Sepanjang 2020 lalu, Tim PN COVID-19 bertemu dengan tokoh-tokoh inspiratif dalam penanganan wabah. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Pandemi COVID-19 adalah peristiwa kesehatan yang sangat rumit dan membutuhkan kerja sama banyak pihak untuk menanganinya. Meski pemerintah telah berupaya menyusun regulasi dan meningkatkan kapasitas penanganan wabah, data peningkatan kasus aktual menunjukkan upaya-upaya tersebut belumlah cukup.

Berbagai faktor, seperti rumitnya penyebaran virus, regulasi yang berbelit, hingga luasnya wilayah yang perlu dijangkau, menunjukkan penanganan wabah memerlukan keikutsertaan masyarakat luas. Pada titik ini, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum memiliki andil besar dalam penanganan wabah.

Sepanjang 2020 lalu, Tim Pencerah Nusantara COVID-19 (PN COVID-19) menemukan banyak wajah yang ikut serta berjuang keras menangani wabah. Mereka bukan hanya dokter ataupun petugas kesehatan saja. Lantas, siapa saja mereka? Apa yang mereka upayakan? Simak catatan di bawah!

Pak Sumadi

Pak Sumadi bukanlah petugas puskesmas biasa. Ia bekerja untuk puskesmas sejak 1992 dan mengabdi di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok sejak 2007. Selama periode itu, ia pernah ikut menghadapi beragam wabah, mulai dari SAR, Flu Burung, MERS, hingga COVID-19. Pengalaman dan dedikasi ini membuatnya menjabat Kepala Satuan Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

Pada masa pandemi, tugas Pak Sumadi sebagai Kepala UKM ialah mengkoordinasikan kegiatan UKM terlaksana sesuai standar. Masyarakat sekitar begitu mengidolakan Pak Sumadi lantaran ia proaktif, gesit, dan simpatik berkomunikasi dengan banyak pihak. Meski begitu, ia tidak pernah malu duduk dan meminum kopi bersama masyarakat di sela kesibukannya.

Selain itu, Pak Sumadi juga aktif berkomunikasi dengan Tim Penyuluh Kesehatan Dinas DKI, Tim Pelacak Kontak, LSM, hingga Tim PN COVID-19. “Menjabat Kepala Satuan UKM berarti diberi amanah, bisa bantu warga, dan bisa menjadi solusi,” ujarnya. 

Dokter Shelly

Shelly Silvia Bintang adalah alumni Pencerah Nusantara Angkatan VI (PN VI) dan dokter relawan Wisma Atlet. Banyak yang tidak mengetahui dokter relawan perlu melalui seleksi ketat sebelum bertugas. Shelly mengakui bertugas di Wisma Atlet tidak hanya membebani fisik, namun juga mental. Shelly ingat betul ia ikut merasa sedih ketika ada seorang pasien yang meninggal.

Tugas harian yang dijalankan pun tidak selalu berjalan mulus. Pernah suatu kali terjadi mati listrik di Wisma Atlet. Dokter-dokter takut ventilator perawatan pasien ikut mati. Beruntung, hal ini hanya mengganggu pelayanan umum, sementara proses perawatan pasien tetap berjalan baik.

Meski begitu, Shelly mengakui kebutuhan sumber daya di Wisma Atlet sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan psikologis, medis, dan gizi pasien sehingga keberadaan relawan, tenaga medis, ataupun protokoler lainnya belum bisa disebut cukup. “Kita bukan superman, tapi superteam,” ujarnya.

Pak Syarief

Ada banyak ragam pekerja yang bertugas di puskesmas ataupun rumah sakit. Pak Syarief, seorang sopir ambulans puskesmas Garuda, Kecamatan Andir, Kota Bandung, adalah salah satunya. Pada masa pandemi, intensitas kerja Pak Syarief meningkat. Ia diharuskan menjemput pasien ke rumah singgah, mengantar pasien yang sudah sembuh, hingga terlibat dalam pelaksanaan tes massal di lapangan.

Pak Syarief, tentu merasa takut menjalani tugas harian tersebut, namun ia merasa senang ketika bisa memotivasi pasien kasus konfirmasi. Tidak jarang, ketika mengantarkan pasien, ia melontarkan candaan dan menjelaskan prosedur yang akan dilakukan. Ia yakin, terinfeksi COVID-19 bukan penyebab satu-satunya pasien alami stres, stigma warga juga satu hal yang memberatkan pasien kasus konfirmasi. “Saya sama dokter itu ngasih dukungan sama pasien, supaya mereka tidak down,” ujarnya.

Pak Redjeki

Bapak M. Redjeki bukan Ketua RW 02 Kelurahan Kebon Bawang biasa. Di luar pekerjaan hariannya ia juga bertugas sebagai Anggota Satgas COVID-19 Tingkat RW. Dikarenakan humoris dan suka bercanda, ia mendapat panggilan ‘Yang Mulia’ dari lingkungan sekitar. Saat melaksanakan patroli, ia tidak segan-segan mengedukasi penduduk sekitar.

Pak Redjeki tidak pandang bulu mengedukasi masyarakat. Baik di jalanan umum, pasar, ataupun masjid ia selalu mengingatkan masyarakat mengikuti protokol kesehatan. Ketika ada orang yang tidak mau mendengarkan imbauannya, ia tetap dengan sabar mengingatkan kembali.

Ketua RW ini juga kerap memberikan vitamin penambah daya tahan tubuh kepada warga sekitar yang membutuhkan. Pak Redjeki mengharapkan wabah ini segera selesai dan situasi dapat kembali normal segera. “Bagaimana ekonomi bisa bangkit, kalau kita tidak sehat?” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Hingga hari ini belum diketahui kapan pandemi COVID-19 berakhir. Meski pemerintah telah membuat beragam kebijakan, kontribusi tenaga kesehatan, pemimpin daerah, dan masyarakat luas tetap dibutuhkan. Pada 2020 lalu, kita melihat banyak pihak yang bersemangat menghadapi pandemi ini. Semangat itu tetap harus dijaga pada 2021 untuk memastikan pandemi ini segera selesai dan tiada lagi korban berjatuhan.

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

Penulis

Amru Sebayang