Kondisi persediaan pangan yang cukup semestinya menjadi sebuah keuntungan yang dapat memenuhi kebutuhan  konsumsi pangan di masyarakat. Bahkan, sudah seharusnya pangan yang melimpah bisa menjadikan status gizi masyarakat menjadi lebih baik. Apalagi jika didukung oleh tingkat pengetahuan gizi yang cukup di masyarakat. Namun, apakah persediaan pangan yang cukup memang dapat memberikan asupan gizi yang memadai untuk masyarakat? 

Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan salah satu dari lima kabupaten yang berada di Sultra, yang berhasil mendapatkan predikat lumbung beras. Predikat tersebut didapatkan sejak tahun 1995. Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muhammad Nasir,Kabupaten Konawe merupakan lumbung beras yang mengalami surplus di mana kontribusinya mencapai kurang lebih 35% dari produksi padi di provinsi. 

Pada tahun 2015, Konawe menjadi penyumbang produk padi terbanyak, yakni 35.44% dari total produksi beras di 17 kabupaten / kota Sultra. Ketersediaan pangan yang cukup di Onembute, sangat mendukung ketahanan pangan yang menjadi pilar penting dalam mewujudkan target pembangunan berkelanjutan. Sesuai dengan prinsip ketahanan pangan menurut WHO yaitu ketersediaan, akses dan pemanfaatan. Jika pangan sudah tersedia, aksesnya pun ada, tetapi jika pemanfaatannya tidak sesuai maka ketahanan pangan pun tidak akan tercapai. 

Bank gizi adalah sebuah inovasi dari UKM pengembangan di Puskesmas Onembute. yang  terbentuk dari berbagai macam sektor seperti pengurus kecamatan, BKKBN, Balai Penyuluh Pertanian (BPP), serta pegawai puskesmas Onembute sendiri. Keterlibatan berbagai sektor dalam struktur pengurus, dimaksudkan agar tercapai kolaborasi lintas sektor, yang menurut Gerakan Nasional Percepatan Gizi dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013, merupakan upaya sensitif yang menyumbang sekitar 70 persen dalam pengentasan masalah gizi. Melihat wilayah kerjanya masih terdapat balita gizi kurang, meskipun prevalensinya masih dibawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah, tetapi Bank Gizi bercita-cita mengentaskan malnutrisi di Onembute. Kepala Balai Penyuluh Pertanian Onembute sekaligus Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Bank Gizi Onembute, Rusdi, menyatakan, ”Bank Gizi ingin agar Onembute bebas malnutrisi. Apalagi didukung oleh kondisi pangan yang ada di Konawe dan juga Onembute dimana ketersediaannya bisa dikatakan cukup bahkan surplus”. Meskipun untuk mengatasi masalah gizi kurang tidak hanya dari faktor kecukupan persediaan pangan, melainkan dibutuhkan pola asuh anak yang memadai dari orang tua juga dari sanitasi air yang harus bersih dan lain sebagainya. Setidaknya berawal dari ketersediaan pangan yang cukup ditambah dengan pemanfaatan pangan yang benar, hal tersebut dapat menunjang penurunan angka gizi kurang dilihat dari aspek ketersediaan pangan. 

Dalam menjalankan tujuannya untuk mengurangi angka gizi kurang, berbagai upaya telah dilakukan Bank Gizi. Salah satunya, melalui revitalisasi Posyandu sebagai pusat upaya kesehatan berbasis masyarakat. Selama ini, peran lintas sektor terutama peran kepala desa dan juga aparat sangat membantu meningkatkan angka D/S (Balita Datang Posyandu/Sasaran)  setiap Posyandu yang ada di Onembute. 

Selain itu, Bank Gizi juga berupaya agar masyarakat berfokus pada pemanfaatan pangan dan mempersiapkan berbagai PMT berbasis pangan lokal kepada balita. Sampai sekarang, hampir 13 Posyandu menyediakan PMT lokal untuk balitanya. Pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. Sesuai dengan kajian yang dilakukan oleh petugas gizi di Onembute, penyebab gizi kurang sebagian besar karena pola asuh orang tua yang salah disebabkan karena ketidaktahuan ibu balita dalam memberikan makanan yang sehat sesuai kaidah gizi seimbang bagi balitanya. Selama ini, Bank Gizi sudah melakukan edukasi kepada Ibu-ibu balita tentang pemanfaatan bahan pangan lokal untuk balita. Pangan lokal yang terdapat di Onembute selain beras diantaranya adalah sagu, ubi, kacang hijau dan jagung. Pangan lokal tersebut mengandung gizi yang tinggi untuk pertumbuhan balita. 

Saat ini, Bank Gizi sedang merancang pembentukan Bank Gizi Desa yang berfungsi sebagai kaki tangan Bank Gizi Kecamatan. Sudah ada 8 desa yang dibentuk, sisa 4 desa lagi. Nantinya, di setiap desa akan terdapat 2-4 orang kader gizi untuk memantau status gizi semua balita yang ada di desa, juga melakukan edukasi pada para orang tua. Peran kader gizi diharapkan dapat membantu penanggulangan angka gizi kurang dan gizi buruk di Kecamatan Onembute.


Penulis : Ulfatul Karomah  - Pencerah Nusantara