Kamis, 3 Januari 2013

3 in 1 dalam artian ketika kita melakukan sesuatu lebih baik dengan mtode “multi-tasking” untuk menghemat tenaga dan biaya. Hal itu yang mendasari ide yang tiba-tiba muncul di sore hari dalam suasana hujan sebelum kami berangkat ke Kanawu. Ya, kami pergi ke Kanawu salah satu dusun sulit di seberang untuk melakukan Pusling, Pendampingan Posyandu, imunisasi dan sekaligus pendataan. 

Sehari sebelum berangkat kami tidak lupa siapkan perbekalan obat, vaksin, alat medis, kuisioner, pelampung dan tidak lupa makanan. Kami harus menyiapkan bekal makanan karena takut dapat bonus diare saat pulang karena pengalaman saat kondangan lalu pulang langsung diare. Kami memasak penuh semangat semalaman mulai dari pepes ikan, kering tempe, sambel terasi sampai lepat pisang juga ada. Kak Una juga tidak lupa menjait pelampunya yang sobek juga. Kemudian tidak lupa juga kami mengirim surat pemberitahuan dahulu kepada kepala dusun dan perawat di dusun kanawu. Selain itu juga koordinasi dengan petugas Puskesmas siapa saja yang bisa ikut.

 perlengkapan perang= life vest dan jungle boat

 tim pencerah Nusantara Lindu bersama staf puskesmas Lindu

Esok hari kami siap dengan pakaian tempur kami untuk menyebrang. Namun sebelumnya kami pergi membeli es batu dahulu untuk vaksin. Seperti biasanya, niat beli namun ternyata gratis dengan dalih “biar jika mereka sakit ada yang merawat”. Terlihat memang, masih perlu usaha keras untuk membuat paradigma sehat pada masyarakat di desa.

Kami dan 3 petugas puskesmas lainnya Agi, Ice dan Kak Ani harus menunggu dulu kapal datang sehingga jam 10 baru bisa berangkat. Kami membutuhkan waktu 45 menit untuk menyebrang ke dusun sulit tersebut. Saat sampai di dermaga seberang ternyata sungai kecil penghubung ke daratannya sedang meluap jadi kami harus menggunakan perahu yang lebih kecil untuk sampai darat. Setelah itu petualangan belum selesai, kami masih harus jalan 3 km sampai poskesdes.

 menikmati penyebrangan sambil foto-foto

 motor di bawa dengan ketinting dari dermaga menuju dusun kanawu bawah

 setelah menggunakan kapal kami harus menaiki ketinting untuk bisa sampai di Kanawu

Setelah sampai poskesdes kami membagi 3: di Poskesdes, pendataan dan di kanawu atas. Aku, kak Una dan Ka Ice kebagian ke kanawu atas yang artinya kami harus bapacal baku ojek (jawa: diunjal nganggo ojeg) dan cenglu (bonceng telu/bonceng tiga).  Kami tetap semangat membara ke kanawu atas. Sampai di rumah kader kami mlongo, ternyata rumahnya jauh dari bayangan kami. Sepiii… hanya ada ibu kader yang sedang menyapu bersama anjingnya dan dacin yang menggantung tertiup angin.

Akhirnya aku dan perawat Sefi berinisiatif untuk pergi ke Letnan seorang Pastur di gereja dusun untuk mengumumkan mengenai Posyandu dan imunisasi. Ternyata pastur tersebut sudah mengumumkannya tadi pagi, namun beliau bersedia membantu mengumumkan lagi ditambah embel2 dalil dari Injil tentang pentingnya kesehatan. Kami berterima kasih kepada bapak Letnan dan langsung melancarkan strategi berikutnya. Kami mengunjungi rumah pintu ke pintu yang mempunyai balita dan ibu hamil bersama kadernya juga untuk ke Posyandu dan imunisasi.

Sesampainya di rumah kader, ternyata usaha kami tidak sia-sia para ibu-ibu, balita dan bumil sudah pada datang. Mari siap buka lapak. Penimbangan dan pengukuran tinggi badan dilakukan oleh kader dan didampingi oleh saya. Kemudian ice dan kak Una melakukan pengobatan bagi yang sakit. Setelah itu selesai kami lanjutkan dengan pemeriksaan ibu hamil.

Kami sempet tercengang juga dengan pemandangan bumil yang berjejer banyak. Bukan apa, masalahnya dari 13 bumil yang periksa 8 diantaranya risiko tinggi. Sebagian besar adalah karena umur yang terlalu muda,, bahkan ada umur 14 tahun sudah hamil dan 19 tahun sudah punya anak 4. Memang begitulah potret keadaan wanita di dusun Kanawu atas, jika sudah remaja tidak sekolah membebani hidup orang tua maka nikahkan saja. Pengetahuan kurang, budaya kurang mendukung, diperparah fasilitas yang kurang, maka mereka tidak melakukan perencanaan yang baik untuk hamil dan mempunyai anak. Ya, inilah salah satu  PR besar kami di Lindu. PR yang harus banyak belajar kepada banyak guru. Karena kesehatan tidak mungkin hanya sebatas kotak Puskesmas saja.

posted by:

Ns. Fitri Arkham Fauziah, S.Kep