Seribu hari pertama kehidupan yang dikenal dengan istilah 1000 HPK, dimulai ketika janin bertumbuh di dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Periode ini merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam periode 1000 HPK terjadi proses pembentukan dan perkembangan fisiologis yang berkontribusi pada status kesehatan fisik, kesehatan dan kecerdasan anak. Jika gizi tidak diberikan secara optimal dalam periode tersebut, pertumbuhan anak akan terhambat terbukti dari pencapaian tinggi badan, daya tahan tubuh, serta perkembangan kognitif yang tidak ideal. Anak yang memiliki riwayat permasalahan gizi akan lebih rentan terkena penyakit infeksi, penyakit jantung, Diabetes Mellitus, dan beberapa jenis penyakit kanker. Efek jangka panjang dari permasalahan gizi ini juga akan berdampak negatif pada kualitas sumber daya manusia sehingga angka produktivitas menurun serta tingkat kesejahteraan yang rendah.

Permasalahan gizi yang terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan jika tidak ditangani akan berdampak tidak hanya pada masa pertumbuhan anak namun akan terus berlanjut hingga dewasa. Misal, ketika seorang anak mengalami kekurangan gizi jika tidak ditangani dalam periode 1000 HPK maka anak tersebut akan berisiko tumbuh menjadi remaja yang kurus dan ketika hamil ia akan berisiko menjadi ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK) yang ditandai dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) kurang dari 23,5 cm. Padahal ibu hamil KEK akan berisiko melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil. Jika siklus seperti itu tidak dicegah sedini mungkin, maka ia akan menjadi lingkaran setan yang tak berujung.

Di Kecamatan Losari khususnya enam desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Losari, masih banyak ditemui masalah-masalah gizi. Bedasarkan hasil survey Kesehatan Masyarakat Tim Pencerah Nusantara angkatan 4, hanya 45,2% ibu hamil yang minum tablet Fe kurang dari 90 butir selama masa kehamilan dari total 230 responden. Lebih parahnya sebanyak  8,3% ibu hamil tidak pernah minum tablet Fe. Dari hasil survey yang sama ditemukan juga bahwa prevalensi KEK pada wanita usia subur (WUS) terdapat sebanyak 13,7% dari 388 responden.

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah populasi penduduk terbesar di Indonesia. Jawa Barat juga merupakan salah satu daerah prioritas dalam penanganan kasus gizi buruk. Hasil bulan penimbangan bayi balita pada bulan Agustus 2016 yang dilaksanakan oleh Puskesmas Losari, ditemukan 9,1% balita stunting dan 3,5% balita gemuk. Hasil bulan penimbangan juga menunjukkan,terdapat 24 balita dengan gizi buruk (0,8%) dan 260 balita gizi kurang (8,7%). Sehingga Losari dapat dikategorikan daerah rawan gizi karena dalam suatu wilayah kerja puskesmas terdapat lebih dari 10% balita mengalami gizi kurang dari total sasaran balita. Terlebih lagi, bayi yang mendapat ASI Ekslusif selama 6 bulan masih kurang dari 25%.

Berdasarkan temuan di lapangan, banyak faktor yang memengaruhi masalah gizi tersebut termasuk faktor ekonomi dan sosial budaya. Masyarakat Losari memiliki strata ekonomi menengah ke bawah. Ibu sebagai tokoh utama dalam perawatan anak masih banyak yang bekerja sehingga suami, nenek atau saudaralah yang mengasuh anak. Anak tidak hanya ditinggal dari pagi hingga petang saja, namun hingga bertahun-tahun setelah satu atau dua bulan melahirkan karena ibu bekerja di luar negeri. Hal ini tentunya berdampak pada pola asuh anak. Kemudian, hal ini diperparah dengan berbagai kesadaran dan pengetahuan keluarga yang masih kurang akan pentingnya gizi 1000 HPK. Di samping faktor ekonomi, terdapat beberapa mitos pada masyarakat terkait gizi yang masih mewarnai pola asuh anak . Misalnya, ibu hamil tidak dibolehkan mengkonsumsi udang, cumi dan seafood lainnya karena dipercaya akan membuat tubuh bayi bungkuk. Pada kenyataannya, selain memiliki kadar protein yang tinggi, seafood merupakan bahan makanan yang banyak dihasilkan di wilayah Losari karena Losari merupakan daerah yang terletak pesisir pantai utara Jawa.

                        Pencerah Nusantara berkolaborasi dengan UPT Puskesmas DTP Losari melakukan intervensi dengan menjalin hubungan lintas sektor, melakukan penyuluhan di masyarakat, pembinaan kader gizi dan pendekatan personal dengan masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan sedikit demi sedikit derajat kesehatan masyarakat. Dengan demikian, pemenuhan gizi 1000 HPK dapat secara optimal dimulai dari sebelum kehamilan, pada saat kehamilan, pada saat usia bayi 0-6 bulan, hingga pada saat anak usia 6 bulan – 2 tahun dengan memerhatikan jenis, jumlah dan waktu makan.  


Oleh: Amelia Hidayah, Ahli Gizi Pencerah Nusantara Cirebon