Oktober merupakan bulan di mana kita merayakan kesehatan jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Federasi Dunia Untuk Kesehatan Mental memilih topik pencegahan bunuh diri sebagai tema besar peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini. Menurut data WHO 2019, setidaknya dalam 40 detik terdapat satu orang yang bunuh diri di dunia ini dan terdapat 800.000 orang meninggal akibat bunuh diri. Berkembangnya fenomena bunuh diri menjadi salah satu alasan di balik tema ini. Melalui kampanye sosial yaitu “40 seconds of action”, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran terhadap kesehatan jiwa serta diharapkan mampu mencegah terjadinya niat dan perilaku yang menjurus pada bunuh diri.

Berdasarkan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), Indonesia menempati urutan ke 103 dari 183 negara di dunia yang memiliki angka bunuh diri tertinggi. Hal ini menandakan bahwa beberapa kasus gangguan kesehatan jiwa di Indonesia tidak berpusat pada bunuh diri, melainkan pada kasus psikosis dan depresi. Berdasarkan data RISKESDAS 2018, persentase gangguan kesehatan jiwa psikosis sebesar 7% dan depresi sebesar 6,1%. Artinya 7 dari 100 masyarakat Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa psikosis namun tidak berakhir dengan bunuh diri.

Fakta tersebut tidak luput dari perhatian tim Pencerah Nusantara penempatan Sumbawa Barat. Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan oleh Puskesmas Poto Tano, terdapat peningkatan jumlah kasus ODGJ dari 14 kasus (2014) menjadi 35 kasus (2015). Selain itu, permasalahan seputar Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menjadi perhatian utama di wilayah Puskesmas Poto Tano karena masih banyak praktik pemasungan dan fenomena bunuh diri di kalangan ODGJ. Hal ini disebabkan karena minimnya upaya penjaringan untuk ODGJ, kurangnya langkah preventif kesehatan, kurangnya edukasi terkait gangguan jiwa di tingkat akar rumput, dan minimnya pasien gangguan jiwa yang mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa dan kunjungan sehat.

Salah satu program yang dikembangkan oleh tim Pencerah Nusantara di wilayah kerja Puskesmas Poto Tano di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB dalam mengintervensi praktik pemasungan dan peningkatan kesadaran kesehatan jiwa adalah program Poto Tano Ramah Jiwa.

Tujuan dari pembentukan Poto Tano Ramah Jiwa adalah untuk meningkatkan cakupan ODGJ yang mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa, menguatkan pelayanan kesehatan jiwa yang bersifat preventif dan rehabilitasi, dan mengubah stigma negatif di kalangan masyarakat terhadap ODGJ. Program ini menargetkan kelompok pasien dengan gangguan jiwa dan kelompok masyarakat sehat melalui pendampingan untuk home visit; advokasi kepada pemerintah desa dan masyarakat tentang kesehatan jiwa; pembentukan kelompok swabantu; integrasi dengan kegiatan lintas sektor; dan monitoring serta evaluasi program.