Meski pedagang kerap menghindar, tenaga-tenaga kesehatan tetap melaksanakan tes massal di wilayah pasar di Kecamatan Andir, Kota Bandung. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)


Tes massal menjadi polemik di tengah masyarakat. Hal ini kerap terjadi di Kecamatan Andir, salah satu daerah intervensi Pencerah Nusantara Covid-19 (PN COVID-19). Hoaks menjadi salah satu alasan maraknya penolakan tes lantaran salah satu hoaks menyebut jika seorang pedagang terbukti reaktif, ia harus membayar tes swab.

Di sisi lain, jika seorang pedang dinyatakan positif COVID-19, ia juga harus diisolasi mandiri. Hal ini menyebabkan mereka tidak bisa lagi berjualan dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Memang, ada beberapa pedagang yang mendorong sesama pedagang melakukan tes, namun itu saja belum cukup.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Puskesmas Babatan pada tanggal 9 Juli 2020, hanya sekitar 35% dari target pedagang yang mau mengkuti tes. Puskesmas sampai-sampai harus melakukan tes selama berhari-hari untuk menjaring pedagang yang belum dites. Padahal, pasar menjadi tempat yang berisiko menjadi wilayah penyebaran COVID-19, dikarenakan banyaknya orang yang membentuk kerumunan.

Jika tes tidak segera dilakukan, tidak menutup kemungkinan terjadi klaster penularan baru di pasar, seperti yang telah terjadi di beberapa pasar di Jakarta. Terlebih, sejak PSBB dilonggarkan selama dua bulan, aktivitas penduduk di pasar tidak bisa dihentikan.

Di wilayah penempatan PN COVID-19, Puskesmas Garuda dan Puskesmas Babatan telah melakukan beberapa kegiatan tes massal di pasar sekitar wilayah kerjanya. Wilayah Kecamatan Andir sendiri memiliki pasar yang banyak dan besar dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas.

“Andir itu kecamatan yang pasarnya paling banyak dibandingkan kecamatan lainnya. Pasar besar saja kita punya tiga. Belum lagi, banyak pasar tumpah yang jumlah pedagangnya sampai ratusan,“ tutur Iman, Kepala Satpol PP Kecamatan Andir. 

Walau terjadi banyak penolakan, berita hoax, dan luasnya wilayah kerja, segenap tenaga kesehatan tetap bersemangat menjalankan tugas. Kerja sama antara pengelola pasar dengan puskesmas juga masih berjalan, meski tidak semuanya mendapatkan simpati pedagang pasar.

Semangat Ibu Lilis

Kerja sama antara pemerintah daerah dengan puskesmas serta Tim PN COVID-19 terus dilakukan, meski begitu dukungan masyarakat juga sangat penting (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Meski penolakan tes oleh pedagang kerap terjadi, namun di Kecamatan Andir juga terdapat sosok lain yang memberi semangat positif.  Di kala posyandu menutup aktivitas pada masa pandemi, seorang kader dari Kelurahan Maleber Kecamatan Andir, Ibu Lilis Widia justru aktif melakukan penimbangan anak door to door di wilayah RW-nya.

Dalam kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga (IRT), Ibu Lilis telah menjadi kader semenjak beberapa tahun lalu. Ia kini menjabat sebagai Ketua Kader RW 03 Kelurahan Maleber.

Pada masa pandemi, aa sering menegur masyarakat yang tidak menggunakan masker saat berkegiatan di luar rumah, apalagi jika orang tersebut memiliki anak kecil di rumahnya saat melakukan penimbangan.

Menurutnya, anak kecil lebih rentan terkena COVID-19, dikarenakan daya tahan tubuh yang tidak lebih baik dibandingkan orang dewasa. Selain itu saat penimbangan, Ibu Lilis juga kerap menyampaikan pesan-pesan yang didapatkannya dari puskesmas terkait pencegahan infeksi COVID-19, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan masker, menjaga jarak, serta mengonsumsi buah, dan vitamin kepada ibu-ibu balita yang rumahnya didatangi. 

Ibu Lilis juga sadar bahwa warga di wilayahnya kerap tidak patuh menggunakan masker karena tidak memilikinya. Ia berinisiatif mendatangi konveksi di sekitar Kelurahan Maleber untuk meminta kain-kain perca yang nantinya dijahit menjadi masker oleh ibu-ibu di wilayah RW tempat tinggalnya.

Masker-masker yang telah jadi akhirnya dibagikan kepada warga sekitar sehingga tidak ada lagi warga yang tidak mengenakan masker. Masih banyak hal-hal lain yang Ibu Lilis lakukan di luar tugasnya sebagai kader posyandu. Ibu Lilis berharap semua warga patuh dengan adaptasi kebiasaan baru sehingga bisa hidup dengan sehat hingga situasi pandemi ini selesai.

Pesan dari Ibu Lilis selalu menjadi pengingat bagi tim Pencerah Nusantara COVID-19 Kecamatan Andir ketika menjalankan tugas. Meski kerap mendapatkan tantangan, kehadiran orang-orang seperti Ibu Lilis dan pedagang yang kooperatif sangat membantu semua upaya penanganan wabah. 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera. Dilaksanakan semenjak 2012 Pencerah Nusantara merupakan gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi dan ditempatkan di puskesmas masalah kesehatan di suatu daerah dengan masalah kesehatan selama satu tahun untuk bekerja sama lintas sektor dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir untuk membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan pada peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, monitoring dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Pada tahun 2015 Pencerah Nusantara meraih Silver Award Global Open Government Award 2015 sebagai inovasi yang sukses memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Sementara sejak tahun 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat. 

Penulis:

Anita Siti Fatonah (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Priska Natasya (Ahli Gizi)

Pencerah Nusantara COVID-19

Penempatan Wilayah Kecamatan Andir