Kolaborasi lintas sektor adalah salah satu kunci untuk memberantas Pandemi COVID-19 di Kecamatan Bandung Kulon. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

“Kami bingung harus bagaimana dan mengambil langkah apa, makanya kami datang ke puskesmas. Kami tahu puskesmas lebih tahu. Jadi, kami berharap dapat arahan dari puskesmas,” ucap salah seorang Ketua RW di Kecamatan Bandung Kulon.

Sejak Kecamatan Bandung Kulon menduduki peringkat pertama kasus aktif COVID-19 terbanyak, hampir setiap hari puskesmas ramai. Keramaian ini bukan hanya terjadi karena peningkatan kunjungan pasien yang berobat, tetapi juga karena kemunculan petugas-petugas lintas sektor yang mengecek kebenaran informasi data dalam Pusat Informasi COVID-19 Kota Bandung.

Meski telah berlangsung delapan bulan, masyarakat masih bingung dengan upaya-upaya untuk mencegah penyebaran wabah, terutama di wilayah RW masing-masing. Hingga 9 November 2020, berdasar data covid19.bandung.go.id, Bandung Kulon tetap menempati peringkat satu kasus aktif terbanyak dengan 60 kasus aktif.

Naik dan turunnya kasus aktif memang bukanlah hal aneh. Sebab, peningkatan jumlah kasus bisa saja beriringan dengan peningkatan angka tes, pelacakan, perawatan, dan isolasi. Bahkan, poin ini kadang perlu diapresiasi sebab menunjukkan keseriusan kepala daerah mengatasi penyebaran kasus, khususnya di wilayah Bandung Kulon, Kota Bandung.

Meski begitu, nada-nada sinis kerap bermunculan menanggapi kondisi ini. Tidak jarang tenaga kesehatan mendengar, “Dok, kalau angka kasusnya naik begini, kami dinilai tidak bekerja masksimal.” Beberapa yang lain bahkan mengatakan, “Kalau kasus selalu tinggi, nama puskesmas nantinya juga jadi jelek.” Padahal perlu dipahami, dalam penanganan wabah tidak ada satu sektor pun yang perlu merasa lebih baik dari sektor lain. Pada periode pandemi, seluruh elemen perlu memerhatikan aspek kolaborasi dan melepaskan perasaan takut dicap buruk ataupun gagal melaksanakan tugas.

Di Kecamatan Bandung Kulon, petugas-petugas dari elemen sektor kesehatan, kewilayahan, hingga keamanan saling berkolaborasi memberantas pandemi. Mereka melaksanakan beberapa inovasi kerja sama, seperti melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) di 36 RW, mendesinfeksi lingkungan sekitar, dan mengedukasi penegakkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan di wilayah pasar dan jalan-jalan raya.

Aksi kolaborasi lintas sektor ini juga melibatkan karang taruna, ibu-ibu PKK, dan elemen warga lainnya yang tergabung sebagai Kader Respons COVID-19 yang dibentuk Tim Pencerah Nusantara COVID-19. Falsafah penanganan wabah yang kami yakini sederhana, yakni hal biasa, jika dikerjakan bersama-sama akan berdampak luar biasa, baik bagi perubahan perilaku masyarakat hingga terbangunnya hubungan kerja sama antar-sektor di Kecamatan Bandung Kulon.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Murti Utami Putri (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung