Meski sering diragukan, patroli masker dianggap kerap berguna untuk melihat efektivitas kebijakan pemerintah di tingkat akar rumput. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

“Kasus aktif di Kelurahan Kebon Bawang turun, tapi perilaku memakai masker di masyarakat nggak berubah. Artinya, patroli masker tidak efektif? Gimana, ya cara mengukur efektivitas patroli masker?” tanya seorang petugas Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok.

Semenjak Juli, Tim Pencerah Nusantara COVID-19 (PN COVID-19) Tanjung Priok melaksanakan patroli masker bersama pihak kelurahan dan Satpol PP. Kami menelusuri satu RW setiap hari. Tim ini selalu membawa 3 poster 3M untuk dipegang kader serta megafon untuk memutar rekaman imbauan 3M. Sementara, Satpol PP menindak masyarakat yang tidak menggunakan masker. Di sisi lain, pihak kelurahan berkomunikasi sehari sebelumnya dengan RW dan kader-kader setempat untuk mempersiapkan patroli di esok hari.

Penindakan terhadap masyarakat bisa berupa denda finansial hingga sanksi sosial. Menurut Yohannes Advent Krisdamanti (2020), Penegakan hukum serupa juga pernah diberlakukan pada awal-awal masa pembatasan sosial pada April 2020 lalu. Namun, seiring dengan pertumbuhan kasus, kebijakan ini terbukti tidak efektif. Banyak pihak justru menilai diperlukan langkah persuasif untuk mengubah perilaku.

Riset dari The Australia and New Zealand School of Government (ANZSOG) menyatakan salah satu cara membangun kepatuhan adalah menciptakan ketakutan dan memberikan hukuman. Namun hal itu berbeda dengan yang kami pahami. Dalam pelatihan Teknik Komunikasi Perubahan Perilaku pada Rabu (23/9), Risang Rimbatmaja, seorang konsultan pembangunan, mengatakan perlunya elaborasi antara kegiatan yang bersifat represif dengan edukasi, sehingga menggugah kesadaran warga mengenakan masker dengan baik dan benar.

Risang menjelaskan teknik komunikasi dengarkan, apresiasi, dan klarifikasi. Menurutnya, keseimbangan antara teguran dan apresiasi terhadap warga yang mengenakan masker sangat diperlukan. Di lapangan sendiri, pemberdayaan kader dalam kegiatan patroli masker cukup besar. Kader yang berasal dari masyarakat diharapkan melakukan komunikasi efektif dan mempromosikan kesehatan dengan baik.

Kondisi di Lapangan

Meski begitu di lapangan, banyak kader meragukan kemampuan mereka mengedukasi masyarakat. Mereka menyebut tenaga kesehatan lebih pantas berbicara karena memiliki ilmu yang mumpuni. Kami sebagai tenaga kesehatan tentu terus mendorong kader percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Setelah dua bulan berjalan, patroli masker mendapat beragam kritik dan saran, salah satunya terkait kesamaan narasi kepada publik yang ditemui.

Tim PN COVID-19 sudah membuat strategi komunikasi saat berpatroli masker. Kami membagi masyarakat dalam tiga sasaran kelompok, yaitu warga yang bermasker, tidak menggunakan masker, dan warga yang berkerumun. Adanya kesamaan narasi membantu penyampaian pesan lebih efektif. Hingga hari ini, kami masih berencana menyeragamkan narasi ketika berpatroli masker di minggu-minggu berikutnya.

Efektivitas patroli masker tentu masihlah tanda tanya bagi banyak pihak. Baik Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok ataupun Tim PN COVID-19 belum bisa menjawabnya. Namun sejauh ini, patroli masker adalah metode paling efektif untuk memantau kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Kendati keampuhannya belum terbukti, cara ini berfungsi menjadi mata ketiga pemerintah memantau gerak dan perilaku selama pandemi berlangsung.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera. Dilaksanakan semenjak 2012 Pencerah Nusantara merupakan gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi dan ditempatkan di puskesmas masalah kesehatan di suatu daerah dengan masalah kesehatan selama satu tahun untuk bekerja sama lintas sektor dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir untuk membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan pada peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, monitoring dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Pada tahun 2015 Pencerah Nusantara meraih Silver Award Global Open Government Award 2015 sebagai inovasi yang sukses memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Sementara sejak tahun 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.

 

Penulis

Anditha Nur Nina