"Saat kami dan pegawai puskesmas masih sibuk berbenah untuk keperluan akreditasi puskesmas, gempa yang berkekuatan 7,4 SR terjadi sekitar 45 menit dari penempatan kami. Gempa di Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2019.”

Kejadian itulah yang spontan teringat oleh Mepsa—salah satu anggota Pencerah Nusantara Angkatan VI yang ditempatkan untuk mengabdi di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat—saat ditanyakan kisah paling menarik yang terjadi selama satu tahun bersama Tim Pencerah Nusantara. Gempa besar yang terjadi sekitar pukul 6 sore itu sontak membuat suasana mencekam. Betapa tidak, gempa itu berlangsung cukup lama. Mungkin sebanyak dua kali dan berlangsung selama dua menit.

Tim Pencerah Nusantara bersama pegawai Puskesmas dan keluarga berkumpul di lapangan tengah Puskesmas. Kabarnya gempa ini berpotensi tsunami. Mepsa dan teman-teman kemudian menghubungi keluarga dan CISDI, namun tak kunjung terhubung. Menggunakan mobil ambulans tua, mereka memutuskan untuk segera meninggalkan Puskesmas dan Rumah Dinas yang dapat ditempuh selama 500 menit dari bibir pantai, karena khawatir akan ancaman tsunami.

Maghrib itu kondisi jalanan gelap yang disebabkan oleh aliran listrik putus. Rumah roboh dan kayu tumbang. Tim lalu mengungsi di sebuah lapangan di Desa Kalola, tidur bersama dengan warga lain beralaskan terpal. Pagi harinya, tim Pencerah Nusantara kembali ke Puskesmas untuk melihat kondisi dan menghubungi CISDI. Tersambung, CISDI pun meminta untuk tetap bersiaga. Karena tidak ada posko penanganan bencana di daerah penempatan, mereka yang butuh pertolongan datang ke Puskesmas. Tim memutuskan untuk membantu beberapa korban yang datang ke Puskesmas dan sore harinya kembali mengungsi.

Selama dua hari saat bencana, Tim Pencerah Nusantara selalu kembali ke Puskesmas setiap paginya untuk memberi pertolongan pertama dan sore harinya mengungsi. Keterbatasan akan sumber pangan pun dijumpai. Harga bahan bakar naik hingga tiga kali lipat. Sinyal telepon dan listrik hilang selama tujuh hari lamanya. Namun, anggota tim yang terpilih ini ternyata sudah siap menghadapi kondisi darurat.

Tentang Pelatihan Pencerah Nusantara

Sebelum diberangkatkan ke daerah penugasan, setiap anggota Pencerah Nusantara dipersiapkan untuk menghadapi segala situasi, termasuk kondisi bencana. Selama enam minggu lamanya, Pencerah Nusantara mengikuti pelatihan yang meliputi keterampilan medis dan non-medis seperti advokasi, komunikasi, pemberdayaan perempuan dan masyarakat, serta strategi keberlanjutan program. Pelatihan ini diikuti oleh semua anggota Pencerah Nusantara, tidak terkecuali tim Pencerah Nusantara Angkatan VI Kabupaten Pasangkayu ini.

“Mayoritas tim Pencerah Nusantara adalah tenaga kesehatan muda yang masih perlu belajar dan mengenal kondisi masyarakat lebih jauh. Namun, tim dibekali pengetahuan dan kemampuan dasar oleh CISDI dan jejaring pakar di bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Bekal pengetahuan dan keterampilan ini menjadi modal awal untuk berkontribusi menciptakan perubahan di masyarakat di lokasi penempatan,” ujar Mepsa.

Tim Pencerah Nusantara juga wajib mengikuti materi survival dan team building selama lima hingga enam hari lamanya. Melalui pelatihan tersebut, mereka belajar cara beradaptasi secara mental dan fisik di kondisi serba terbatas untuk bertahan dalam kondisi yang tidak ideal. Setiap anggota belajar untuk berkoordinasi dan bekerjasama secara tim sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Pelatihan dimulai dari mendirikan tenda, latihan fisik, hingga ilmu bertahan di alam bebas dengan makanan dan minuman yang ada. Teori dan pelatihan yang diberikan diperkaya dengan kemauan anggota untuk saling membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Tentu hal ini sangat membantu tim Pencerah Nusantara di lokasi penempatan menghadapi kondisi sulit seperti bencana terjadi. Selain itu, pelatihan difokuskan pada peningkatan kapasitas dalam proses optimalisasi transfer knowledge dengan tenaga kesehatan di daerah dalam menghadapi segala situasi.

“Walaupun kisah ini merupakan bagian yang tidak kami harapkan, namun sebetulnya dalam peristiwa ini kami belajar banyak untuk bertahan hidup dalam segala keterbatasan. Belajar bertahan diri dalam kondisi sulit, kebersamaan, dan tentu menguatkan satu sama lain, yang mungkin belum didapatkan dari penggalan kisah Pencerah Nusantara lainnya,” tutup Mepsa.


Penulis:

Odilia Firsti Wida Mukti

Zenithesa Gifta Nadirini