Siapa sajakah Pencerah Nusantara Angkatan Pertama? Yuk berkenalan dengan mereka!

TIM TOSARI

Fairuziana Humam – Psikolog.

Fai lulus S1 Program Studi Psikologi tahun 2011 dari Universitas Syiah Kuala. Menurut Fai, kesehatan mental harus disosialisasikan ke masyarakat melalu Puskesmas, karena sehat itu meliputi sehat bio-psiko-sosial. Pengalaman Fai cukup banyak, beberapa di antaranya adalah mengikuti pelatihan Centre for Intercultural Learning, Representatif Aceh untuk Indonesia Canada Youth Exchange, partisipan perwakilan Universitas pada Young Leaders for Indonesia, dan juga Sekretaris Himpunan Mahasiswa di Universitasnya.

Gadis kelahiran 4 Maret 1989 ini juga mengaku terampil dalam hal memasak, memotret, menggambar, menyanyi, mengajar, bahkan melaut! Ia pernah bekerja paruh waktu di Kantor Berita Radio Antero, Banda Aceh.

Feny Mariantika – Bidan.

Perempuan kelahiran 25 Maret 1990 yang akrab disapa Fe ini lulus D3 Kebidanan pada tahun 2011 di STIKES Abdi Nusantara. Kiprah bidan yang satu ini dalam organisasi cukup banyak, seperti di Indonesia Menyala, perguruan tinggi KAMMI UIN Syarif H. Fe ingin dengan ilmunya, ia dapat berkontribusi menyelesaikan permasalahan kesehatan dan mengubah derajat kesehatan masyarakat Indonesia, itulah yang membuatnya merasa terpanggil untuk aktif menjadi Pencerah Nusantara.

Di luar profesi bidannya, Fe pun memiliki keterampilan memasak, menulis, memberikan motivasi dan juga mengajar.

Hafiidhaturrahmah – Dokter Umum.

Akrab dipanggil Emak Avis, perempuan kelahiran 9 Februari 1986 ini melihat visi Pencerah Nusantara sejalan dengan model kesehatan yang ia cari. Menurutnya, secara teori pendekatan promotif memang jauh lebih ideal jika dibandingkan dengan pendekatan kuratif, meskipun tidak mudah untuk mengubah paradigma masyarakat untuk lebih peduli pada pencegahan daripada pengobatan. Namun demikian Avis ingin menjawab tantangan ini melalui Pencerah Nusantara.

Avis telah mengantongi sejumlah beasiswa, diantaranya Beasiswa Mahasiswa Berprestasi 1 dari Universitas Jenderal Soedirman dan SCORA Summer School di Sweden dari International Federation of Medical Student Association (IFMSA) Sweden selama satu bulan di tahun 2007.

Naela Mustika Khikmah – Perawat.

Naela lulus dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan IPK cum laude. Menjadi tenaga kesehatan adalah impian perempuan kelahiran 29 Januari 1989 ini sejak kecil. Ia ingin menolong orang sakit, orang sehat agar tidak sakit, dan yang sembuh dari sakit agar bisa mandiri. Ia ingin membagikan ilmunya kepada masyarakat agar akses masyarakat akan kesehatan meningkat.

Naela juga aktif dalam kegiatan organisasi seperti BEM maupun kegiatan insidental lain. Ia juga pernah menjadi freelance enumerator Kementerian Kesehatan dan pengajar privat.

Olivia Herlinda – Sarjana Farmasi. Gadis kelahiran 26 Oktober 1990 ini. Ia pernah magang sebagai asisten apoteker di Guardian Pharmacy Mount Elizabeth Hospital. Meski terkesan seperti anak kecil, pemikiran Oyip, sapaan Olivia dari teman-temannya, sangat dewasa. Alasan ia bergabung di program ini adalah ia ingin menjadi bagian dari perubahan untuk Negara ini di bidang kesehatan. Ia merasa kesehatan belum menjadi fokus di Negara ini, padahal kesehatan yang baik akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Melalui program ini ia juga mengharapkan terciptanya integrasi antar profesi kesehatan sehingga meminimalisasi arogansi masing-masing.

Di luar itu, gadis lulusan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung ini gemar menjahit, semasa kecil ia sering membuatkan baju untuk Barbie koleksinya.

TIM OGOTUA

Egi Abdul Wahid – Perawat.

Meskipun berprofesi perawat, pria yang akrab disapa Egi atau Pak Camat ini mendaftarkan diri sebagai pemerhati kesehatan. Dengan segudang pengalamannya berorganisasi, kemampuan Egi untuk terjun langsung ke masyarakat tidak perlu diragukan. Ia pernah menjadi ketua BEM dan bidang program Ikatan Lembaga Ilmu Keperawatan Indonesia. Pria lulusan S1 Ilmu Keperawatan tahun 2011 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini pernah juga menjadi finalis kompetisi lingkungan hidup se-Jawa dan Bali mewakili Kabupaten Karawang. Di luar yang disebutkan di atas, Egi juga memiliki keterampilan desain dan pengetahuan mengenai pembesaran ikan tawar. Ketika ditanya motivasinya bergabung dalam Pencerah Nusantara, pria kelahiran 13 Juni 1989 ini mengatakan pengalaman sebagai pribadi dan insan sosial memotivasi potensi yang dimiliki untuk memberikan kesempatan dan memberikan kontribusi secara nyata bagi masyarakat.

Yurdhina Meilissa – Dokter Umum.

Perempuan yang akrab dipanggil Icha ini lahir pada 25 Mei 1987 dan mendapatkan gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Jakarta.  Di luar rasa bangga yang ia miliki terhadap profesinya, di hati kecilnya Icha selalu merasa berhutang kepada masyarakat yang diobatinya karena belum dapat memberikan pelayanan secara maksimal. Ia ingin sekali menggeser pemahaman masyarakat tentang kesehatan dari pandangan konsumtif menjadi sebuah investasi. Inilah yang mendorongnya untuk ikut mendaftarkan diri sebagai Pencerah Nusantara.

Semasa kuliah Icha aktif berorganisasi dan pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kaderisasi. Bersama rekannya, ia mengusulkan adanya kurikulum kemahasiswaan yang memungkinkan mahasiswa kedokteran beraktivitas di luar kampus dan tetap berprestasi di bidang akademik. Menurutnya kombinasi ini akan membangun jati diri dokter secara utuh.

Intan Esaputri – Sarjana Gizi.

Intan lulus S1 dari Universitas Gadjah Mada dengan predikat cum laude. Gadis kelahiran 11 Agustus 1990 ini ingin ambil bagian menjadi solusi permasalahan kesehatan di Negara ini. Ia merasa hal yang membuatnya bahagia adalah kontribusi yang bisa ia berikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Komitmennya untuk berkontribusi salah satunya ia tunjukkan saat menjadi relawan di lokasi pengungsian pasca erupsi gunung Merapi bersama dengan Tim Bantuan Medis. Melalui program ini, ia ingin terjun langsung dan membaca lebih jauh realita yang ada di masyarakat.

Selain itu, Intan juga mengaku pandai memasak dan sering menciptakan masakan-masakan baru hasil inovasinya.

Putri Windajayanti - Bidan.

Putri menamatkan D3 Kebidanannya dari STIKES Dharma Landbouw Padang. Melihat bahwa masih banyak masyarakat di sekelilingnya yang belum paham kesehatan dan belum berubahnya perilaku masyarakat inilah yang mendorong Putri bergabung dengan Pencerah Nusantara. Ia ingin menghidupkan kembali semangat promotif dan preventif.

Komitmen gadis kelahiran 20 Juni 1990 untuk masyarakat ia tunjukkan pula melalui mengajar baca tulis bagi tuna aksara dan baca tulis Al-Qur’an. 

TIM MENTAWAI

Amriyatun – Perawat.

Amriyatun, atau Amri, adalah gadis perawat muda kelahiran 15 Agustus 1988 dengan semangat yang luar biasa. Amri memiliki keinginan meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui profesinya. Amri pun memiliki keahlian membuat keripik bawang dan dodol rumput laut dan juga membuat kerajinan tangan dari bahan lontar yang ingin ia ajarkan nanti di lokasi penempatan, seperti saat ia Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia dulu di Pulau Rote.

Pengalaman praktik Amri semasa program profesi pun cukup banyak di beberapa Rumah Sakit, hal itu pulalah yang membuat Amri ingin memperbaiki kesehatan di Indonesia.

Hasrina – Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Sekali mendengar Hasrina berbicara, maka tidak akan bisa melupakan logatnya. Gadis kelahiran 25 Agustus 1989 ini akrab dipanggil Inang. Inang adalah lulusan FKM Univ. Hasanuddin dengan jurusan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Mimpi Inang adalah dapat menyehatkan dan mencerdaskan bangsa Indonesia melalui profesinya. Ia ingin membuat komunitas peduli rakyat, karena ia percaya rakyat yang peduli akan melahirkan generasi bangsa yang bermartabat.

Semasa sekolah, Inang aktif di organisasi mahasiswa seperti BEM dan LKMI. Selain terkait keprofesiannya, Inang mengaku tertarik pada ilmu manajemen, ilmu komunikasi dan ilmu jiwa. Maka tidak heran jika ia menikmati bertemu dengan orang-orang baru.

Muhammad Riedha – Dokter Umum.

Abang Jakarta Barat 2005  kelahiran 27 Desember 1985 yang akrab disapa Idho ini menyelesaikan pendidikan kedokterannya di FKUI pada tahun 2011. Di tahun 2008, ia juga mengecap pendidikan di Faculty of Medicine, Dentistry and Health Sciences University of Melbourne dengan jurusan Advaned Medical Sciences satu tahun.

Meski prestasi pendidikannya sangat baik, Ridho masih ingin mengembangkan dirinya dan masih ingin belajar lebih banyak, karena baginya pembelajaran yang paling berguna di dalam hidup adalah dengan terjun langsung di lapangan dan menghadapi segala problematika yang ada. Ridho merasa masih terdapat banyak masalah yang dialami oleh Negara ini, terutama dalam aspek kesehatan. Menurutnya, permasalahan kesehatan masyarakat sangatlah krusial, jika tidak ada yang mulai membantu mengurangi beban masalah tersebut, maka negara ini akan susah untuk berkembang.

Resti Zulhaijah – Bidan.

25 Juni 1990. Resti menamatkan D3 Kebidanan dari Kebidanan Rangkasbitung Poltekkes Kemenkes Bandung. Motivasi dara kelahiran 25 Juni 1990 ini ialah ingin mengaplikasikan ilmu yang ia miliki untuk pelayanan kesehatan terjangkau dan berkualitas. Ia menyadari masih banyak masyarakat yang belum tersentuh tenaga kesehatan dan juga kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan.

Dalam mewujudkan motivasinya, Resti berpendapat bahwa kemitraan dan advokasi efektif dengan berbagai pihak dapat mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada.

Vidia Nuarista – Sarjana Gizi. Gadis kalem kelahiran 26 Januari 1990 ini menamatkan S1-nya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi seperti BEM dan Remaja Masjid.

Motivasinya mengikuti program ini adalah ia ingin mengamalkan ilmunya sebagi wujud pengabdian kepada bangsa dan Negara sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi. Masalah kesehatan, terutama gizi, masih begitu pelik di Negara ini. Kemampuannya mengoberasikan berbagai software terkait gizi diharapkan dapat berguna selama penugasannya nanti.

TIM LINDU

AA Dwi Wulantari – Dokter Umum.

Akrab dipanggil GungWik atau MbokGe, perempuan kelahiran 30 April 1984 lulusan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini terdorong untuk mendaftarkan diri sebagai Pencerah Nusantara karena selama berpraktek sebagai dokter umum, ia telah menjumpai banyak peristiwa yang cukup menyedihkan di tengah masyarakat; kesulitan ekonomi pasien untuk berobat, kuatnya mitos-mitos yang tidak benar, sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan akibat kondisi geografis dan pola pikir masyarakat yang masih berpikir lebih baik mengobati daripada melakukan pencegahan.

Perempuan kelahiran 1984 ini tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkab Bangli, Bali dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mengasah keterampilannya sebagai dokter umum. Di sela-sela kesibukannya, ia juga menyempatkan diri mengasah hobby-nya dalam dunia broadcasting sebagai penyiar paruh waktu di salah satu radio lokal Bali.

Darsuna Mardhiah – Dokter Umum

Darsuna, atau DS mempunyai cita-cita terpendam untuk memacu semangat anak-anak dalam menyelesaikan pendidikan. Karena saat ini masih banyak anak-anak yang tidak mendapat kesempatan mengecap pendidikan sekolah yang cukup disebabkan terbatasnya biaya dan akses transportasi. Perempuan kelahiran 21 April 1987 ini sangat menyukai petualangan dan berinteraksi dengan orang-orang baru.

Ia pun berkeinginan untuk dapat mengabdikan diri di daerah terpencil dan memberikan pendidikan mengenai kesehatan kepada masyarakat setempat, terutama anak-anak. Melalui Program Pencerah Nusantara, ia berharap agar keinginannya dapat terkabul, tidak hanya membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di daerah-daerah pelosok nusantara, namun juga dapat membuka mata mengenai pentingnya pendidikan.

Fitri Arkham Fauziah – Perawat

Fitri menyelesaikan studi perawatnya dari Universitas Gadjah Mada, dengan tugas akhir tentang “Analisis Gambaran Persepsi dan Kesiapan Mahasiswa Profesi FK UGM terhadap Interprofessional Education di Tatanan Pendidikan Klinik”. Melalui program ini, ia berharap dapat berkontribusi memberi solusi bagi peningkatan kesehatan di Indonesia, khususnya di tempat terpencil.

Kiprah perempuan kelahiran 20 Mei 1988 ini tidak hanya di skala lokal dan nasional, namun juga internasional; ia pernah mengikuti pelatihan di Boras, Swedia, program HPEQ di Jepang, juga seminar terkait medical education (SEARAME) di Jakarta. Dengan pengalamannya ini, dipastikan Fitri adalah perawat dengan nilai plus.

Usman – Sarjana Kesehatan Masyarakat. B

Bergabung menjadi bagian Pencerah Nusantara ini merupakan panggilan hati pria yang lahir pada tanggal 11 September 1989 ini. Ia ingin meningkatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya dengan mengutamakan primary prevention. Usman aktif mengikuti berbagai pelatihan, beberapa diantaranya adalah yang diadakan oleh Ganeca Education Center dan Netherland Cancer Institute. Ia pernah bekerja bersama UNICEF di Halmahera Selatan untuk melakukan riset terkait malaria.

Usman juga pernah magang di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan, promotor PHBS Dinkes Prov. Sulawesi Selatan, freelance enumerator Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Utri Kularia – Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Gadis bernama unik ini adalah lulusan S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.  Utri yang lahir pada tanggal 1 Januari 1985 ini juga pernah mengenyam pendidikan D3 kebidanan dari Universitas Kader Bangsa.

Angka kematian ibu dan anak yang masih tinggi memotivasi Utri untuk bergabung dalam program Pencerah Nusantara ini. Ia merasa ini adalah panggilan jiwanya. Selain itu, tidak disangka-sangka, Utri juga ternyata jago dalam olahraga voli, timnya pernah menjadi juara 2  lomba seni dan olahraga.

TIM KARAWANG

Rahmad Aji Prasetya – Sarjana Farmasi

Aji, kelahiran 30 Januari 1989, lulus S1 Farmasi tahun 2011 dari Universitas Airlangga. Kiprahnya dalam bidang akademis baik sekali, terbukti dari beasiswa yang pernah ia peroleh dari Kementerian Pendidikan Nasional dan Peningkatan Prestasi Akademik dan gelar Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas. Tidak hanya dalam bidang akademis, ia pun aktif dalan bidang non-akademis sebagai wakil ketua BEM dan ketua bidang program Senat serta anggota Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Surabaya.

Sebelum bergabung di Pencerah Nusantara, Aji adalah dosen penuh waktu di Akademi Farmasi Surabaya. Profesinya pun ia tinggalkan karena ia merasa memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada negara tercinta sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki dan dibutuhkan.

Sindi Shabrina – Bidan.

Perempuan berkuncir kuda kelahiran 1 April 1988 yang selalu ceria ini lulus S1 Kebidanan Klinik pada tahun 2011 di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dan mendapat gelar Sarjana Sains Terapan.  Untuk menunjang profesinya, Sindi pernah mengambil pelatihan Basic Hypnosis dan Hypnobirthing.

Sindi bermimpi untuk mengubah paradigma masyarakat Indonesia mengenai pentingnya kesehatan, meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi masyarakat Indonesia. Melalui Pencerah Nusantara, Sindi berharap ia dapat mewujudkan mimpinya itu.

Stefani Christanti – Dokter Umum.

Stefani yang lahir pada tanggal 26 Mei 1984  adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya yang merasa terpicu untuk melakukan sesuatu bagi tanah airnya, sesuai keahlian yang dimilikinya sebagai tenaga kesehatan. Ia melihat masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk menjaga kesehatannya, serta tingginya kepercayaan mereka terhadap faktor non-medis (dukun).

Pada saat menjalani PTT di Puskesmas Oelolok Kab. Timor Tengah Utara, NTT, ia banyak  menemui kasus kematian pada ibu dan anak akibat kurangnya pengetahuan dan minimnya fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Mereka baru datang menemui dokter ketika sudah sakit parah dan mengalami komplikasi. Ini yang semakin menguatkannya untuk melakukan reorientasi kesehatan sehingga masyarakat percaya kepada pelaku kesehatan. Suatu saat, ia bercita-cita menjadi dokter anak karena ia percaya mereka adalah kunci penerus bangsa.

Zuniatmi – Perawat.

Akrab dipanggil Zuni, dara kelahiran 28 Juni 1989 ini melihat program ini sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat di daerah terpencil yang minim akses kesehatan, itulah mengapa ia ingin bergabung. Sebagai perawat, ia berkewajiban merawat pasien tanpa membeda-bedakan.

Zuni lulus S1 dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Semasa sekolah ia aktif dalam kegiatan BEM dan Forum Pengkajian dan Pengalaman Islam. Ia juga pernah mendapatkan pelatihan yang diadakan oleh Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana, bekerja sebagai freelance enumerator Departemen Kesehatan 

TIM ENDE

Harika Putra – Dokter Umum.

Sebelum bergabung dengan Pencerah Nusantara, Hari adalah CPNS di Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh. Begitu mendengar mengenai program ini, pria kelahiran Sumatera Barat tanggal 21 April 1986 ini meminta izin untuk bergabung.

Hari meniti pendidikannya di Universita Udayana, Bali pada tahun 2004-2010. Ketika ia duduk di bangku kuliah, ia aktif di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa FK Universitas Udayana sebagai Ketua Bidang Program. Di tahun 2006, ia menerima beasiswa PPA untuk Perguruan Tinggi dari Kementerian Pendidikan Nasional dan sejak Febuari 2012 ia bekerja di Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh.

Indriya Suciyati – Bidan. Gadis kelahiran 20 April 1989 adalah lulusan kebidanan STIKES Dian Husada Mojokerto. Sekilas Indri memang tampak pendiam, namun ia menyimpan motivasi dan semangat yang luar biasa.

Motivasi Indri menjadi bagian Pencerah Nusantara adalah ia ingin menjadi seorang bidan dengan attitude baik, kompeten dan professional, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai ilmu dan profesinya. Sistem rujukan adalah masalah kesehatan di Indonesia, sehingga Indri berniat mengembangkan suatu sistem informasi bersama timnya.

Nur Akbar Bahar – Magister Kesehatan.

Akrab disapa Abhe, pria yang tampak muda ini ternyata sudah menyandang gelar Master dalam bidang Epidemiologi dari Universitas Hasanuddin. Pria yang kemana-mana menenteng kamera SLR ini pernah mendapatkan beasiswa dari Bakrie Center Foundation, PT. Pertamina dan Universitas Hasanuddin.  Abhe pun aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Epidemiologi dan Tobacco Control Youth Community.

Alasan pria kelahiran 29 Juni 1989 ini bergabung sederhana; ia ingin melihat semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali dapat menikmati pelayanan kesehatan. Ia pernah bekerja paruh waktu di Akademi Kebidanan Sandi Karsa Makassar sebagai dosen tidak tetap dan penuh waktu di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (staf program kesehatan anak). Di luar hal tersebut di atas, Abhe ternyata jago desain dan membuat film.

Nurul Widiyastuti - Perawat.

Gadis kelahiran 13 November 1989 yang akrab disapa Nurul  ini tamat dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Ia aktif dalam berbagai kegiatan di luar akademis, salah satunya adalah pernah terlibat dalam kepanitiaan mengenai patient safety.

Nurul termotivasi untuk dapat mengabdikan dirinya demi bangsa terutama di daerah-daerah terluar Indonesia, karena menurutnya di sanalah terjadi ketidakmerataan akses kesehatan. Ia ingin menargetkan edukasi terutama terkait kesehatan reproduksi pada remaja sebagai aset bangsa. 

TIM BERAU

Bambang Murdiono – Sarjana Kesehatan Masyarakat. Pria kelahiran 15 Februari 1989 yang akrab dipanggil Bambang ini adalah lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Univ. Ahmad Dahlan, ia mendalami epidemiologi dan penyakit tropik. Ia terpanggil mengikuti program ini karena ia ingin membuat masyarakat merasakan bahwa masih ada orang-orang yang mau terjun langsung mengabdikan dirinya.

Bambang tinggal di Kompleks Puskesmas di Kep. Riau, sehingga sehari-harinya ia cukup banyak melihat pelbagai masalah kesehatan, ditambah daerah itu adalah daerah endemis malaria, ia pun pernah mengalaminya. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia berharap dapat membantu masyarakat menyelesaikan masalah terutama yang terkait lingkungan.

Shafhan Dustur – Dokter Umum. Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala, Aceh ini berpendapat bahwa menjadi seorang dokter adalah panggilan hati untuk menolong sesama. Itulah alasan sederhana mengapa ia mendaftarkan diri sebagai Pencerah Nusantara. Meskipun masih sangat muda, pria kelahiran 19 Maret 1987 ini telah berpengalaman mengikuti berbagai organisasi yang mematangkan pola pikir dan pergaulannya.

Akrab dipanggil Idus, ia dikenal sebagai ustadz karena keahliannya membaca Al’quran secara tilawah atau berirama. Kemampuan ini dimanfaatkannya untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dalam menyampaikan pesan-pesan bijak dan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat, terutama dalam melakukan perubahan perilaku hidup sehat dan mandiri. Visinya dalam Pencerah Nusantara adalah ingin menjadikan perilaku sehat sebagai budaya.

Elys Indrayani – Perawat.

Meski bertubuh mungil, dara kelahiran 12 Agustus 1986 ini memiliki pergerakan yang aktif dan lincah. Ia mendapatkan gelar perawatnya dari STIKES NANI HASANUDDIN dengan predikat cum laude. Kemampuan akademiknya pun diimbangi dengan pengalaman berorganisasinya yang cukup banyak.

Motivasinya bergabung dalam gerakan ini adalah ia ingin meningkatkan pelayanan medis untuk masyarakat dan memberi motivasi agar masyarakat mau menjaga kesehatannya sebagai suatu aset.

Luky Winanti – Perawat.

Luky menamatkan pendidikannya dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.  Keinginannya bergabung dalam program ini adalah ia ingin ikut andil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya di daerah yang minim pelayanan kesehatan. Dara kelahiran 30 September 1989 ini ingin menghidupkan kembali RW Siaga yang melibatkan berbagai pihak.

DI luar profesinya, ia pernah bekerja sebagai koordinator lapangan Badan Narkotika Nasional, staff marketing paruh waktu Career Development Center UI dan freelance enumerator Litbangkes.

Rizqi Amelia - Bidan.

Rizqi menamatkan studinya dari D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang dengan IPK cum laude. Gadis kelahiran 29 Agustus 1990 ini memiliki keinginan untuk terjun ke pelosok. Meski medan pasti sulit, namun ia cukup senang jika dapat memberikan apa yang ia miliki ke masyarakat dan membuat masyarakat bahagia. Pengalaman Kuliah Kerja Nyata dulu di Temanggung masih berkesan sekali baginya sehingga ia memutuskan bergabung dengan pencerah Nusantara.

Saat sekolah, ia juga aktif dalam kegiatan yang bersifat di luar akademis seperti Senat Mahasiswa dan Kelompok Ilmiah Remaja.