Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga tahun 2014, terdapat ketimpangan rasio jumlah dokter terhadap penduduk di Indonesia. Diperkirakan 2.538 penduduk ditangani oleh seorang dokter, sedangkan menurut WHO, 1 dokter idealnya melayani 2.500 penduduk saja. Dari 95.976 dokter yang teregistrasi dan bekerja pada sektor kesehatan di Indonesia, hanya 17.507 dokter bekerja di Puskesmas, sehingga, diperkirakan setiap Puskesmas rata-rata memiliki 1-2 dokter. Sedangkan, tercatat bahwa hanya 9,8% Puskesmas masih kekurangan atau bahkan tidak memiliki dokter akibat ketidakmerataan distribusi tenaga dokter di Indonesia.

Pencerah Nusantara adalah program berbasis tim kesehatan yang dikelola oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan primer di daerah tertinggal di Indonesia. Selama satu tahun, tim yang terdiri dari beberapa profesi ini berkolaborasi bersama Puskesmas dalam menciptakan inovasi program kesehatan yang berkelanjutan. Di tahun keenam pelaksanaannya, Pencerah Nusantara akan mengirimkan lima dokter, tujuh bidan, tiga Perawat, dan sebelas tenaga kesehatan masyarakat ke delapan wilayah di Indonesia.

Salah satu dari lima dokter Pencerah Nusantara yang terpilih dari 32 dokter yang mendaftar adalah dr. Edo Prabudi Thamrin. Dokter muda lulusan Universitas Indonesia ini memiliki tekad yang kuat untuk mengabdikan diri kepada nusantara. “Sebagai dokter, secara awam masyarakat taunya dokter itu sebagai klinisi saja yang kerjanya hanya di ruangan lalu bertemu pasien dan memberikan pengobatan. Nah, pola seperti ini juga yang ada di jalur lain, seperti PTT atau kontrak. Sedangkan, bagi saya pribadi, menjadi dokter itu tentang meningkatkan taraf kesehatan masyarakat setinggi-tingginya,” kata Edo kepada tim CISDI pada saat menjalani pelatihan Pencerah Nusantara.

Lebih dari sekadar ingin mengobati masyarakat, perannya sebagai dokter diartikan lebih dalam. Bagi Edo, dokter tidak hanya berkewajiban untuk melakukan layanan kuratif atau mengobati saja, tetapi juga mencegah agar masyarakat tidak terjangkit penyakit. Ia ingin mengobservasi kondisi lingkungan tempat pasiennya hidup. Menurut Edo, penyakit tidak tiba-tiba datang, tetapi terdapat faktor lain yang dapat menimbulkan penyakit. Biasanya sumber penyakit tersebut terdapat di lingkungan tempat pasien paling banyak menghabiskan waktunya.

Pria kelahiran Jakarta ini berpendapat bahwa untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, dokter memiliki peran krusial dalam melakukan pendekatan-pendekatan strategis, seperti penguatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), atau advokasi keterlibatan lintas sektor dalam mencari solusi atas tantangan kesehatan yang ada di masyarakat. Meyakini visi tersebut, Edo bergabung dengan Pencerah Nusantara, untuk dapat berkontribusi lebih banyak dalam memperkuat layanan primer dengan menerapkan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang profesi dan pendekatan.

Meskipun Edo sudah pernah mengabdi kepada masyarakat melalui program internship di Kabupaten Sorong, namun Edo menganggap pengalamannya belum cukup untuk mendalami inovasi kesehatan. “Selama menjalani program tersebut, saya dilepas oleh pembimbing. Bahayanya, kalau dokter internship ini tidak menentukan target apa yang mereka ingin capai, pada akhirnya mereka hanya bekerja seperti biasa saja. Padahal tujuan awal program internship ini sangat besar, yaitu untuk menguatkan kompetensi dokter umum.” Berdasarkan pengalamannya selama internship, Edo memandang Pencerah Nusantara dapat menjadi wadah yang tepat baginya untuk memperkuat layanan primer dengan target yang lebih terukur dan menyelesaikan masalah kesehatan dari akar rumput.

Dokter yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (BEM FK UI) ini sangat memahami bahwa penting bagi rekan sejawatnya untuk memperluas pandangannya bahwa dokter tidak hanya dapat bekerja di klinik atau rumah sakit sebagai dokter spesialis. Dengan memperbaiki layanan kesehatan primer, sesungguhnya dokter akan dapat mengatasi masalah kesehatan yang lain. Pemikiran ini terinspirasi dari pidato yang disampaikan oleh Prof. Akmal Taher, Staf Khusus Menteri Kesehatan RI bidang Peningkatan Pelayanan sekaligus penasihat CISDI yang juga pernah menjabat sebagai sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. “Di RSCM pun saya pernah dengar pidato Prof. Akmal Taher yang mengatakan bahwa di Belanda itu 80% masalah kesehatan bisa selesai dengan perbaikan layanan primer. Jadi, sebenarnya layanan primer di Indonesia ini juga potensinya sangat besar untuk dapat ditingkatkan.”

Ketika ditanya oleh tim CISDI mengapa Edo bersikeras untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer di masyarakat, ia menyatakan bahwa dirinya memang memiliki misi hidup untuk menyediakan pelayanan kesehatan terbaik untuk daerah-daerah tertinggal. Ia menyadari bahwa Pencerah Nusantara merupakan program yang sejalan dengan misi hidupnya tersebut. “Saya terinspirasi oleh dr. Paul Farmer di Amerika yang mau berkontribusi untuk masyarakat Haiti.  Dr. Farmer berjasa dalam mengentaskan masalah kesehatan di sana yang tadinya sangat banyak namun saat ini sudah berkurang secara signifikan. Terdapat kemajuan juga berupa pembangunan rumah sakit pendidikan berstandar internasional yang memiliki fasilitas untuk melakukan penelitian terhadap resistensi antibiotik dengan banyak cabang mobile clinic.”

Lebih menariknya lagi, ternyata Edo memiliki rencana untuk mengabdi kembali di Nusa Tenggara Timur, khususnya di kecamatan Amanatun Selatan selepas masa baktinya sebagai Pencerah Nusantara. Ia ingin melanjutkan proyek bersama dosennya untuk mengembangkan klinik berbasis komunitas di daerah tersebut. Harapannya, klinik yang akan didirikannya dapat dipakai sebagai sarana pendidikan bagi dokter co-ass, dokter yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), serta peserta program rural medicine dokter layanan primer. “Kalau bisa dibangun fasilitas kesehatan yang juga nyaman untuk tenaga kesehatannya. Saya yakin keberadaan fasilitas kesehatan yang nyaman bias meningkatkan motivasi dan mendorong produktivitas dan tenaga kesehatan khususnya para dokter lainnya untuk mengabdi di daerah. Nanti kalau di NTT sudah bagus, mungkin proyeknya dapat dikembangkan ke daerah-daerah lain yang perlu didorong penguatan layanan kesehatan primernya seperti Sorong,” paparnya.

Sebagai organisasi yang fokus terhadap pembangunan Indonesia dengan menciptakan paradigma sehat, CISDI berharap semakin banyak lagi pemuda-pemudi Indonesia yang memiliki perspektif untuk membangun Indonesia dengan segala inovasi dan kreativitasnya, seperti yang dilakukan oleh salah satu anggota Pencerah Nusantara Angkatan 6 tersebut.

Penulis: Arina A. Hanny

Editor: Yeyen Yenuarizki