Tenaga kesehatan tetap berupaya menyelidiki kasus semaksimal mungkin, meski menghadapi banyak tantangan. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

 

“Saya pernah diludahin gara-gara pasien tidak sabar. Pasiennya itu ibu-ibu tiba-tiba labrak pintu layanan L24. Dia buka masker dan meludah sambil bilang lama banget pelayanan kalian, kalian semua udah pernah ngerasain COVID belum?” tutur salah seorang petugas Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok.

Hal itu bukan yang pertama. Seorang pejabat pemerintah sempat mengancam petugas agar tes swab dilaksanakan di rumahnya. Ia enggan mendatangi puskesmas dan mengancam melaporkan buruknya pelayanan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok kepada Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, bila perintahnya tidak dituruti.

Di lain waktu, seorang pejabat daerah lain mengancam petugas puskesmas untuk menjemput keluarganya ke wisma atlet. Salah seorang dokter puskesmas itu bahkan mendapatkan sumpah serapah dan ancaman dikarenakan ego si pejabat.

Di tengah situasi pandemi yang tidak kunjung usai, ancaman dan sumpah serapah adalah makanan sehari-hari tenaga kesehatan di Kecamatan Tanjung Priok. Nia, tenaga kesehatan sekaligus pemegang komando dan data COVID-19 di puskesmas terkait, bercerita banyak hal perilah ini. Rizka rekan kerjanya dalam tim surveilans menyebut intimidasi dan ancaman menyerang kesehatan mental mereka hingga mereka mengalami burnout.

Tugas tim surveilans terbilang rumit. Mereka harus memasukkan, mengolah, dan menganalisis data COVID-19 sekaligus melaksanakan penyelidikan epidemiologi, lacak kontak erat, pembaruan data, dan pemantauan pasien. Situasi ini saja sudah merepotkan lantaran banyaknya ketidaksinkronan data yang diterima.

Di sisi lain, pasien pun kerap tidak kooperatif. Contoh, banyak dari mereka minta segera dirujuk ke Wisma Atlet sebelum puskesmas melaksanakan koordinasi. Belum lagi soal lacak kasus, banyak kontak erat yang menolak memberi keterangan pada saat penyelidikan epidemiologi atau melakukan tes swab.

Kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang berubah-ubah jelas berkontribusi besar memunculkan kondisi ini. Salah satu kebijakan paling berdampak ialah ketika semua orang yang terinfeksi perlu dirujuk ke Wisma Atlet. Situasi ini berpengaruh pada menumpuknya permohonan antar jemput.

Tenaga kesehatan bisa memahami bahwa penelitian dan kebijakan terkait COVID-19 akan berlangsung dinamis. Namun, melaksanakan sosialisasi terhadap kebijakan itulah yang akan memberatkan tenaga kesehatan. Ditambah lagi, untuk urusan-urusan penanganan wabah yang esensial, seperti tes yang tidak realtime, ikut menyulitkan tenaga kesehatan.

Tentu, banyak pihak memuji ketulusan kerja tenaga kesehatan. Nia dan Rizka sendiri bangga bisa berkontribusi sebagai tim surveilans untuk Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, sebab pandemi adalah permasalahan kesehatan global dan terjadi kurang lebih 100 tahun sekali.

Terlepas dari segala bentuk kekerasan, kerumitan, dan kejenuhan dalam menangani COVID-19, apresiasi setinggi-tingginya perlu ditujukan kepada seluruh tim tenaga kesehatan terkhusus yang menjadi garda terdepan pengumpul data COVID-19 di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Tim Unit Kesehatan Masyarakat (UKM) yang dikomandoi oleh Pak Sumadi dan 18 tenaga kesehatan lainnya ini telah menjadi contoh baik integritas kerja tenaga kesehatan di tengah pandemi.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Anditha Nur Nina (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara Kecamatan Tanjung Priok