Hari Kesehatan Dunia pada 7 April lalu mengusung tema “Health for All” atau “Kesehatan untuk Semua”, sebagai komitmen dunia untuk memastikan semua orang, tanpa terkecuali, berhak memperoleh layanan kesehatan yang layak. Komitmen ini telah diadopsi oleh negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia, seiring disepakatinya Deklarasi Alma Ata di tahun 1978.

Deklarasi Alma Ata menitikberatkan peran layanan kesehatan primer sebagai garda terdepan penyediaan akses layanan kesehatan bagi masyarakat. Hal ini dilakukan melalui penerapan delapan pelayanan dasar seperti edukasi kesehatan, peningkatan pelayanan makanan dan gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana.

Sebagai organisasi masyarakat sipil yang berkomitmen untuk turut berkontribusi mewujudkan “Health for All” di Indonesia, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menegaskan kembali kontribusinya pada pembangunan kesehatan melalui inisiatif kepemudaan, Pencerah Nusantara.

Pencerah Nusantara adalah inovasi CISDI dengan menggerakkan anak muda untuk mendekatkan akses layanan kesehatan ke daerah tertinggal di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi yang panjang dengan persaingan yang kompetitif, 26 tenaga kesehatan muda terpilih sebagai Pencerah NusantaraAngkatan VI, dari 5000 lebih pendaftar.

Pada tanggal 15 April 2017, Pencerah Nusantara resmi dilantik oleh Anindita Sitepu, Direktur Program CISDI. Acara yang dilaksanakan di Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut turut dihadiri Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek Sp.M (K) yang memberikan pembekalan kepada Pencerah Nusantara.

Dalam pidatonya, Prof. Nila Moeloek menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi para pemuda yang rela mengabdi kepada negara demi terciptanya paradigma sehat di daerah terpelosok Indonesia.

Menurut Prof. Nila Moeloek, dalam konteks pembangunan dari hulu ke hilir, kesehatan masih sering dianggap sebagai konsekuensi dari pembangunan fisik, sosial, dan ekonomi.

“Perubahan lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi yang terus berubah memengaruhi jenis masalah kesehatan. Di Indonesia, selain masalah kesehatan yang mengikuti perubahan lingkungan, masalah kesehatan dasar di banyak daerah masih belum teratasi.”

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tengah menghadapi meningkatnya angka penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, stroke, dan kanker, yang menjadi penyebab tertinggi kematian di Indonesia.

“Sampai kapan pun masalah kesehatan akan ada namun jenisnya terus berubah,” lanjut Prof. Nila Moeloek.

Dengan kondisi Indonesia sekarang, komitmen untuk menciptakan “Health for All” masih harus diperjuangkan. Pencerah Nusantara menjadi salah satu pendekatan inovatif yang diharapkan dapat berkontribusi mempercepat pencapaian tujuan tersebut.

“Perubahan yang diinisiasi oleh alumni Pencerah Nusantara bersama dengan Puskesmas diharapkan dapat terus menggerakkan masyarakat agar terlibat aktif dalam pembangunan kesehatan. Terlebih lagi, saat ini model Pencerah Nusantara telah diadopsi oleh Kementerian Kesehatan menjadi program nasional, Nusantara Sehat. Saya sangat berharap, perubahan yang diinisiasi dapat terus berlanjut meskipun Pencerah Nusantara sudah tidak lagi berada di daerah penempatan,” ungkap Prof. Nila Moeloek di acara Pengukuhan Pencerah Nusantara.

Dengan membawa harapan serta tanggung jawab yang besar, Pencerah Nusantara Angkatan 6 telah diberangkatkan ke delapan penempatan yang tersebar di Indonesia, yaitu Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Mamuju Utara, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Penulis: Arina Aisyal Hanny, Penyunting: Aghnia Jolanda Putri