Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Itulah semboyan dari negeri kita tercinta. Indonesia sangat terkenal dengan keberagamannya baik suku, agama, ras, kepercayaan, dan adat-istiadat. Namun keberagaman ini seringkali menjadi pedang bermata dua. Alih-alih menjadi benang pemersatu bangsa, terkadang keberagaman seringkali disalahgunakan sehingga memicu konflik antar suku yang masih terjadi di berbagai daerah. Di Poto Tano, Pencerah Nusantara menjadi saksi bahwa merajut dan merawat keberagaman dapat diupayakan.

Kabupaten Sumbawa Barat adalah salah satu kabupaten di Indonesia yang telah mengalami percampuran antara etnis asli Samawa dengan kelompok pendatang seperti suku Jawa, Bali, Bima, Dompu, Sasak, serta Arab. Dengan perbedaan etnis, masyarakat Sumbawa Barat dituntut untuk saling menghargai dan memiliki sikap toleransi yang tinggi. Semangat bertoleransi yang ditanamkan sejak kecil ini menjadi bekal bagi Anasrullah (13) SMPN 1 Poto Tano dan Mariani (14) SMPN 3 Poto Tano, perwakilan dari program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Serdadu Tano, yang lolos sebagai peserta program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia, Sabang Merauke.

Gambar 1. Anas

Sabang Merauke merupakan pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi. Melalui program ini, remaja terpilih dari seluruh Indonesia akan tinggal bersama keluarga dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda latar belakang. Sebagai bagian dari orientasi, peserta Sabang Merauke terpilih, atau yang sering disebut juga dengan Adik Sabang Merauke (ASM) akan memulai kegiatan di Jakarta selama 3 minggu untuk mengikuti beragam kegiatan yang mengusung semangat toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

Selama di Jakarta, Anas dan Mariani memperluas wawasannya tentang keberagaman di Indonesia dengan mempelajari 12 nilai perdamaian melalui kunjungan ke berbagai tempat ibadah seperti Masjid Istiqlal, Vihara Niiren Syosyu, Gereja Santa Maria de Fatima, Pura Aditya Jaya, dan GPIB Paulus. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menumbuhkan sikap toleransi dan rasa menghargai terhadap antar umat beragama. “Pertama kali saya mengunjungi tempat ibadah kepercayaan lain, saya takut dinilai salah oleh orang lain. Ketakutan saya ternyata salah karena mereka justru menyambut saya dengan baik dan hangat”, ujar Anas. Hal ini membuktikan bahwa toleransi tidak bisa hanya diajarkan, akan tetapi rasa toleransi akan hidup jika kita merasakan dan mengalaminya.

Gambar 2. Mariana

Panitia orientasi Sabang Merauke telah merancang berbagai kegiatan yang melatih kepekaan dan empati Adik Sabang Merauke untuk turut menjaga keberagaman. Beberapa diantara kegiatan tersebut adalah kunjungan ke Special Olympic Indonesia, sebuah gerakan global yang memberikan pelatihan olahraga kepada teman-teman berkebutuhan khusus; pelatihan bercerita Bersama Duta Cerita; serta bertemu tokoh inspiratif, Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Sebagai adik didik Pencerah Nusantara Puskesmas Poto Tano dalam kaderisasi kesehatan remaja, Anas dan Mariani juga akan menjadi Duta Perdamaian setelah kembali ke Daerah. Mereka akan mengepakkan sayap di masyarakat untuk menyebarkan semangat kesehatan dan kebangsaan. Rasa bangga juga dirasakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat terhadap Anas dan Mariani. Sebagai perwakilan NTB untuk program ASM Bupati sangat memberikan apresiasi dan penghargaan, dengan harapan kelak mereka bisa menjadi pioner pemersatu masyarakat Sumbawa Barat.

Anas, Mariani, serta 18 ASM lainnya merupakan contoh dari seribu anak bangsa yang peduli akan keberagaman. Mereka sadar bahwa perbedaan itu anugrah, dan keberagaman adalah harta terindah yang perlu di jaga bersama-sama dengan rasa toleransi demi memperkuat persatuan Indonesia.

“Sprite, Fanta, dan Coca-cola mereka berbeda tapi tujuannya sama yaitu menyegarkan badan. Aku, kamu, dan mereka berbeda tetapi tujuannya sama yaitu membangun Indonesia lebih damai”, (Anas dan Mariani).


Author : Dwi Yuni Nur Ikmala (Bidan Pencerah Nusantara batch VI, penempatan Puskesmas Poto Tano, Sumbawa Barat, NTB)