Siapa Sajakah Para
Pencerah Nusantara!

Pencerah Nusantara tidak akan dapat menyelesaikan semua persoalan kesehatan bangsa, tapi akan memercikkan semangat perubahan yang diharapkan dapat menggerakkan bangsa ini untuk bergerak bersama menuju Indonesia sejahtera.

  • Anida Hanifah

    Lahir di Jakarta, 28 November 1994, Anida Hanifah, atau Hani, adalah salah satu tenaga kesehatan masyarakat yang terpilih sebagai Pencerah Nusantara Angkatan 5. Hani mengenyam pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Semasa kuliah, Hani aktif berorganisasi di BEM Fakultas sebagai Staf Departemen Sosial Masyarakat dan Sekretaris Umum. Selain aktif dengan organisasi kampus, Hani juga terlibat dalam kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat dimana salah satunya adalah keterlibatan Hani sebagai Coordinator Assistant dan Advocacy Officer untuk Indonesia One Health University Network (INDOHUN).

    Konsistensi Hani untuk bergerak di bidang pembangunan kesehatan membuatnya tergerak untuk mendaftarkan diri di Pencerah Nusantara. Melalui Pencerah Nusantara, Hani memperoleh kesempatan untuk bekerja sama dengan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan derajat kesehatan sebagai bentuk bakti dan cintanya pada Tuhan dan bangsa Indonesia.

  • Azis Naini

    Azis Naini adalah salah satu dari lima dokter gigi yang terpilih sebagai Pencerah Nusantara Angkatan 5. Pengalamannya menjadi relawan di sebuah puskesmas mengekspos gadis yang biasa dipanggil Ajis ini, bahwa merubah paradigma sehat di kalangan masyarakat sangat mustahil untuk dilakukan sendiri. Bagi dokter gigi kelahiran Perelak, 1 Januari 1989 ini, Pencerah Nusantara merupakan wadah yang tepat baginya untuk memulai perubahan secara nyata

    Visinya untuk berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan kesehatan negeri ini diperkuat dengan rencana studi Ajis yang akan berfokus pada Dental Public Health untuk diaplikasikan ke masyarakat. Baginya hidup bukan hanya sekedar tentang apa yang kita dapat tapi apa yang bisa kita beri, karena pada saat itulah kita mengetahui arti hidup yang sesungguhnya.

  • Nurjen Juniarsyah

    Semasa kuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan STIKes Budi Luhur Cimahi, pemuda kelahiran Cianjur, 28 Juni 1991 ini terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan dimana ia pernah terpilih sebagai Presiden Mahasiswa STIKes Budi Luhur Cimahi. Kualitas kepemimpinan yang mumpuni membuat ia terpilih dalam program pertukaran mahasiswa ke Burapha University Chonbury-Thailand pada tahun 2014 dan juga sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni STIKes Budi Luhur Cimahi periode 2016-2019. Pengalaman organisasinya tersebut melatih kepekaan dalam menganalisis permasalahan di lingkungan sekitarnya

    Nurjen melihat bahwa ketidakmerataan fasilitas kesehatan masih menjadi permasalahan utama dunia kesehatan. Pencerah Nusantara menjadi wadah baginya untuk dapat mewujudkan sebuah cita-cita mulia, yaitu turut berkontribusi dalam pembangunan sektor kesehatan sesuai dengan kompetensinya sebagai perawat. Ke depannya, Nurjen ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di bidang keperawatan komunitas.

  • Putri Rahmah Dhandi

    Putri Rahmah Dhandi, atau yang akrab disapa Puti, adalah dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Semasa kuliah, Puti aktif terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Setelah lulus profesi, Puti menjalani kegiatan internship di Kabupaten Aceh Selatan dimana Puti menyaksikan sendiri bahwa tidak semua masyarakat mampu mengakses layanan kesehatan primer. Kondisi triple burden dalam dunia kesehatan juga menjadi tanggungjawab semua pihak untuk dapat berkontribusi meningkatkan ketersediaan akses layanan kesehatan

    Puti meyakini bahwa inovasi dan semangat mengabdi generasi muda akan berkontribusi besar dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang dibarengi dengan upaya promotif dan preventif. Hal inilah yang menjadi alasan kuat gadis kelahiran Tapaktuan, Aceh Selatan, 27 Maret 1991 ini mengikuti program Pencerah Nusantara.

  • Rahma Suryani Harahap

    Gadis kelahiran Ujung Gading, 6 Oktober 1993 ini adalah bungsu dari 5 bersaudara. Lahir dan besar di desa terpencil, mengenyam pendidikan SD di kabupaten dan melanjutkan pendidikan tinggi di ibukota provinsi, Rahma menyadari bahwa kesenjangan fasilitas masih menjadi tantangan di negeri ini, khususnya di bidang kesehatan. Hal itu membuat hatinya tergerak untuk mengabdi, menebarkan manfaat kepada mereka yang memiliki keterbatasan akses serta mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia lebih sejahtera

    Sebagai seorang bidan lulusan Poltekkes Kemenkes Palembang, Rahma ingin berkontribusi sebagai seorang tenaga pengajar bidang pendidikan kebidanan di Indonesia. Disamping itu, pengalamannya sebagai tim Survey Indikator Kesehatan Nasional 2016 dan Riset Penyakit Tidak Menular 2016, menguatkan niat Rahma untuk menjadi seorang peneliti di bidang kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak sesuai dengan kompetensi keprofesiannya.

  • Rizqya Giajeng Kartika

    Di tengah kesibukannya berorganisasi dalam BEM FKM UI serta kepanitiaan Gerakan UI Mengajar, Tenaga Kesehatan Masyarakat lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia ini merupakan penerima beasiswa Bidikmisi yang lulus dengan predikat cumlaude. Pengalaman terjun di masyarakat serta rasa berhutang budi pada negara, membuat gadis kelahiran Malang, 16 Maret 1994 ini tergerak untuk terus melakukan aksi nyata membantu pemerintah membangun negeri

    Terlebih lagi, Riris percaya bahwa, ‘menjadi bermanfaat adalah harga mati’. Cita-citanya adalah ingin membangun kota kelahirannya, khususnya di bidang kesehatan. Pencerah Nusantara dirasa mampu menjadi wadah yang tepat untuk mengabdi dan mencari ilmu untuk modal membangun daerahnya.