Gambar hanyalah ilustrasi kegiatan

Memiliki gigi yang lengkap (tidak ompong) dan rapi hingga usia tua merupakan keinginan setiap orang. Sebelum adanya perkembangan teknologi kedokteran gigi yang canggih seperti saat ini, kondisi gigi yang hilang (ompong) biasanya diganti dengan menggunakan gading ikan paus atau tulang kuda nil yang diikat dengan kawat yang terbuat dari emas. Hal ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat selalu menginginkan gigi yang terlihat sempurna dan lengkap.

Saat ini, ilmu kesehatan gigi dan mulut tentunya telah mengalami kemajuan yang pesat. Dengan adanya perkembangan ilmu kesehatan gigi dan mulut, seorang dokter gigi mampu mempertimbangan perawatan yang akan diberikan kepada pasien dari segala aspek, baik dari fungsi pengunyahan, estetika, fonetik dan sebagainya, secara aman, cepat dan tepat.

Namun, masih banyak masyarakat yang melakukan perawatan gigi dan mulut di tukang gigi. Dalam empat bulan terakhir, terdapat tujuh pasien di Puskesmas Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, berkunjung dengan keluhan akibat gigi palsu yang dibuat oleh tukang gigi. Keluhan ini bervariasi, dari mulai yang paling ringan seperti halitosis (bau mulut), sariawan terus menerus, hingga pendarahan gusi yang tidak kunjung selesai.

Kecenderungan masyarakat untuk melakukan perawatan gigi di tukang gigi dipengaruhi oleh anggapan bahwa biaya perawatan yang jauh lebih murah, tidak perlu menunggu lama, dan tidak perlu bolak balik karena terkadang tukang gigi bisa dipanggil ke rumah. Padahal kegiatan yang dilakukan tukang gigi bertentangan dengan kewenangan pekerjaan profesi yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.339/1989 dan UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran.

Dalam implementasinya, masyarakat menghadapi kondisi yang berbeda-beda dalam memperoleh akses kesehatan. Fleksibilitas layanan yang diberikan oleh tukang gigi kepada pasiennya menunjukkan bahwa keinginan untuk memberikan pelayanan lebih baik menjadi daya tarik bagi pasien. Aspek ini lah yang dapat ditiru oleh tenaga kesehatan profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan. Di saat yang bersamaan, penguatan edukasi kesehatan gigi dan mulut oleh dokter gigi masih perlu dilakukan. Dengan edukasi yang lebih dapat diterima oleh pasien dan keluarga, masyarakat diharapkan mampu memiliki pemahaman dasar tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga kegiatan preventif dapat dilakukan secara mandiri. 

Salah satu inovasi Pencerah Nusantara bersama Puskesmas Poto Tano adalah mengintegrasikan kelas edukasi kesehatan gigi dan mulut dengan kelas Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Mengingat demografi pasien yang mengalami masalah gigi dengan tukang gigi rata-rata berusia paruh baya, tim Pencerah Nusantara melihat bahwa edukasi ini perlu dilaksanakan secara konsisten. Memberikan informasi terkait kesehatan gigi dan mulut melalui kelas terintegrasi menjadi inovasi dalam mendekatkan akses inormasi kesehatan gigi dan mulut sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan upaya preventif menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dengan menyadari pentingnya perawatan kesehatan gigi dan mulut, semakin kecil peluang pasien lansia dan keluarganya mengalami keluhan gigi dan mulut di masa yang akan datang.

----------------------------------------------------------------------------------------------

 Pencerah Nusantara telah melakukan upaya kolaboratif bersama puskesmas di 16 penempatan di seluruh Indonesia. Setiap tahunnya, Pencerah Nusantara mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan melalui gerakan sosial kepemudaan berbasis tim untuk memperkuat pelayanan kesehatan primer. Tahun ini, pendaftaran Pencerah Nusantara akan dibuka pada tanggal 22 Oktober 2017. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.pencerahnusantara.org.


Penulis : drg. Fatmasari Purba (Tim Pencerah Nusantara : Kab. Sumbawa Barat)