Menjadi seorang Pencerah Nusantara adalah sebuah pilihan berat. Motivasi yang kuat diperlukan untuk mendukung proses penugasan (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara) 


Seleksi Pencerah Nusantara COVID-19 telah melewati tahap penilaian pertama. Nama-nama peserta lolos tahap awal telah ditampilkan melalui akun media sosial Pencerah Nusantara. Melihat antusiasme pendaftar yang begitu besar, penting untuk mengetahui motivasi serta pengalaman mereka mendaftarkan diri sebagai Pencerah Nusantara COVID-19.

Apalagi, sebagian besar dari pendaftar telah memiliki pekerjaan tetap dan jika mereka terpilih harus meninggalkan pekerjaan mereka selama 6 bulan lamanya. Meninggalkan pekerjaan dan membantu penguatan puskesmas untuk menghadapi pandemi bukanlah pilihan yang mudah. Selain keluar dari zona nyaman, peserta terpilih juga harus menghadapi tantangan bersentuhan langsung dengan ODP ataupun PDP COVID-19 di wilayah penempatan.

Dalam formulir registrasi ditemukan beragam alasan pendaftar mengikuti program ini. Beberapa menyatakan untuk mencari dukungan finansial, beberapa yang lain untuk menambah pengalaman, dan bahkan ada yang mengutarakan untuk membantu pemerintah.

Meski begitu, beberapa yang lain menjawab melaksanakan tugas pengabdian dan panggilan hati. Berikut kami rangkumkan beberapa jawaban motivasi pendaftar COVID-19 yang mengharukan dan membuatmu bangga menjadi seorang tenaga kesehatan.


Kesempatan Mendidik

Virus COVID-19 menyebar begitu cepat dan membuat masyarakat bingung untuk menghadapinya. Padahal, keaktifan masyarakat untuk menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan sangat penting untuk memutus rantai persebaran. Oleh karena itu, beberapa pendaftar Pencerah Nusantara COVID-19 menyatakan bahwa bergabung dengan PN adalah upaya mendidik masyarakat lebih disiplin.

“Masyarakat adalah garda terdepan menghadapi pandemi COVID-19. Namun. Mereka harus terdidik dengan baik untuk berperilaku sehat secara mandiri. Untuk itu saya ingin mendaftarkan diri sebagai PN sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang paripurna.”

Peserta lain menuliskan bahwa pengalamannya ketika mengurus seorang pasien TB yang tidak mau mengaku mendorongnya ingin menjadi Pencerah Nusantara. Sebab perlu diakui, banyak orang tanpa gejala (OTG) yang juga tidak mengaku ketika terinfeksi COVID-19.

“Saya kewalahan menangani pasien yang mengaku batuk biasa, padahal mengidap TB. Ketika ia batuk terus menerus saya menegurnya bahwa kalau ia terus batuk, orang-orang di klinik, termasuk seorang gadis kecil di ruangan itu juga bisa terinfeksi TB.”

Kedua kandidat sama-sama mementingkan aspek komunikasi dalam mencegah wabah COVID-19. Mereka sadar bahwa dengan komunikasi yang baik masyarakat akan bersimpati untuk mencegah penularan penyakit secara mandiri.


Ladang Pengabdian

Kerja sebagai tenaga kesehatan menuntut komitmen yang kuat. Sebab, tenaga kesehatan tidak pernah tahu di mana tempat ia bekerja kelak. Oleh sebab itu, kesiapan mental yang baik harus dibarengi komitmen untuk mengabdi yang paripurna pula. Beberapa motivasi pendaftar PN COVID-19 menampilkan dua kualitas tersebut.

Menjadi Pencerah Nusantara adalah panggilan hati nurani. Pelayanan kesehatan terkait COVID-19 belum merata dan menjangkau seluruh elemen. Saya ingin meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promotif dan preventif dengan menjadi PN.”

Ada beberapa peserta yang secara sadar menyatakan menjadi tenaga kesehatan adalah sebuah beban. Itu dikarenakan ketika pengetahuan tentang kesehatan tidak disampaikan dengan baik, masyarakat akan bingung menjalani hidup dengan sehat. Hal itu terbukti, mengingat dalam kasus COVID-19 banyak kelompok masyarakat yang justru memercayai informasi tidak akurat.

“Sebagai tenakes saya ingin sekali berguna bagi masyarakat melalui tindakan preventif kesehatan, belajar bersama, menambah pengetahuan, dan meningkatkan kualitas kesehatan. Bagi saya setiap orang memiliki hak atas kesehatan yang sama dan tidak bisa dibeda-bedakan.”

Semangat untuk menjadikan Pencerah Nusantara sebagai momentum untuk mengabdi juga muncul dari banyak jawaban peserta lain. Mereka seolah tidak takut dengan kondisi pandemi yang mungkin mengancam keselamatan. Alih-alih demikian, bagi mereka ini adalah konsekuensi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Panggilan Kemanusiaan

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada seleksi Pencerah Nusantara COVID-19 beberapa pendaftar pernah menjadi relawan penanganan COVID-19 di daerah masing-masing. Beberapa pendaftar lain juga bekerja sebagai petugas puskesmas yang bertemu dengan ODP dan PDP setiap harinya.

Bagi mereka, bekerja memutus rantai COVID-19 adalah panggilan kemanusiaan. Dengan jumlah kasus yang tinggi, tidak tersebarnya tenaga medis yang merata, dan kelangkaan APD, kerja mencegah pandemi adalah suatu hal yang sangat berisiko. Meski begitu, mereka sadar bahwa sebagai garda terdepan penanganan COVID-19 segala kondisi tersebut harus dilalui.

“Jiwa kemanusiaan yang tinggi dan latar belakang sebagai tenaga kesehatan adalah alasan saya ingin menjadi Pencerah Nusantara COVID-19. Pelayanan kesehatan yang belum merata dan belum menjangkau seluruh elemen masyarakat adalah tantangan yang perlu saya hadapi. Meski begitu,  saya yakin dengan kerja keras serta usaha bisa memberikan yang terbaik untuk mengatasi pandemi COVID-19,” tulis salah seorang peserta.

Selamat Bagi yang Lolos

Proses seleksi tahap awal telah berlalu. Setidaknya 40 peserta terpilih akan melalui tahap wawancara online pada 11-13 Juli 2020. Untuk itu, kami mengucapkan selamat bagi mereka yang telah lolos seleksi tahap pertama!

Bagi yang belum lolos seleksi tidak perlu berkecil hati, sebab ada banyak cara untuk mengabdikan diri bagi bangsa dan negara, terutama jika kamu adalah tenaga-tenaga kesehatan profesional. Atau jika kamu masih ingin menjadi Pencerah Nusantara, kesempatan selalu ada ketika program ini dibuka kembali.

Ayo, pantau informasi terupdate tentang Pencerah Nusantara melalui website Pencerah Nusantara dan pastikan follow akun media sosial CISDI dan Pencerah Nusantara. Sekali lagi, selamat bagi peserta yang lolos tahap pertama!