Pagi ini semburat biru mulai tampak, mencoba membangunkan manusia yang lelap dalam tidurnya. Hawa sejuk yang telah terasa semenjak malam menghasilkan embun-embun yang menggelantung di dedaunan. Burung-burung kecil bersenandung merdu di halaman rumah Eliz, seorang perempuan berumur sekitar 30 tahunan yang tengah hamil. Hari ini adalah hari yang penting bagi Eliz, tepat tanggal 12 Agustus 2016 akan diadakan posyandu di desanya. Di Desa Kumapo Kecamatan Onembute pada tanggal 12 tiap bulannya rutin diadakan posyandu. Hari ini hari pertama dia akan memeriksakan kandungannya. Ingin sekali Eliz mengetahui keadaan janin mungil yang dikandungnya. Senyumnya terkembang memandangi perutnya.

Berbeda dengan kebanyakan rumah di Desa Kumapo, rumah Eliz terletak di dalam kebun yang jauh dari pemukiman penduduk. Rumahnya dikelilingi oleh kebun merica. Di sekitar rumahnya hanya ada 2 tetangga yang menetap di rumah kebun. Walaupun jarak jalan raya ke rumahnya hanya sekitar 1 km namun medan yang dilalui cukup menyulitkan. Tanjakan dan turunan yang curam harus dilewati beberapa kali. Batu-batu sebesar kepalan tangan orang dewasa berserakan di jalan setapak menuju rumah Eliz. Namun bagi Eliz hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memeriksakan kehamilannya yang sudah menginjak 24 minggu, dia tetap tersenyum menjalani harinya.

Cahaya matahari menembus dedaunan. Padatnya pepohonan di sekitar rumah Eliz disertai semak belukar menambah kesuraman yang selalu mengiringi setiap hutan. Bila dibandingkan luas hutan dan luas kebun, jelas lebih luas hutan. Tak heran suara serangga hutan lebih riuh dibandingkan suara manusia. Setelah menyiapkan sarapan untuk keluarganya, Eliz bersiap-siap pergi ke Posyandu. Jam dinding menunjukkan pukul 07.30 WITA. Itu artinya Eliz harus memulai perjalanannya. Kali ini perjalanan Eliz akan bertambah berat selain karena kehamilannya, Eliz harus berjalan kaki sejauh 2 km untuk sampai di Posyandu. Sudah satu bulannya motor suaminya rusak. Namun hal itu tidak pernah memudarkan senyum di wajahnya yang manis.

Bisik angin kembali menggugurkan daun yang kering, embusannya selalu membuat hati menjadi sejuk. Embusan napas Eliz masih berasap, dia mulai melangkahkan kakinya menuju Posyandu. Disusurinya hutan dan kebun itu, selangkah demi selangkah. Pepohonan dirambati tanaman merica menghiasi di kiri kanan jalan setapak itu. Eliz yakin dirinya masih sehat dan kuat, merupakan hal yang mudah berjalan kaki 30 menit saja. Mungkin begitu yang sering dia ucapkan untuk menyemangati dirinya sendiri. Hawa hutan di pegunungan yang dekat dengan khatulistiwa tetaplah panas. Matahari begitu bersinar terang mengiringi langkah Eliz. Tak terasa dia telah berada di jalan raya. Dia kelelahan, peluh mengalir deras dari balik topi yang dikenakannya, namun semua itu dilupakannya. Terlalu cepat bila dia harus berhenti, Posyandu sudah tidak jauh lagi. 

Setelah 30 menit lamanya Eliz berjalan, kini dia telah sampai di Posyandu. Sebuah balai di samping jalan raya yang dijadikan Posyandu, terdapat beberapa kursi dan meja di tengahnya yang diduduki oleh kader dan tenaga kesehatan. Terdapat pula dacin menggantung di tengah pintu masuk. Tawa riang dan tangis para bayi dan balita bercampur menjadi satu. Maklum bulan Agustus adalah bulan sibuk bagi tiap-tiap Posyandu di seluruh Indonesia. Bulan imunisasi campak dan pemberian vitamin A serentak dilakukan di tiap Posyandu di seluruh Indonesia, tidak ketinggalan Posyandu di Desa Kumapo. Nampak bidan tengah sibuk di antara keramaian Posyandu. Eliz senang sekali bisa bertemu bidan. 

Tiba saatnya Eliz diperiksa, sumringah wajahnya ketika bidan memperdengarkan detak jantung janinnya. “Detak jantung janinnya normal Bu”, ucap sang bidan. Makin lebarlah senyum yang mengembang di wajah Eliz. Ini adalah kehamilannya yang ketiga. Dia berharap sekali janin yang dikandungnya sehat. Dari hasil pemeriksaan hamilnya yang pertama ini, bidan menyatakan bahwa semuanya dalam batas normal. Tidak lupa bidan memberikan tablet Fe untuk Eliz. Saat itu pula dia mendapatkan suntikan TT yang pertama di kehamilan ini. Tidak ada keluhan selama hamil yang terlontar dari mulut Eliz. Dia menjalani kehamilannya ini dengan senang walaupun periksa hamilnya bisa dibilang terlambat karena usia kehamilannya sudah 24 minggu. 

Setelah selesai periksa kehamilan, Eliz memulai perjalanan pulangnya. Napasnya pelan dan damai. Ketenangan merambati hatinya walau siang ini begitu terik. Wajahnya menunduk menatap perutnya yang sudah membuncit karena keberadaan janinnya. “Sehat terus ya anak Mama”, ucapnya lirih sambil mengelus penuh kasih sayang perut itu. Matahari masih dengan angkuh menebarkan sinarnya, tepat tengah hari Eliz sampai di rumahnya. Setibanya di rumah, diambil segelas air putih. Hilang sudah dahaganya. 

Kini langit biru itu bersemu jingga. Semburat jingganya menciptakan lukisan alam yang sangat indah. Di dalam rumahnya, Eliz merajut harapan dan impiannya. Eliz berasal dari suku Bugis, terlihat dari bangunan rumahnya yang merupakan rumah tinggi. Rumahnya berdindingkan papan kayu yang disusun sedemikian rupa dan masih menyisakan celah untuk angin masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada kamar di dalam rumah itu. Tempat tidurnya terlihat terlipat rapi ketika tidak digunakan. Mandi pun Eliz dan keluarga menggunakan tempat pemandian umum di rawa yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Untuk listrik, Eliz dan keluarga mengandalkan panel surya. Listrik dari PLN belum bisa diakses olehnya dan beberapa tetangganya yang hidup di tengah kebun, tepatnya di tengah hutan. 

Dengan penuh keterbatasan Eliz masih bisa bersyukur, tidak ada alasan untuk bersedih. Energi positif itulah yang pertama didapat ketika berbincang dengannya. Baginya kesehatan adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan untuknya dan keluarga yang selalu ia syukuri. Di tengah kehangatan keluarga kecilnya, terselip harapan untuk janin yang dikandungnya, semoga sampai persalinan kelak, dia dan janinnya dalam keadaan sehat. Kekhawatiran sempat muncul dalam hatinya mengetahui rumahnya tidak bisa diakses oleh mobil. Dikhawatirkan mobil ambulans akan kesulitan membawanya ke Puskesmas ketika bersalin kelak. Oh ya, di Kecamatan Onembute sudah dikenal dengan baik aturan kewajiban bersalin di Puskesmas. Bila terjadi persalinan di rumah maka bidan dan ibu yang melahirkan dikenakan denda. Hal ini efektif membuat para ibu untuk bersalin di Puskesmas. 

Untuk permasalahan Eliz, Puskesmas Onembute mempunyai solusi, yaitu Rumah Tunggu Kelahiran (RTK). Ibu hamil yang mendekati hari perkiraan lahir, bisa menggunakan fasilitas tersebut. Eliz bisa tinggal di RTK sambil menunggu hari persalinannya tiba. Kini Eliz masih bisa melewati hari-harinya tanpa rasa khawatir. Dia berjanji bulan depan akan datang lagi ke Posyandu. Dia sudah tidak sabar mendengar bagaimana kondisi bayinya. Selalu ada energi baru di tiap hembusan nafasnya. Eliz, energi positifmu akan selalu menyinari kami. 


* Artikel ini ditulis oleh Bidan Charity Hartika L.  (Pencerah Nusantara 4 Penempatan Puskesmas Onembute Kabupaten Konawe)