Jakarta, 23 Februari 2018 – Di penghujung tahun 2017, lebih dari 5.000 pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia melengkapi persyaratan dan aplikasi online program Pencerah Nusantara. Dalam dua bulan terakhir, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) sebagai tim pengelola melaksanakan serangkaian seleksi dan telah memilih 26 calon Pencerah Nusantara Angkatan 6. Para individu terpilih ini akan menjalani masa pelatihan secara intensif selama 6 minggu sebelum diberangkatkan ke 8 daerah penempatan Pencerah Nusantara.

“Keterampilan medis maupun non-medis, wawasan dan pengalaman tentunya menjadi faktor utama penilaian seleksi yang melibatkan tim CISDI sebagai pengelola, tim psikolog Universitas Indonesia, organisasi profesi terkait serta mitra dari berbagai sektor. Ke-26 Pencerah terpilih sudah menunjukkan komitmen yang kuat, semangat untuk menciptakan perubahan, serta variasi pengalaman yang tinggi agar tahun terakhir program Pencerah Nusantara di daerah penempatan berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab yang dipikul oleh Pencerah Nusantara Angkatan 6 akan jauh lebih besar dibanding angkatan sebelumnya mengingat tim akan berfokus pada fase transisi program,” demikian ujar Anindita Sitepu, Direktur Program CISDI.

Setelah melakukan kajian implementatif terhadap pelaksanaan Pencerah Nusantara, tim Pencerah Nusantara di 8 lokasi penempatan akan berfokus pada fase transisi di tahun terakhir Cohort II ini. Dalam fase ini, tim Pencerah Nusantara akan memusatkan pembagian peran dalam pengelolaan bersama-sama dengan tenaga kesehatan di Puskesmas menuju pengelolaan oleh tenaga kesehatan lokal secara mandiri sepenuhnya dan melayani lebih dari upaya 125.000 penduduk.

“Misi utama dari Pencerah Nusantara Cohort II yang dilaksanakan tahun 2016-2019 adalah memperkuat layanan kesehatan primer di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Penguatan ini meliputi sisi manajemen puskesmas dan pemberdayaan masyarakat. Tahun 2018 akan menjadi tahun terakhir Pencerah Nusantara Cohort II. Ketika Pencerah Nusantara meninggalkan lokasi penempatan di tahun 2019, kami berharap inovasi yang sudah diinisiasi bersama Puskesmas dapat dilaksanakan secara mandiri oleh tenaga kesehatan dan tokoh masyarakat lokal. Praktik model intervensi ini sudah berhasil meningkatkan health-seeking behavior masyarakat di 7 lokasi penempatan di cohort sebelumnya,” tambah Anindita.

Keberhasilan model intervensi kesehatan yang dicetuskan oleh Pencerah Nusantara sejak tahun 2012 telah diakui secara nasional maupun internasional. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sudah mengadopsi model intervensi Pencerah Nusantara di tahun 2015 menjadi program intervensi kesehatan skala nasional bernama Nusantara Sehat. Hingga saat ini, Nusantara Sehat telah memperkuat lebih dari 200 Puskesmas dan menyentuh lebih dari 5.000.000 penerima manfaat di Daerah Perbatasan, Terpencil, dan Kepulauan. Secara internasional, Pencerah Nusantara menempati posisi kedua dalam ajang bergengsi Global Open Government Award di tahun 2015. Kedua penghargaan tersebut tidak hanya mengakui keberhasilan pelaksanaan program Pencerah Nusantara tetapi juga suatu sinyal kuat bahwa penguatan layanan publik dalam pembangunan sistem kesehatan yang diusung oleh Pencerah Nusantara merupakan pendekatan yang efektif dalam mewujudkan paradigma sehat.