Mendiskusikan karir bagi kaum muda adalah topik yang senantiasa mengundang ketertarikan tinggi. Indonesia, dengan populasi kaum muda yang mencapai 26 persen, memiliki potensi bonus demografi di tahun 2030-2045. Untuk memastikan bonus demografi dapat terwujud, kaum muda, dengan segala kekuatan dan potensi pertumbuhan, terus bergerak memajukan pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui sektor-sektor strategis seperti kesehatan.

Sebagai bagian dari orientasi paska penugasan, 26 orang Pencerah Nusantara melanjutkan kegiatan di hari kedua di mana diskusi seputar karir paska penugasan menjadi topik pembahasan utama. Diskusi panel melibatkan tiga pembicara yang mewakili institusi layanan publik, organisasi masyarakat sipil dan usaha startup diharapkan dapat membuka wawasan dan perspektif akan karir prospektif yang sesuai dengan pengalaman kerja dan keahlian tim Pencerah Nusantara.

Dr. Stefani Christanti, Staf Sub Direktorat Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja, Kementerian Kesehatan RI, menyatakan bahwa bekerja sebagai aparatur sipil negara menghadapi kondisi yang jauh berbeda dengan pekerjaan sebagai tim Pencerah Nusantara. “Bekerja sebagai Pencerah Nusantara membuat kita lebih memahami situasi di lapangan yang akan menjadi bekal yang sangat baik dalam merumuskan kebijakan. Harapannya, alumni Pencerah Nusantara dapat memiliki perspektif yang strategis dalam menciptakan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan,” ujarnya ASN sekaligus alumni Pencerah Nusantara angkatan II.

Pengalaman bekerja di lapangan juga membuka kesempatan yang sangat besar untuk bekerja di organisasi internasional. Mardewi, M.P.H, dari Nutrition International melihat keterlibatan kaum muda yang memiliki pengalaman lapangan berkontribusi besar terhadap pemerataan pembangunan. “Organisasi internasional melaksanakan proyek-proyek yang diharapkan dapat membantu menjawab tantangan kesehatan serta melengkapi upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Terjun langsung ke masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pembangunan itu sendiri. Dengan pengalaman lapangan yang dimiliki teman-teman PN, hal ini menjadi nilai tambah yang perlu diangkat pada saat proses melamar kerja,” ujar Mardewi.

Selain terjun langsung ke lapangan, terbukanya akses informasi melalui ketersediaan infrastruktur digital juga membutuhkan perspektif lapangan dalam mengembangkan teknologi kesehatan inovatif.

“Belakangan ini muncul kebutuhan untuk melakukan layanan kesehatan di rumah (home care). Kebutuhan masyarakat yang semakin beragam memicu disrupsi teknologi sehingga bermunculan digital health startup seperti ProSehat. Pencerah Nusantara diuntungkan dari dua sisi: pertama, keterampilan memberikan layanan kesehatan; dan kedua, wawasan kesehatan yang dibutuhkan dalam berbagai fitur yang menunjang layanan kesehatan seperti produksi konten,” ujar dr. Gregorius Bimantoro, pendiri Pro Sehat, sebuah aplikasi kesehatan yang memberikan layanan berupa tanya-jawab dokter, vaksinasi dan layanan kesehatan di rumah (home care).

Peranan alumni Pencerah Nusantara dalam berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan, merupakan potensi kontribusi kaum muda yang bisa dilanjutkan. Pengalaman bekerja di lapangan masih dibutuhkan dalam merumuskan solusi-solusi untuk menjawab tantangan kesehatan sesuai realita.