Pak Sumadi menjadi salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam upaya penanganan wabah di Puskesmas Tanjung Priok. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

“Dengan menjabat Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) berarti diberi amanah, bisa bantu warga, dan bisa menjadi jadi solusi. Nilai yang saya pegang adalah integritas.” Begitu kata Pak Sumadi ketika telah tengah menjalankan tugasnya.

Di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, hampir semua orang mengenal Bapak Sumadi, ia sudah menjadi “kesayangan” semua orang. Sarjana kesehatan masyarakat ini pertama kali memulai karir di Puskesmas Kecamatan Koja pada 1992. Pada 2007 ia lantas ditempatkan pertama kali di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Selama periode itu, Pak Sumadi telah mengalami pergantian kepala puskesmas selama 6 kali, merasakan perubahan bangunan puskesmas, hingga ikut serta menghadapi beragam wabah, mulai dari SAR, Flu Burung, MERS, hingga COVID-19.

Mengapa Pak Sumadi begitu diidolakan? Sebab tugas pokoknya sebagai Kepala Satuan UKM ialah mengkoordinasikan seluruh kegiatan UKM untuk mengikuti standar. Pak Sumadi bertanggung jawab atas terpenuhinya alat, bahan, kelengkapan kesehatan di puskesmas. Ia juga harus memastikan ketersediaan SOP pelayanan dan kehadiran tenaga kesehatan yang mumpuni di puskesmas.

Pria ramah berkaca mata ini juga piawai menjalin kerja sama lintas sektor. Selama 13 tahun bekerja untuk puskesmas, ia selalu berupaya hadir dalam setiap pertemuan dengan pemangku kebijakan terkait, baik dari sektor kesehatan, maupun dari luar sektor kesehatan. Meski pekerjaannya terbilang serius, Pak Sumadi tidak segan duduk dan meminum kopi bersama warga RW dan Kelurahan setempat.

Warga mengenal Pak Sumadi sebagai tokoh bertangan dingin. Ia selalu datang memberi solusi setiap kali ada permasalahan di lapangan. Ia juga mengenal baik tujuh orang lurah di wilayah Kecamatan Tanjung Priok, Kepala Sesi Kesejahteraan, Perangkat Kelurahan, hingga kader-kader kesehatan setempat. Pak Sumadi meyakini kerja sama lintas sektor yang baik perlu diupayakan terus menerus. Satu ataupun dua tahun tidaklah cukup. Pemimpin yang baik, tambah Pak Sumadi, perlu memberi dukungan moral kepada anggota, khususnya mereka yang berada di puskesmas.

Di tengah penyebaran COVID-19, Pak Sumadi juga sedang berupaya menghadapi ancaman banjir. Sementara, masalah distribusi vaksin juga menjadi salah satu tugasnya. Pak Sumadi menyebut dua tantangan besar melaksanakan kerja sama lintas sektor, yakni belum kuatnya sinergi Satuan Kerja Perangkat Daerah dan tidak sinkronnya kebijakan pusat dan daerah dengan situasi riil di lapangan.

Dalam soal sinergi, sebagai contoh, masih banyak tumpang tindih pekerjaan dan tanggung jawab antara Kelurahan, Babinsa, ataupun Kamtibnas. Sementara, implementasi kebijakan dari pusat maupun daerah kerap tidak sesuai fakta. Data-data pemerintah kurang memperhatikan ketersediaan fasilitas isolasi mandiri di lapangan.

Keterampilan menganalisis dan melihat persoalan ini yang membuat Pak Sumadi dihormati. Ia merupakan gambaran ideal seorang kolaborator, fasilitator, dan advokat isu-isu kesehatan di level masyarakat. Pak Sumadi bisa terlibat dalam segala percakapan dengan berbagai pemangku kebijakan. Ia juga tidak membeda-bedakan relawan maupun tenaga kesehatan lainnya.

Di Tanjung Priok Tim Pencerah Nusantara, Tim Penyuluh Kesehatan dan Surveilans dari Dinas DKI, serta Tim Pelacak Kontak dari sebuah LSM selalu berkoordinasi dengan Pak Sumadi. Melalui saran serta masukan, Pak Sumadi senantiasa memandu rekan-rekan relawan dan tenaga kesehatan. Sebab, ia meyakini mereka semua bekerja untuk satu tujuan yang sama, yakni melandaikan kurva penyebaran COVID-19 di Tanjung Priok dan segera mengentaskan persoalan COVID-19 di wilayah yang dicintainya.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

 

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Anditha Nur Nina (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara