“Bagi sebagian kita genangan air itu terlihat kumuh, tapi bagi mereka ini adalah waterboom terbaik yang bisa mereka jangkau. Kita harus berpikir berulang kali untuk mandi atau sekedar menyentuh air ini, tapi bagi mereka ini adalah lulur terbaik yang mereka punya. Ancaman masalah kesehatan niscaya adanya. Bagaimanapun juga, melihat mereka mensyukuri kesederhanaan yang dipunya, menikmati kekurangan yang dimiliki, sembari tertawa lepas meski beban hidup yang ada, kami menemukan makna di balik keterbatasan.”

Gambar 1 : Salah Satu Sudut Desa Ketika Musim Penghujan

Gambaran tersebut merupakan deskripsi dari bagian kecil Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Pemandangan yang lazim dijumpai setiap hari. Genangan air itu merupakan luapan air Sungai Lematang yang membanjiri sebagian besar hutan karet dan sawah yang membentuk landscape desa sepanjang musim penghujan. Genangan air tersebut adalah genangan air yang sama yang digunakan anak-anak berenang dan para ibu mencuci baju.

Kami berusaha melihat fenomena semacam ini dari berbagai sisi. Jika memandang dari dari kacamata pembangunan kesehatan, ini masalah sanitasi. Tapi jika menilik dengan pendekatan humaniora dan perkembangan mental anak, apakah kita tega merebut kebahagiaan sederhana anak-anak dengan serta merta melarang berenang di sana? Atau melarang ibu mencuci baju di air sungai? Padahal hanya air seperti itulah yang mereka punya. Inilah salah satu persoalan pembangunan yang dapat dilihat dengan paradigma sehat. Kami tengah belajar memahami paradigma sehat melalui kacamata penduduk setempat dan menyelesaikan permasalahan kesehatan secara bersama-sama.

Datang dari berbagai penjuru Indonesia, kami lima anak muda dengan latar belakang kesehatan berbeda, tinggal bersama masyarakat desa selama setahun penuh untuk membangun paradigma sehat yang sebenarnya. Mendapat kesempatan hidup di desa, menyaksikan dan berpartisipasi langsung bersama masyarakat membangun status kesehatan yang lebih baik, adalah sebuah tanggung jawab sekaligus penghargaan tertinggi.

Kami berlima tergabung dalam Pencerah Nusantara, sebuah program organisasi sosial non pemerintah yang bertujuan untuk membantu Indonesia mencapai target agenda pembangunan global, Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya indikator kesehatan. Pencerah Nusantara berada di 9 daerah bermasalah kesehatan, salah satunya di Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim. Delapan daerah lainnya berada di Aceh Selatan, Cirebon, Grobogan, Gunung Mas, Sumbawa Barat, Mamuju Utara, Konawe, dan Sorong. Pemilihan lokasi ini berdasarkan banyak pertimbangan, salah satunya adalah profil kesehatan daerah.

Kecamatan Sungai Rotan mengampu lebih dari 34 ribu penduduk yang tersebar di 19 desa dengan profil kesehatan yang masih memerlukan perhatian lebih. Beberapa permasalahan yang muncul meliputi sanitasi dan kesehatan anak.

Dengan keterbatasan kondisi geografis, tantangan sanitasi dihadapi mayoritas masyarakat Kecamatan Sungai Rotan. Hingga saat ini, masih ada desa yang belum mampu mencapai Open Defecation Free (ODF) atau Buang Air Besar Sembarangan. Bahkan akses sarana air bersih yang memenuhi syarat baru mencapai 60%. Selain permasalahan sanitasi, kesehatan anak juga menjadi tantangan utama. Menurut data temuan PN, terdapat 38% kasus balita stunting dan 25% status gizi bayi balita sangat kurus dan kurus.

Dalam menjawab tantangan kesehatan yang muncul, kami bekerja berdampingan dengan Puskesmas Sukarami sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan terlebih dahulu mengenali permasalahan kesehatan yang ada, menganalisis akar permasalahan serta memetakan solusi yang tepat sasaran sebagai langkah besar selanjutnya.

Langkah besar tentu dimulai dari langkah kecil yang berani. Langkah kecil tersebut adalah menemukenali aktor-aktor lokal yang mampu menggerakkan. Kami sadar bahwa tonggak berjalannya program kesehatan di desa sangat bergantung pada masyarakatnya. Ketika masyarakat sadar dan berdaya, maka program kesehatan akan berjalan dengan sendirinya.

Sebut saja komunitas kesehatan remaja yang bernama Sriwijaya Muda. Mereka adalah sekumpulan anak-anak muda asli Kecamatan Sungai Rotan yang berani, mau dan mampu untuk memberikan teladan yang baik. Mereka tidak merokok, tidak memakai narkoba, tidak menyentuh minuman keras, dan tidak bergaul melewati batas norma. Mereka sudah mulai beraksi dengan memberikan penyuluhan ke sekolah dan masyarakat. Meskipun Pencerah Nusantara menjadi inisiator dari komunitas ini, namun semakin dekat kami mengenal mereka, justru kami yang banyak belajar dari mereka.

Selain itu, seluruh desa di Kecamatan Sungai Rotan sudah menjalankan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Hal ini menunjukkan bahwa aparat desa pun telah menyadari bahwa peran masyarakat menjadi kunci dalam kesuksesan sebuah program. Meski program STBM masih terus diupayakan dan digalakkan, masyarakat sudah terpicu untuk meminimalisir kebiasaan BABS.

Inilah yang menjadi alasan kami untuk optimis. Inilah titik awal perubahan paradigma sehat. Masih banyak orang baik di sekitar kita, masih banyak alasan untuk optimis pada Indonesia. Meskipun saat ini tim Pencerah Nusantara Muara Enim telah berganti personil, namun kami tidak bersedih karena ini berakhir. Kami bersyukur karena ini pernah terjadi.

Penulis : Maharani Jibriellia, S.Gz