrolan malam itu semakin hangat ketika Prof Nila menjelaskan program Nusantara Sehat yang baru diluncurkan Kementerian Kesehatan. Program ini akan mengirimkan tenaga kesehatan berbasis tim ke 120 titik Puskesmas di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Program ini dijelaskan Mba Diah sebagai ‘adik satu ibu’ dengan program Pencerah Nusantara yang juga dicetuskan Prof. Nila saat menjadi Utusan Khusus Kepresidenan untuk Millenium Development Goals Indonesia di tahun 2012. Seperti halnya Pencerah Nusantara yang sudah memasuki tahun ketiga, Nusantara Sehat juga menjadi wadah para tenaga kesehatan muda, di bawah usia tiga puluh tahun, untuk menyumbangkan kontribusinya pada bangsa dan negara.

Tahun ini, Nusantara Sehat akan mengirimkan 960 tenaga kesehatan yang terbagi menjadi dua gelombang pengiriman. Gelombang pertama akan diberangkatkan pada bulan April,  dimana 480 tenaga kesehatan terpilih (dari 6000 pendaftar) yang sudah dibekali pelatihan medis, non-medis, dan bela negara selama sebulan penuh, akan dikirim ke 60 Puskesmas DTPK. Selama bekerja, tim kesehatan ini dituntut untuk bekerja secara professional dan terus melakukan pelaporan kegiatan sebagai bentuk monitoring dan evaluasi.

Sesi diskusi obrolan malam ini ditutup dengan pertanyaan peserta seputar informasi kesehatan terkait pola makan sehat, program Nusantara Sehat, dan peran dokter serta dokter gigi dalam perbaikan sistem kesehatan di Indonesia. Jajaran petinggi Kementerian Kesehatan menjawab pertanyaan peserta dengan humor sehingga suasana menjadi semakin akrab dan peserta semakin antusias bertanya. Acara yang harusnya selesai jam sembilan ini pun tidak terasa baru ditutup hampir jam sepuluh malam.