Siapa Sajakah Para
Pencerah Nusantara!

Pencerah Nusantara tidak akan dapat menyelesaikan semua persoalan kesehatan bangsa, tapi akan memercikkan semangat perubahan yang diharapkan dapat menggerakkan bangsa ini untuk bergerak bersama menuju Indonesia sejahtera.

  • Ari Saadah Az Zahro

    Gadis kelahiran Kebumen, 5 Juli 1992 ini adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ari Saadah Az Zahro yang kerap dipanggil Ari, mendapatkan gelar Ners di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) 2015. Ketertarikannya di bidang sosial dan volunteer, membawanya menjadi bagian dari KKN UI 2012 di daerah Kepulauan Karimata, Kalimantan Barat. Hal tersebut yang membuka matanya untuk berkontribusi lebih pada bidang kesehatan di daerah-daerah kepulauan dan tertinggal di Indonesia, sehingga Pencerah Nusantara merupakan wadah yang tepat bagi Ari untuk mewujudkan cita-citanya.

    Cita-citanya untuk mengadakan layanan kesehatan jiwa di setiap puskesmas, membuatnya aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan di kampusnya, seperti BEM FIK UI, FPPI FK UI dan Bedah Kampus UI 2014. Ari memiliki prinsip bahwa saat orang lain bisa melakukan sesuatu maka ia juga pasti bisa untuk melakukannya

  • Firdha Faozan

    Firdha Faozan lahir pada tanggal 7 Mei 1993 di Cimahi, Bandung. Anak bungsu keturunan Arab-Sunda ini pun mampu mencetak prestasi sebagai wisudawati terbaik profesi kebidanan tahun 2014 dengan IPK 3.78 di Stikes Jenderal Achmad Yani, Cimahi. Ia juga aktif mengikuti kegiatan organisasi saat kuliah, seperti menjadi wakil ketua BEM dan menjadi Duta Mahasiswa Cimahi dan Jawa Barat pada tahun 2013. Profesi yang dimiliki saat ini menjadi keyakinan dirinya bahwa ia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. Hal tersebut yang menjadi alasan bagi dirinya untuk bergabung menjadi Pencerah Nusantara.

    Keinginannya untuk memulai aksi nyata dalam membantu orang-orang yang membutuhkan, Firdha buktikan dengan bergabung bersama Pencerah Nusantara. Menjadi bagian dari Pencerah Nusantara adalah tempat terbaik, dan Firdha juga bertekad untuk memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai paradigm sehat di wilayah Aceh Selatan. Profesi bidan adalah profesi yang selama ini didoakan dan diimpikan oleh ibu dan almahrum ayah, dan ia akan membuat kedua orangtuanya bangga dengan profesi yang ia miliki sekarang.

  • Shofia Aji Hidayatillah

    Perempuan kelahiran Kudus, 29 Januari 1993 adalah lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro. Shofia lulus pada tahun 2015 dengan predikat Cum Laude. Ia pernah meraih peringkat 6 Mawapres FKM Undip 2015 dan penerima beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) Kemenristekdikti. Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi Penalaran Ilmiah Research Club (PIRC) FKM Undip dan menjabat sebagai wakil direktur.

    Shofia meraih juara II se-Nasional dalam Lomba Kreativitas Pangan Nusantara, Finalis PKM-M Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-28 dan pernah terjun di masyarakat dalam Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Undip di desa Bumirejo, Mungkid, Magelang tahun 2015. Motivasi utama Shofia bergabung menjadi Pencerah Nusantara adalah untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman saat kuliah untuk berkontribusi di masyarakat serta ingin mengenal dan mencintai Indonesia dengan sudut pandang yang berbeda. Setelah program Pencerah Nusantara 4, Shofia berharap bisa melanjutkan studi Pascasarjana dengan beasiswa serta berkontribusi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

  • Achmad Mawardi Shabir

    Akrab dipanggil Wawan, pemuda ini merupakan lulusan S1 Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia. Meskipun latar belakangnya bukan berasal dari bidang ilmu kesehatan, tapi ketertarikannya akan dunia kesehatan membuat ia banyak mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, salah satunya survei kesehatan anak dan ibu di beberapa kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Pengalaman yang pernah ditemuinya saat berada di tengah masyarakat dan peristiwa angka kematian ibu di Indonesia yang ditemukan masih tinggi, hatinya terdorong untuk mendaftarkan diri sebagai Pencerah Nusantara

    Ia berpendapat bahwa kesehatan di Indonesia bukan menjadi tanggungjawab tenaga kesehatan saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua orang. Semangat yang dimilikinya sangat besar dan ia berharap dapat berkontribusi langsung dalam perubahan kesehatan yang lebih baik. Ia mempunyai cita-cita menjadi seorang peneliti dan melanjutkan pendidikan di bidang public health law.

  • Fenny Hendri Razak

    Namanya Fenni Henrizal, biasa dipanggil Hendri, Fenni, atau Abu. Lahir di sebuah desa pesisir di Aceh Selatan, dan baru saja memasuki usia yang ke 26 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara ini memulai pendidikan dari SD hingga SMP di kampung, kemudian melanjutkan sekolahnya pada SMA unggulan di Ibu Kota Kabupaten dan diterima sebagai mahasiswa pendidikan kedokteran pada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) tahun 2007. Pada masa perkuliahan ini, dia mulai banyak berkecimpung di dunia organisasi. Pria ini pernah tercatat dalam delapan organisasi mulai tingkat kampus hingga nasional, kepemudaan dan keagamaan.

    Pria yang juga pernah bekerja di RSU Yulabbi Away dan di beberapa puskesmas di Aceh Selatan ini, telah mengikuti beberapa pelatihan, salah satu contohnya adalah Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) pada tahun 2015. Keinginan untuk membantu merubah perilaku masyarakat terutama soal PHBS, membuatnya sadar bahwa mustahil bisa melakukannya sendiri. Fenni berharap, PN merupakan jalan terbaik untuk melakukannya. Mimpi Fenni ke depan adalah ingin menjadi Spesialis bedah tulang dan mendirikan sebuah foundation bernama Razak Foundation.