Relawan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan dalam upaya penanganan wabah di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. (Sumber gambar: Antara)

 

Wisma Atlet di DKI Jakarta sudah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 sejak Maret lalu. Dari 10 tower yang ada, tiga di antaranya diperuntukkan sebagai tempat menginap relawan, sementara empat tower lainnya digunakan sebagai tempat perawatan kasus konfirmasi. Wisma Atlet telah menjadi rumah sakit darurat yang menyediakan fasilitas medis lengkap, mulai dari IGD, triase, high care unit (HCU), hingga laboratorium.

 

Di antara dokter yang bertugas di sana, terselip nama dr. Shelly Silvia Bintang. Shelly, sapaan akrabnya, adalah dokter relawan untuk HCU. Shelly, dalam wawancara dengan CISDI (20/10), menyebut dirinya terpilih sebagai relawan gelombang 24 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Proses seleksi relawan tidak mudah, Shelly perlu mengirim berkas, mengikuti wawancara, melaksanakan medical check-up, dan menjalani pembekalan.

 

“Saya ingin berkontribusi terhadap penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia,” ujar Shelly yang juga alumni Pencerah Nusantara Angkatan VI ini. Berbeda dengan dokter di ruang perawatan yang bisa bertanggung jawab atas 60-100 orang pasien, Shelly bertanggung jawab atas enam hingga tujuh pasien di HCU. Shelly mengaku, walau jumlah pasien jauh lebih sedikit, ia perlu mengetahui seluruh rekam medis dan penanganan detail setiap pasien.

 

Meski hal ini terhitung berat, Shely berbahagia karena selama bertugas ia berkenalan dengan relawan dokter dan nakes lainnya. Shelly bercerita ada sejumlah relawan yang sudah berulang-ulang kali bertugas di Wisma Atlet. Relawan-relawan ini mendaftarkan diri mereka kembali dan mengikuti rangkaian seleksi setelah menyelesaikan masa tugas dan karantina yang berat. Kebahagiaan Shelly juga selalu timbul ketika ia mengabari keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah pulih dan bisa pulang. Namun Shelly tidak memungkiri, ada perasaan sedih ketika seorang pasien meninggal.

 

Mati Listrik

 

Suatu hari Wisma Atlet alami mati listrik. “Itu (saat mati listrik) kita semua (tenaga kesehatan) langsung berdiri, terus melihat ke tempat pasien. Itu lumayan sport jantung,” cerita Shelly dengan penuh ekspresi. Beberapa saat kemudian Shelly paham, aliran listrik yang digunakan untuk alat medis seperti ventilator dan monitor berbeda dengan aliran listrik gedung. Mati listrik, tidak akan mengganggu pelayanan medis.

 

Di Wisma Atlet, pasien tanpa gejala bisa menggunakan gawai dan Wi-Fi yang tersedia. Petugas kesehatan bahkan menyarankan mereka berkomunikasi dengan keluarga. Setiap pagi, ada sesi khusus berolahraga untuk mereka. Pasien positif juga diperbolehkan memesan makanan melalui sistem delivery restoran ataupun ojek online. Bahkan, apabila mereka membeli barang secara daring, mereka boleh mengirimkannya ke alamat Wisma Atlet.

 

Shelly telah tinggal di Wisma Atlet selama kurang lebih 40 hari dan mengakui fasilitas yang tersedia cukup memadai. Baik tempat tinggal ataupun kecukupan makanan tersedia dengan baik. Alat pelindung diri (APD) yang digunakan nakes juga selalu tersedia.

Meski begitu, Shelly tidak menampik bantuan untuk relawan masih sangat diperlukan. “Kita bukan superman, tapi super team,” kata Shelly dengan nada canda. Kebutuhan tim relawan sangatlah banyak lantaran tim ini terdiri atas dokter, perawat, psikolog, psikiater, radiogaf, kesehatan masyarakat, gizi, rekam medis, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga kesehatan lingkungan, dan lain-lain.

 

Meski ada kurang di sana sini, Shelly sangat optimis dan tidak pernah mengeluh. Ia paham situasi ini adalah krisis, dan tenaga kesehatan sepertinya tidak bisa menuntut banyak. “Kita yang harus menyesuaikan, kita kan relawan, bukan karyawan,” ujarnya tersenyum.

 

Sebagai penutup, Shelly mengingatkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Baginya, perang melawan wabah bisa dimenangkan dengan kerja keras tenaga kesehatan dan partisipasi masyarakat. “Kita sama-sama jadi pahlawan untuk diri kita sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk bangsa dan negara.” Bagi Shelly, ini adalah pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan dan dilaksanakan secara konsisten.

 

Penulis

 

Ardiani Hanifa Audwina