Siapa Sajakah Para
Pencerah Nusantara!

Pencerah Nusantara tidak akan dapat menyelesaikan semua persoalan kesehatan bangsa, tapi akan memercikkan semangat perubahan yang diharapkan dapat menggerakkan bangsa ini untuk bergerak bersama menuju Indonesia sejahtera.

  • Yoel Setiawan

    Sebagai seorang sarjana kesehatan masyarakat, Yoel percaya bahwa pandemi COVID-19 di Indonesia dapat ditanggulangi dengan tindakan pencegahan berbasis pemberdayaan masyarakat dan penguatan sistem kesehatan di layanan kesehatan primer, sejalan dengan visi Pencerah Nusantara meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer.

    Dengan keterampilan epidemiologi, dan pengetahuan manajemen serta advokasi kebijakan, pemuda kelahiran Surabaya, 14 Juli 1991 ini yakin dapat berkontribusi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui Pencerah Nusantara. Pengalaman riset dan bekerja di beberapa lembaga lokal dan internasional yang bergerak pada isu kesehatan, mendorong alumni Universitas Glasgow, Britania Raya, ini bertekad memperkuat upaya surveilans COVID-19 melalui penerapan tes massal, perencanaan program layanan primer, dan promosi kesehatan berbasis pelibatan masyarakat.

  • Zesty Fitri Dyanda

    Sebagai perawat Zesty percaya bahwa kerja meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah panggilan hati nurani. Melihat situasi pandemi COVID-19 saat ini Zesty terpanggil untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Baginya, visi Pencerah Nusantara untuk meningkatkan pelayanan kesehatan primer sejalan dengan sumpah profesi kesehatan yang pernah ia ucapkan pasca menyelesaikan studi Profesi Ners di Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.

    Perempuan kelahiran 9 Februari 1997 di Kabupaten 50 Kota ini memiliki komitmen besar terhadap pemberdayaan masyarakat. Ia pernah menjadi relawan program HIV/Aids di Taiwan. Di samping itu, ia juga merupakan mahasiswa berprestasi 1 Fakultas Keperawatan Universitas Andalas dan lulusan terbaik Sarjana Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Sebagai Pencerah Nusantara, ia akan berfokus pada pengendalian COVID-19 di beberapa puskesmas di Kecamatan Cicendo, Bandung.

  • Putri Handayani

    Sebagai seorang dokter, Putri Handayani percaya peningkatan kualitas kesehatan akan mendorong masyarakat Indonesia lebih peduli dengan kesehatan. Hal itu sejalan dengan visi Pencerah Nusantara untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer. Dengan kemampuan komunikasi dan pengetahuan medis yang mumpuni, wanita kelahiran Jakarta, 20 Mei 1994 ini yakin dapat berkontribusi lebih untuk menyehatkan masyarakat melalui program Pencerah Nusantara COVID-19.

    Komitmen Putri dalam bidang kesehatan sudah tidak diragukan. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan predikat cum laude dan termasuk dalam 5 besar peserta terbaik di wilayah penempatan program internship. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana (UKRIDA) ini akan berfokus dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan, terutama dalam pengendalian COVID-19, dengan memberikan pemahaman dan edukasi yang dibutuhkan di lokasi penempatannya nanti.

  • Murti Utami Putri

    Murti Utami Putri adalah ahli kesehatan masyarakat asal Palembang, Sumatera Selatan. Wanita kelahiran Palembang pada 25 Juni 1997 ini terpanggil berjuang bersama masyarakat dalam penanganan COVID-19. Murti percaya bahwa memutus rantai penularan bisa dimulai dari penguatan upaya-upaya kesehatan di tingkat masyarakat. Semasa menjalani pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat konsentrasi Epidemiologi dan Biostatistik, Universitas Sriwijaya, wanita yang menyukai kegiatan pengabdian masyarakat ini bersama dengan tim berhasil membawa Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya dinobatkan sebagai Fakultas Terkontributif dalam bidang sosial dan masyarakat tahun 2017.

    Murti juga merupakan Alumni Beasiswa Aktivis Nusantara, Dompet Dhuafa. Wanita ini juga sempat menjadi salah satu penulis buku Antologi Jalan Juang Para Pemenang. Murti memiliki beragam prestasi, di antaranya menjadi kandidat Kartini Millenial Award Provinsi Sumatera Selatan 2019, The Most Dedicated Student In Social 2017 dan 2018, dan Aktivis Perempuan Sriwijaya 2018. Murti bermimpi membangun Rumah Sakit yang memiliki asuransi bagi kelompok duafa agar tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis dengan value kekeluargaan dan terstandar K3.

  • Ghofur Hariyono

    Sebagai seorang perawat, Pemuda kelahiran Sampang, 2 Februari 1990 ini mempunyai minat di bidang pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Menyelesaikan studi Sarjana Ilmu Keperawatan Universitas Airlangga dan Magister Hukum Kesehatan Universitas Gadjah Mada, pemuda asal Jawa Timur ini mempunyai pengalaman sebagai peneliti kesehatan dan pernah bertugas di 4 Kabupaten/Kota Provinsi Riau sebagai Konsultan Distrik Kampanye dan Introduksi Imunisasi Measles Rubella (MR), Expanded Programme on Immunization, World Health Organization (WHO), Indonesia.

    Berbekal pengalaman pendampingan teknis sebagai petugas imunisasi puskesmas dalam pemberian imunisasi Measles Rubella di posyandu dan sekolah dasar, perawat yang tertarik bekerja di tengah masyarakat ini bergabung dengan Tim Pencerah Nusantara untuk mengupayakan pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Puskesmas Tanjung Priok, Jakarta Utara. Melalui Pencerah Nusantara, ia ingin menerapkan ilmu keperawatan kesehatan komunitas yang telah dipelajari dan menambah pengalaman baru di bidang kesehatan masyarakat sebagai modal mewujudkan impian dan cita-citanya menjadi Dosen Keperawatan.

  • Andre Patar Saroha Situmorang

    Sebagai seorang dokter, Andre percaya bahwa kesehatan adalah hak semua orang. Pria berdarah Batak ini lahir di Bandung pada 23 Agustus 1994. Selepas menyelesaikan pendidikan Kedokteran di Universitas Sumatera Utara, Andre bergabung dengan Yayasan Obor Berkat Indonesia sebagai relawan cepat tanggap gempa Lombok. Ia sempat mengabdi di Rumah Sakit Bakti Timah Karimun, Kepulauan Riau dan Puskesmas Tanjung Batu dan RSUD Buluye Napoae Moutong, Sulawesi Tengah.

    Kesempatan mengabdi menyadarkan Andre bahwa masih banyak wilayah di Indonesia yang tidak dapat mencicipi pelayanan kesehatan. Hal ini mendorongnya mengikuti program Pencerah Nusantara COVID-19. Andre yakin bahwa inti pelayanan kesehatan yang komprehensif adalah beban tugas pelayanan kesehatan primer. Dengan menyokong pelayanan kesehatan primer, Andre percaya telah meletakkan fondasi yang kuat untuk membangun Indonesia yang lebih sehat.

  • Mepsa Putra

    Putra minang kelahiran Nagari Talu, 05 Februari 1993 ini adalah seorang perawat lulusan Universitas Andalas. Semasa kuliah Mepsa pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur BEM F.Kep UNAND, Ketua Umum IMAKEP (Ikatan Mahasiswa Keperawatan) Sumatera Barat, serta aktif di ILMIKI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia). Ia juga pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Keperawatan tahun 2014 dan delegasi mahasiswa terbaik nasional dalam ajang Ners Vaganza Nasional 2015.

    Sebelumnya, Mepsa pernah menjadi Pencerah Nusantara angkatan VI yang bertugas di Mamuju Utara. Keterbatasan akses dan kesenjangan di wilayah penempatan itu mendorongnya untuk bergabung kembali menjadi Pencerah Nusantara COVID-19. Mepsa percaya Pencerah Nusantara merupakan wadah terbaik untuk melihat Indonesia lebih dekat. Baginya, hidup bukan masalah apa didapat, namun apa yang bisa kita beri dan syukuri di setiap prosesnya.

  • Dewi Agustina Wati

    Dewi adalah seorang perawat asal Jawa Tengah. Perempuan kelahiran 24 Agustus 1995 ini ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat dengan memutus rantai penularan COVID-19 melalui penguatan layanan kesehatan primer dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini mendorong Dewi bergabung dengan tim Pencerah Nusantara COVID-19.

    Semasa menjalani pendidikan Keperawatan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, wanita yang menyukai kegiatan pengabdian masyarakat ini sempat terpilih menjadi salah satu dari lima delegasi UKESMA (Unit Kesehatan Mahasiswa) UGM untuk melakukan pengabdian di Karimunjawa, Jawa Tengah. Dewi juga sempat terlibat dalam proyek pengabdian masyarakat di Lombok, NTB, dan menjadi relawan KagamaCare di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah.

  • Anita Siti Fatonah

    Anita Siti Fatonah adalah seorang ahli kesehatan masyarakat yang percaya bahwa kesehatan adalah kunci kesejahteraan masyarakat. Ini sejalan dengan visi dan misi Pencerah Nusantara untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan kualitas pelayanan kesehatan primer. Dengan minat pada ilmu Epidemiologi, wanita kelahiran Bandung, 23 Mei 1996, ini yakin dapat berkontribusi untuk menyehatkan masyarakat melalui program Pencerah Nusantara COVID-19.

    Alumni lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini aktif berorganisasi. Ia pernah aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Epidemiology Student Association (ESA). Melalui Pencerah Nusantara COVID-19 ia percaya penyebaran COVID-19 bisa diputus melalui upaya penguatan puskesmas.

  • Deni Frayoga

    Deni lahir di Tasikmalaya, 5 Desember 1993. Selepas menyelesaikan pendidikan di jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Setelah menyelesaikan studi, Deni tergabung ke dalam tim riset etnografi Balitbang Kementerian Kesehatan untuk melakukan penelitian etnografi kesehatan di pedalaman Dayak Sepauk, Kalimantan Barat. Pengalaman melihat kesenjangan akses kesehatan inilah yang mendorongnya terlibat dalam Pencerah Nusantara.

    Sebelumnya, Deni sempat mengabdi sebagai Pencerah Nusantara di wilayah Mamuju Utara selama setahun. Usai masa tugas Pencerah Nusantara, Deni terlibat dalam Program Sekolah Sehat dan Nyaman (PSSN) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, dan setelahnya menjadi Tim Aksi Bergizi UNICEF Indonesia dan SEAMEO RECFON di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Deni terpanggil mengikuti program Pencerah Nusantara COVID-19 kembali untuk memberdayakan masyarakat melalui penguatan puskesmas. Melihat pengalaman dan kapasitasnya, ia dipercaya sebagai Ketua Angkatan Pencerah Nusantara COVID-19.

  • Priska Natasya

    Priska Natasya adalah seorang ahli gizi yang percaya bahwa sesuatu yang berasal dari masyarakat harus memberi dampak pada masyarakat. Usai menyelesaikan studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietika dari Poltekkes Kemenkes Bandung, Priska langsung mengabdikan diri sebagai fasilitator keamanan pangan desa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Priska percaya bahwa tindakan promotif dan preventif adalah upaya penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

    Bermodalkan keterampilan komunikasi, dara kelahiran Bandung 15 Agustus 1997 silam ini gemar menyampaikan edukasi gizi kepada masyarakat. Di sela kesibukannya sebagai tenaga kesehatan, Priska juga memproduseri podcast tentang informasi kesehatannya sendiri. Selama penugasan sebagai Pencerah Nusantara COVID-19 Priska akan berfokus menginisiasi perilaku hidup bersih dan sehat dan mengajak masyarakat terlibat dalam gerakan masyarkat sehat untuk mencegah penyebaran COVID-19.

  • Eka Putri Puspita Aryanti

    Sebagai seorang bidan, Eka pernah bertugas sebagai bidan dalam Tim Pencerah Nusantara Angkatan VI di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Ia percaya bahwa pelayanan kesehatan primer merupakan ujung tombak penanganan kesehatan di Indonesia, khususnya dengan berfokus pada tindakan penguatan komunitas. Perempuan kelahiran 3 Agustus 1995 yang memiliki hobi solo traveling ini tertarik dalam penanganan pelayanan kesehatan berbasis gender dan ingin mengimplementasikannya di pelayanan kesehatan primer.

    Eka merupakan lulusan berprestasi dan peringkat pertama dari STIKES Jendral Achmad Yani, Cimahi. Eka yang juga tergabung dalam Bidan Inisiator Indonesia ini, di lokasi penempatannya nanti ia akan berfokus pada upaya penguatan komunitas, pengawasan komunitas, dan penguatan kerja sama antar-pemangku kepentingan dalam penanganan COVID-19 secara komperhensif.

  • Andhita Nur Nina

    Andhita Nur Nina, akrab dipanggil Ditha, adalah seorang tenaga kesehatan masyarakat asal Jakarta. Perempuan kelahiran 1996 ini memiliki kesadaran tinggi tentang kesenjangan akses kesehatan di Indonesia. Berawal dari keresahan itu, wanita lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini bergabung dalam gerakan Fight Corona Together untuk mengedukasi masyarakat, menyalurkan 10.000 masker dan 1000 hand sanitizer serta 10.000 pamflet edukatif kepada kelompok rentan, seperti pedagang, satpam, maupun petugas pelayanan publik.

    Dengan latar belakang ilmu kesehatan, Ditha ingin berkontribusi menekan jumlah kasus positif COVID-19. Berdasar komitmen itu, ia mengambil peran menjadi Pencerah Nusantara COVID-19. Bagi Dhita bergabung sebagai Pencerah Nusantara COVID-19 bersesuaian dengan impiannya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer di Indonesia.