Terinspirasi dari tim Pencerah Nusantara, Maria Santi (berkerudung hitam) terinsipirasi menjadi kader posyandu desa sukarami, Provinsi Sumatra Selatan. (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi) 

Desa Sukarami terletak di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan. Kabarnya, desa ini sudah ada semenjak zaman penjajahan, namun tidak ada yang tahu pasti kapan ia mulai ditinggali penduduk. Nama Sukarami berasal dari kata ‘suka’ yang berarti ‘senang’ dan ‘rami’ yang berarti ‘gembira’. Kabarnya, orang-orang dulu kerap beristirahat di desa ini setelah perjalanan jauh sambil bersenda gurau. Oleh sebab itu, desa ini diberi nama ‘Sukarami’. 

Sukarami kini sudah jadi wilayah administrasi resmi. Mulai dari data penduduk hingga demografi masyarakatnya masuk dalam hitungan statistik pemerintah. Meskipun dulu ditengarai sebagai wilayah yang ramai dan menggembirakan, nyatanya desa ini cenderung mengalami beragam masalah, terutama dalam soal kesehatan ibu dan anak. 

Beruntung, desa ini dianugerahi anak-anak muda berbakat dan bersemangat membuat perubahan. Maria Santi, seorang perempuan muda di sana, tergerak mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang masih kerap terjadi di desa ini. Pekerjaan sebagai guru SMA membuatnya sadar bahwa peran pemuda sangat diperlukan untuk memajukan desa. Menurutnya, upaya untuk memperbaiki kondisi generasi muda bisa dimulai dari memperbaiki kesehatan. Salah satu caranya adalah memberikan pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak. 

Suatu hari pada Februari 2017, Maria mengikuti sebuah penyuluhan di rumah kepala desa. Di sana sekumpulan anak muda bernama Pencerah Nusantara (PN) menampilkan presentasi tentang kesehatan ibu dan anak di desa Sukarami. Ada fakta yang membuat Maria gusar, yakni jumlah ibu hamil yang mengonsumsi tablet penambah darah pemberian posyandu hanya berkisar 20 orang. “Padahal, konsumsi tablet penambah darah dalam proses kehamilan sangat penting untuk mencegah anemia pada ibu hamil,” ujarnya melalui wawancara jarak jauh. 

Sosialisasi yang dianggap lemah dan minimnya kehadiran kader posyandu menjadi akar masalah kurangnya konsumsi tablet penambah darah pada ibu hamil. Tepat pada hari itu juga, Maria mengajukan diri menjadi koordinator kegiatan sosialisasi posyandu. Ia tidak berpikir banyak mengambil posisi itu karena telah percaya dengan kawan-kawan PN dan yakin mereka bekerja dengan sepenuh hati. “Saya lihat kawan-kawan PN sangat keren dan saya kagum dengan mereka.”

Dengan Motor Keliling Desa

Maria Santi menerjang hujan, ia memutuskan menjadi penaggung jawab acara senam sehat di desanya. (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi) 

Rencana sudah dibuat, Maria dibantu oleh kawan-kawan PN akan mengadakan senam sehat di posyandu desa Sukarami. Di sela-sela senam itu, bersama bidan desa, mereka sisipkan informasi perihal pentingnya konsumsi tablet penambah darah pada ibu hamil yang bisa diakses di posyandu. Saat itu, akses jalan masih belum terlalu baik, namun warga desa yang harus dijangkau cukup luas. Oleh karena itu, semalam sebelumnya Maria bersama kawan-kawan PN berkeliling desa menggunakan sepeda motor dan menyampaikan perihal senam sehat di posyandu melalui pengeras suara. 

Gerimis mengguyur perjalanan mereka, namun Maria sama sekali tidak berpikir untuk berhenti. “Ini tinggal sedikit lagi, supaya ibu-ibu desa hadir,” ujarnya. Di tengah gerimis itu, mereka hanya berpikir kegiatan senam harus terjadi dan didatangi sebanyak mungkin orang. 

Usaha mereka tidak sia-sia. Usai diguyur gerimis dan suara menjadi parau karena berteriak terus-terusan, acara senam sehat esoknya didatangi ratusan warga desa. Warga-warga yang kebetulan hadir ketika itu tampak riang dan tidak menunjukkan rasa bosan sama sekali. Pandangan mereka yang menganggap posyandu tempat yang membosankan perlahan-perlahan menghilang. 

Maria dan kawan-kawan PN juga sengaja menyisipkan kuis pendek dan hadiah bagi peserta terbaik pada hari itu. Strategi ini memunculkan rasa kekeluargaan yang jarang dirasakan oleh warga desa. “Kalau sudah begini, ibu-ibu biasanya akan lebih nyaman pergi ke posyandu.” 

Aktif Menjadi Kader Posyandu

Peristiwa di posyandu itu mengubah hidup Maria Santi, ia hingga kini mengabdi sebagai kader posyandu di desanya. (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi) 

Peristiwa di posyandu desa ketika itu benar-benar mengubah jalan hidup Maria. Kawan-kawan PN yang kerap bekerja bersamanya kemudian menawarkan ia menjadi kader posyandu. Hal senada juga disampaikan oleh ibu kepala desa. Menurutnya, sangat jarang ada anak muda yang mau jadi kader posyandu dan terlebih kemampuan bahasa daerah yang dimiliki oleh Maria juga akan sangat membantu untuk menyampaikan materi-materi kesehatan. 

Menimbang rasa kepercayaan kawan-kawan PN dan ibu kepala desa, Maria menjadi lebih bersemangat. Ia kemudian mendaftarkan diri sebagai kader posyandu. Ketika ia mendaftar, jumlah kader posyandu bisa dihitung dengan jari. Oleh sebab itu, mulai dari persoalan materi kesehatan dan program-program posyandu ia kerjakan sendiri sembari menambah pengetahuan dari kelas-kelas singkat yang diadakan oleh kawan-kawan PN. 

Maria sadar upaya membangun masyarakat yang sehat tidak dapat berlangsung sebentar. Setiap kali selesai mengajar, ia menyempatkan diri menambah pengetahuan perihal kesehatan ibu dan anak, terutama pengetahuan yang mendukungnya sebagai kader posyandu. Ia juga tidak segan bertanya pada bidan desa perihal persoalan kesehatan tertentu. 

Kini, tidak terasa ia sudah tiga tahun menjadi kader posyandu. Semenjak awal ia dan kawan-kawan PN melakukan sosialisasi kesehatan keliling desa, hanya tercatat 13.33% warga desa yang hadir ke posyandu. Angka itu melonjak menjadi 75.33% pada penghujung tahun 2019 setelah masa tugas PN berakhir.

Selain kunjungan, fasilitas posyandu juga ikut mengalami perkembangan. Jika sebelumnya posyandu ditempatkan di rumah kepala desa, kini sudah tersedia bangunan sendiri. Kawan-kawan PN juga berhasil meningkatkan pengetahuan kader mengenai fungsi 5 meja yang menjadi sistem utama pelayanan posyandu. 

Dengan adanya sarana, prasarana, dan tenaga yang memadai, warga desa pun perlahan menyadari bahwa keberadaan posyandu adalah tanggung jawab bersama. “Dulu yang terlibat di posyandu hanya petugas gizi puskesmas, bidan desa, dan juru imunisasi, tapi sekarang semua (warga desa) terlibat.”

Menjadi Nominasi

Maria tidak menyangka sama sekali, berkat kerja kerasnya menjadi kader posyandu dan mengembangkan kesehatan di desa, ia telah beberapa kali menjadi nominasi penghargaan bergengsi, mulai dari finalis Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2019 hingga yang paling anyar terpilih sebagai nominasi Kartini Millenial Award Tahun 2020.

Meski begitu, bagi Maria yang paling penting bukanlah memenangkan penghargaan, tetapi tetap konsisten dengan upaya pengembangan masyarakat di desanya. “Saya melakukan ini semua demi kemajuan desa, bukan untuk kepentingan pribadi.” Ke depannya Maria juga mengharapkan jumlah kader-kader posyandu meningkat, hubungan kader posyandu dengan puskesmas semakin dekat, dan selalu ada pelatihan kesehatan bagi kader-kader posyandu. 

“Kalau itu semua terwujud, saya yakin desa Sukarami bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. 



Penulis

Amru Sebayang