Sumbawa Barat, 16 Juni 2016 - Kapal penumpang yang saya naiki baru saja beranjak dari Pelabuhan Pototano di Sumbawa Barat menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok. Empat hari hanyalah waktu yang sebentar untuk saya belajar dari tim Pencerah Nusantara, namun waktu yang sebentar ini juga waktu yang berarti, waktu yang mencerahkan. Saya belajar, dari mereka, untuk berbagi, mengabdi, dan memberdayakan.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi tim Pencerah Nusantara di Pototano, Sumbawa Barat sebagai bagian dari Summer Fellowship saya dari Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University, kampus pengempu pendidikan saya saat ini. Bersama para Pencerah Nusantara (PN), saya belajar banyak, seperti mengisi kembali rasa rindu akan pengabdian kepada tanah air yang mungkin secara perlahan-lahan berkurang dikarenakan kesibukan pendidikan dan kemegahan kota besar di Amerika.

Tinggal beberapa hari bersama mereka membuat saya mengetahui keseharian dari aktivitas yang mereka lakukan. Keseharian aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan mereka ini secara perlahan menjadi kebiasaan saya pula, mulai dari bangun sahur pagi-pagi, lalu memulai beraktivitas pagi mengunjungi berbagai dusun untuk membantu Puskesmas Pototano mengadakan kegiatan posyandu. Tidak jarang pula kami berpapasan dengan penduduk dusun yang sedang berjalan ke kebun mereka. Terkadang, kami berhenti bermain dengan adik-adik kecil yang sedang berlarian di lorong-lorong desa.

Kesempatan saya berkunjung ke Pototano dapat dikatakan sebagai kedatangan di waktu yang tepat. Saat saya berkunjung, tim PN sedang memusatkan kegiatan mereka untuk melakukan beragam survei sebagai baseline assessment, untuk mengetahui potret situasi kesehatan masyarakat di daerah. Senang rasanya melihat teman-teman berbaur dengan masyarakat, menghadiri undangan buka bersama, sampai berbagi tips kesehatan di antara ibadah malam warga sekitar.

Ya, saya sungguh senang dapat merasakan pengabdian ini. Di Pototano, saya belajar bahwa bangsa kita memang bangsa yang besar, bangsa yang memiliki potensi sumber daya alam dan manusia yang melimpah, dan bangsa yang ramah serta gembira, namun ketimpangan masih ditemukan di mana-mana. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pembangunan infrastruktur dan teknologi. Permasalahan kesehatan di Sumbawa Barat juga sangat beragam dan masih sering dijumpai, seperti sebagian besar warga yang lupa membawa balita mereka ke Posyandu dikarenakan mereka enggan atau terlalu sibuk dengan pekerjaan sehari-harinya. Selain itu, banyak pula warga yang masih bingung akan pilihan layanan kesehatan yang tersedia, bingung dengan hak-hak yang mereka miliki sebagai pemakai BPJS, dan juga bingung dengan prosedur pelayanan kesehatan yang terkadang memang membuat sakit kepala. Namun secara perlahan-lahan sistem ini mulai terbenah, dimulai dengan banyaknya generasi muda di daerah yang berjuang untuk membenahi kekurangan ini, dan didukung pula dengan para Pencerah yang hadir untuk mendukung pembenahan ini.

Pencerah memang mencerahkan, setidaknya itu yang dilihat oleh pihak luar seperti saya. Kadang saya tersenyum mendengarkan obrolan bidan dan perawat di Puskesmas tempat PN mengabdi, yang menceritakan kerjasama yang dilakukan dengan para Pencerah. Saya turut senang mendengar cerita Ibu Kepala Puskesmas yang dengan bangganya bercerita dan memperkenalkan para Pencerah Nusantara kepada kolega dari Kecamatan sebelah. Beliau menyatakan perasaan senangnya karena memiliki lima pemikir baru, para generasi muda yang siap mengabdi dan membantu beliau. Bapak kepala desa pun tidak kalah senang dengan kedatangan para Pencerah. Beliau bahkan sudah memiliki panggilan akrab kepada setiap tim Pencerah. Beliau pula yang kerap mengundang para Pencerah untuk berbagi tips kesehatan kepada warga disela-sela ibadah malam pada bulan Ramadhan ini. Ilmu dan informasi yang tentunya sangat jarang didapatkan warga sekitar.

Para Pencerah Nusantara kini telah berbaur, tinggal, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Pototano. Mereka telah menjadi matahari yang siap mencerahkan masyarakat menuju perbaikan sistem kesehatan dan perbaikan sistem pembangunan secara keseluruhan di daerah tersebut. Sesungguhnya, hal-hal seperti ini lah yang membuat saya bangga dan optimis akan pembangunan Indonesia yang lebih baik. Bahwa generasi muda, seperti saya, dapat melakukan perubahan di mana saja. Bahwa kolaborasi antara generasi muda, seperti yang dicontohkan oleh Pencerah Nusantara, adalah ‘resep manjur’ untuk pembangunan tanah air. Bahwa mengubah tidak dapat dilakukan dengan terburu-buru, dan mengubah yang berkelanjutan harus dilakukan secara perlahan-lahan dengan pendekatan langsung kepada masyarakat sekitar, layaknya yang dilakukan oleh para Pencerah Nusantara.

Sekali lagi, saya sungguh senang bisa belajar banyak dari mereka, bisa menambah rasa ingin mengabdi kepada negeri, rasa yang pelan-pelan terkikis karena ditelan oleh kenyamanan kota besar. Terima kasih Pencerah Nusantara, bangsa ini pasti bangga akan pengabdian kalian!

Penulis: Angga Dwi Martha