Partisipasi setiap pemangku kepentingan dalam menghadapi COVID-19 penting untuk memutus rantai penyebaran virus ini. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Pada Rabu (19/8) di Aula Kantor Lurah Kebon Bawang diselenggarakan diskusi terpumpun untuk merumuskan rencana tindak lanjut penanganan COVID-19 bersama stakeholder terkait. Diskusi terpumpun melibatkan beragam pihak, mulai dari aparat keamanan, seperti Babinsa, Polisi, Babinkamtibnas hingga perwakilan Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang dan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok.

Kegiatan ini adalah awalan lahirnya solusi-solusi pengendalian COVID-19 di Kelurahan Kebon Bawang. Di luar perkiraan penyelenggara, ternyata kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengkritik pemerintah, dalam konteks ini Lurah, secara langsung. Padahal awalnya, kami berharap diskusi ini bisa menjadi wadah kolaborasi awalan untuk bisa menyinergikan koordinasi lintas sektor.

Sesi diskusi berjalan tenang karena perwakilan Satgas COVID-19 dan Pihak RW banyak yang belum hadir tanpa alasan yang jelas. Ibu-ibu kader juga malu-malu menyampaikan keresahannya. Tim PN COVID-19 merasa diskusi yang terbangun masihlah terlalu kaku. Meski begitu, pada sesi diskusi berikutnya suasana berubah total.

Diskusi yang Lama

Pada sesi diskusi kedua banyak Ketua RW yang telah datang dan minum kopi bersama. Ritual minum kopi tersebut ternyata adalah sarana penyatuan suara sebelum diskusi. Di dalam diskusi, Pak Edo, perwakilan Satgas COVID-19, di RW 13 menyuarakan pendapatnya dengan tegas, “Bapak Lurah, saya ingin menyampaikan kritik terlebih dahulu. Kami para Satgas COVID-19 tidak diberikan bekal apa-apa untuk turun lapangan.”

Menurut Pak Edo, imbauan pemerintah untuk mencuci tangan tidak cukup, dibutuhkan kolaborasi setiap elemen masyarakat untuk mencapai garis akhir penanganan wabah. Sementara, jika warga menunggu bantuan pemerintah tanpa melakukan apa-apa, pandemi COVID-19 tidak akan pernah selesai.

“Sekarang pasien COVID-19 sudah tidak dites lagi? Siapa yang menjamin pasien ini sembuh? Kalian (puskesmas) saja tidak pernah turun lapangan,” meski kerap kritis, tuduhan Pak Edo terkesan ironis, sebab ia tidak memberikan ruang bagi pihak puskesmas untuk menjelaskan dasar aturan yang mereka terapkan.

Sesi kedua diskusi berjalan panas dan lebih lama. Sesi ini menjadi sarana kritik terhadap pemerintah daerah, meski rencana tindak lanjut menjadi lebih spesifik, walaupun belum mencapai ekspektasi. Konflik Pak Edo dengan petugas puskesmas dan lurah memang niscaya dan membuat tidak nyaman. Namun, hal ini telah berulang-ulang terjadi dalam setiap kesempatan diskusi antar-pemangku kepentingan

Hoax Menjadi Masalah



Selain konflik antar pemangku kepentingan, hoax kerap menjadi masalah lain dalam mengedukasi masyarakat perihal penyebaran COVID-19. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Konflik adalah satu masalah yang kerap kami temui. Masalah lain yang juga sering terjadi adalah sikap masyarakat yang acuh terhadap COVID-19 dan bahkan menganggapnya sebagai hoax. Sebenarnya untuk menyiasati itu, metode observasi partisipatif, mengikuti kehidupan objek penelitian, bisa digunakan untuk mendekati masyarakat dalam intervensi Tim Pencerah Nusantara COVID-19 (PN COVID-19), namun banyak halangan untuk menerapkan metode tersebut.

Tim PN COVID-19 tentu tidak bisa tinggal bersama masyarakat karena baik kami maupun masyarakat memiliki risiko tinggi terinfeksi COVID-19.  Di sisi lain, kultur masyarakat Indonesia yang guyub menjadi tantangan dalam memutus penyebaran COVID-19. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berkerumun dan bercengkrama satu sama lain, padahal hal itu bisa memacu penyebaran COVID-19.

Saat sore hari ketika ibu-ibu sedang menyuapi anak-anaknya, kami kerap mengobrol santai dan menanyakan perihal COVID-19 sembari menyelipkan pesan edukasi. "Gimana, ya neng? Kita memang suka ngumpul begini dan hiburan kita cuma ini saja. Masa tega nyuruh orang di rumah saja. Bosen, pake masker terus," jawab salah seorang ibu.

Pesan edukasi juga kami sampaikan kepada anak-anak, “Dek, nanti kalau kamu main ke luar rumah harus selalu pakai masker, ya biar nggak kena Corona. Kalau nggak pakai masker, kakak nggak mau main sama kalian, ah!”

Saban sore ada tukang siomay lewat di depan rumah kos kami yang akrab dipanggil Mas Ceki. Mas Ceki mengatakan COVID-19 hanya hoax. Hal itu jelas salah. Sayangnya, anggapan seperti itu juga ada di tempat lain. Sesekali ketika melaksanakan tes rapid dan swab massal dan menanyakan persepsi tentang COVID-19, jawaban seperti Mas Ceki kerap kali terselip.

Selain melakukan pendekataan masyarakat, kami juga menganalisis upaya yang sudah dilakukan puskesmas dan kelurahan untuk membuat warga menerapkan protokol kesehatan. Menurut Paramita Mohamad selaku founder dari Communication for Change (C4C), Tim PN COVID-19 perlu menumbuhkan solidaritas warga untuk saling menjaga di masa pandemi.

Contoh kecil yang terlihat di lapangan adalah tidak adanya proses pemantuan terkait sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) karena tiadanya rasa kepemilikan atas fasilitas itu. Padahal, narasi tentang kedisplinan penting untuk mengatur strategi komunikasi kepada masyarakat.

Pada akhirnya, Tim PN COVID-19 masih harus memperbaiki banyak celah dalam upaya intervensi, mulai dari manajemen konflik antar-pemangku kepentingan hingga komunikasi publik untuk menumbuhkan solidaritas. Meski begitu, kami yakin upaya-upaya ini jika dilakukan dengan konsisten akan memberikan hasil baik bagi masyarakat Tanjung Priok.

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.  

Penulis:

Andhita Nur Nina (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara COVID-19 Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara