Masa-masa menyongsong Hari Gizi Nasional menjadi momentum yang paling tepat untuk bicara tentang permasalahan gizi kurang yang masih kerap diderita oleh anak di Indonesia. Faktanya, prevalensi gizi kurang menurun hanya 0,1% dari 13,9% menjadi 13,8% dalam kurun waktu lima tahun (Riskesdas, 2013, 2018). Hal ini menunjukkan perlu adanya penguatan dan percepatan upaya perbaikan gizi nasional.

Narasi RPJMN Tahun 2020-2024 menyebutkan penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) menjadi arah kebijakan dan strategi kesehatan untuk mempercepat perbaikan gizi masyarakat. Selain itu, upaya ini juga dilakukan dalam rangka meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta.

Pencerah Nusantara hadir dan memberikan bukti nyata perwujudan upaya penurunan prevalensi gizi kurang melalui peningkatan pelayanan kesehatan dasar. Di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Pencerah Nusantara berkolaborasi bersama puskesmas setempat untuk mengentaskan masalah gizi kurang Kolaborasi ini menunjukkan dampak yang cukup menggembirakan di mana  kasus gizi kurang menurun dari 24% menjadi 17,2% selama tiga tahun masa pengabdiannya (Survei Kesehatan Masyarakat, 2016, 2019).

Tim Pencerah Nusantara menilai salah satu penyebab gizi kurang ialah kurangnya asupan protein. Pemberian makanan pada balita pun hanya berupa karbohidrat tanpa protein dan zat gizi lainnya. Selama observasi awal, sumber pangan yang dapat memenuhi kebutuhan asupan gizi sebenarnya telah tersedia di daerah tersebut. Namun, masyarakat setempat masih belum memiliki pemahaman mengenai makanan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi balitanya.

Kurangnya asupan gizi juga diindikasikan oleh pola asuh yang belum optimal. Masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, bahkan ada pula bayi yang diberi makanan pendamping ASI (M-PASI) yang tidak diperbolehkan di usianya. 

Disinilah peran Posyandu menjadi sangat penting. Namun, sangat disayangkan  kemampuan kader dalam memberikan penyuluhan masih lemah sehingga upaya penyuluhan di Posyandu juga belum maksimal. Akibatnya, pengetahuan ibu mengenai kesehatan ibu dan anak masih kurang, termasuk pengetahuan tentang ASI Eksklusif. Padahal, pemberian ASI Eksklusif berkontribusi besar terhadap gizi anak.

Untuk menjawab tantangan-tantangan di atas, Puskesmas Bambalamotu bersama Pencerah Nusantara menginisiasi program Posyandu Terintegrasi Potensi Lokal (PITALOKA). Melalui program ini tenaga kesehatan di Puskesmas Bambalamotu bersama Pencerah Nusantara mengusung pendekatan improve, integrate, dan innovate untuk menyatukan potensi yang dimiliki oleh desa. PITALOKA mengupayakan perbaikan gizi dengan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Tidak hanya ibu balita dan keluarga, tetapi juga tenaga kesehatan, PKK, perangkat desa, hingga kader.

Kader Posyandu merupakan mitra yang dapat menjembatani tenaga kesehatan dalam menjangkau masyarakat. Peningkatan kompetensi kader Posyandu menjadi daya ungkit indikator keberhasilan Posyandu dalam mendukung perbaikan gizi anak. Semakin kuat potensi kader yang disertai dukungan pemerintah daerah, semakin kuat pula kapasitas ibu sebagai pemberi asupan gizi pada balita. Alhasil, cakupan ASI eksklusif meningkat dari 44,4% pada tahun 2016 menjadi 72,2% pada tahun 2019 (Survei Kesehatan Masyarakat, 2016, 2019).

Tentang Pencerah Nusantara

Selama tiga tahun lamanya, Pencerah Nusantara menyelenggarakan PITALOKA di Kecamatan Bambalamotu, Pasangkayu. Angkatan IV, V, dan VI memberikan kontribusi yang besar dalam mencapai keberhasilan program PITALOKA dari sudut yang berbeda.

Pencerah Nusantara angkatan IV melakukan assessment yang menjadi dasar pembentukan program. Intervensi yang diusung PITALOKA meliputi pelatihan kader, pelaksanaan Posyandu lima meja, dan pengembangan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Tidak hanya seputar program, angkatan ini juga berhasil mendapatkan kepercayaan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, sehingga isu gizi menjadi prioritas isu kesehatan di Pasangkayu.

Meneruskan warisan, Pencerah Nusantara angkatan V meningkatkan intensitas capacity building terhadap kader Posyandu dan tenaga kesehatan di Puskesmas. Kelas Ibu Balita (KIB) atau Mother Support Group (MSG) mulai dilaksanakan dengan tingkatan masalah gizi tertinggi.

Pada tahun 2017, diterbitkan “Panduan Menu PMT Posyandu Berbahan Dasar Pangan Lokal” untuk menjadi panduan menu makanan bagi balita sesuai umurnya dengan pemanfaatan pangan lokal yang dapat dengan mudah diakses di masyarakat. Menu yang ada dalam panduan ini berisi kumpulan resep PMT yang disusun berdasarkan ide dan kreasi para kader saat lomba cipta karya PMT lokal dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional tahun 2016 lalu.

Selain melanjutkan dari angkatan sebelumnya, angkatan ini juga melakukan studi etnografi yang mempelajari budaya setempat dan keterkaitannya dengan gizi. Hasil studi etnografi tersebut memudahkan pemetaan stakeholder kunci dalam meraih keberhasilan PITALOKA. Uniknya, angkatan ini berhasil menemukan aktor promotor kesehatan. 

Berdasarkan hasil survei etnografi yang dijalankan, ditemukan bahwa dukun merupakan tokoh penting yang didengar oleh masyarakat di Kecamatan Bambalamotu. Penemuan ini memberikan landasan dasar untuk mendorong keterlibatan aktif dukun dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, khususnya pada program kesehatan ibu dan anak. Selain itu, peran suami dan keluarga dinilai bermakna sehingga keterlibatan kedua peran tersebut menjadi penting untuk dibawa pada beragam kegiatan Pencerah Nusantara.

Selaras dengan angkatan pendahulunya, Pencerah Nusantara angkatan VI melanjutkan keberhasilan PITALOKA. Pada tahun ini, tim melakukan transisi dengan menyerahkan pelaksanaan program ke Puskesmas. Tenaga kesehatan setempat telah memiliki kapasitas dalam memberikan capacity building terhadap kader Posyandu dan masyarakat secara mandiri. Tim melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin sehingga menghasilkan form evaluasi baku penilaian penyelenggaraan Posyandu di Pasangkayu. 

“Kalau untuk mempersiapkan lingkungan yang nantinya mendukung itu ke perangkat pemerintah desa, supaya mereka juga melihat bahwa permasalahan gizi itu adalah isu yang kalau mereka kerjakan sekarang itu investasi di masa depan,” ujar Siska Verawati, Program Management Officer CISDI. Melalui Pencerah Nusantara, kolaborasi dan integrasi lintas sektor telah berjalan. Iklim ini yang menjadi dasar dalam setiap implementasi Pencerah Nusantara, sehingga desa masih terus dapat memastikan peningkatan kesehatannya secara mandiri setelah program Pencerah Nusantara usai.

Sumber:

Narasi RPJMN IV 2020-2024 Edisi Agustus 2019

Riskesdas 2013

Riskesdas 2018

Survei Kesehatan Masyarakat di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu Tahun 2016-2019

Penulis:

Zenithesa Gifta Nadirini

Odilia Firsti Wida Mukti