Andre menjadi salah satu tenaga kesehatan yang terinfeksi COVID-19, meski begitu ia tidak menyerah. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Jumat 6 November 2020 menjadi hari yang akan selalu saya ingat. Di hari itu saya resmi menjadi pasien COVID-19 tidak lama setelah ibu saya didiagnosis mengalami hal serupa. Kami berdua harus melawan COVID-19 dalam ruang isolasi yang terpisah antar pulau.

Siang itu tim surveilans Puskesmas Cijerah memberitahukan hasil swab test kedua saya. Saya dinyatakan terkonfirmasi COVID-19. Saya tertawa ketika pertama kali mendengan kabar itu. Dunia seolah tidak adil lantaran beberapa hari sebelumnya, ibu saya pun terkonfirmasi positif. Dalam situasi ini saya segera memutuskan ke rumah singgah isolasi mandiri. Saya tidak lupa meminta observasi tenaga medis, mengingat riwayat penyakit jantung yang saya miliki. Di hari itu juga saya alami gejala COVID-19, demam, nyeri tenggorokan, dan batuk kering.

Isolasi

Mobil yang menjemput saya terparkir di depan puskesmas. Sang sopir mengenakan APD yang kerap saya gunakan ketika melaksanakan prosedur swab. Hati saya bergetar, mengingat biasanya saya yang menenangkan pasien dengan mengenakan pakaian super lengkap tersebut. “Andre yang kuat jangan terlalu dipikirkan, ya!” kali ini pesan itu justru ditujukan kepada saya. Di rumah singgah saya bertemu beberapa perawat dan dokter yang berusaha sebaik mungkin melayani. Kabarnya, pasien dengan gejala perlu melaksanakan isolasi mandiri selama 13 hari. Itu artinya, selama 13 hari saya perlu berinteraksi seminimal mungkin dengan orang lain.

Menjadi pasien COVID-19 menumbuhkan empati saya. Terkadang, sebagai tenaga kesehatan, kami memandang enteng persoalan stigma. Kami pikir isolasi bisa dilaksanakan dengan mudah dan bukan satu hal yang buruk. Padahal, menghadapi stigma bukan perkara mudah. Beberapa rekan lain kerap mengganggap saya lalai menerapkan protokol kesehatan. Komentar itu terus bermunculan. Pernyataan itu bukan hanya menyakitkan, namun juga tidak adil. Kontak dengan puluhan bahkan ratusan orang setiap harinya, saya tidak mungkin bisa menebak dari mana saya tertular.

Beratnya Isolasi

Selama mengisolasi diri, pikiran saya teralihkan kepada kondisi ibu saya yang alami demam tinggi. Saya jauh lebih beruntung karena hanya alami gejala ringan. Sementara, infeksi yang ibu saya alami sudah meluas ke kedua paru-paru. Ia mengalami happy hypoxia, saturasinya  turun sampai 93%, tetapi tidak mengalami sesak napas sama sekali. Kondisi itu tidak bisa ditebak prognosisnya.

Beberapa kali aritmia saya muncul, dikarenakan stres yang tak tersalurkan. Pikiran saya menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Denyut nadi saya bahkan pernah mencapai 200 kali per menit, jantung saya berdebar tak karuan, dan tekanan darah naik hingga 160/90 mmHg. Ini sudah di luar kendali saya. Saya berusaha menghubungi dokter yang bertugas untuk meresepkan obat jantung yang biasa saya konsumsi. Jujur, saya pasrah jika akhirnya tercatat menjadi dokter yang gugur karena COVID-19.

Bangkit

Isolasi mandiri perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan semangat pasien dalam menjalani proses penyembuhan. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Isolasi mandiri, mendorong saya bangkit perlahan dari keterpurukan. Di rumah singgah, saya bertemu pejuang COVID-19 lain. Mereka juga merupakan dokter gigi, perawat, dan tenakes lain yang terkonfirmasi COVID-19.

Dengan suasana kebersamaan, perlahan saya merasa tenang dan mulai berinteraksi dengan beberapa orang saat berjemur bersama. Interaksi yang singkat setiap harinya, kami maksimalkan untuk membagi cerita dan kesedihan di antara sesama. Selama 13 hari saya belajar banyak, terutama tentang penanganan COVID-19 di tingkat individu. Saya biasanya bertugas menangani COVID-19 di level komunitas dan jarang bersinggungan dengan pasien COVID-19 ketika menjalani isolasi.

Isolasi ini adalah momentum terbaik untuk merasakan yang dirasakan pasien ketika jauh dari orang-orang yang dicintai. Dari sana saya sadar bahwa pendampingan psikologis adalah kebutuhan mutlak bagi pasien. Tenaga kesehatan perlu mendengarkan semua keluhan mereka, tanpa banyak berkomentar sekaligus memberikan dukungan dan semangat. Membangun energi positif selama melaksanakan isolasi mandiri adalah kunci menuju kesembuhan.  

Setelah 13 hari berjuang, saya diperbolehkan pulang. Dengan itu, saya resmi menjadi penyintas COVID-19. Saatnya kembali bertugas, berjuang ke medan perang yang sama. Trauma? Mungkin ada. Tetapi itu tidak menjadi alasan mundur. Sudah sepantasnya tenaga kesehatan berjuang sampai akhir, memutus rantai penularan COVID-19 hingga pandemi ini selesai. Terhadap siapapun yang menolong saya selama isolasi, saya ucapkan terima kasih atas pengalaman ini.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Andre Patar Saroha Situmorang (Dokter)

Pencerah Nusantara Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung