Tingginya angka pernikahan dini di Indonesia masih menjadi perhatian publik. Berdasarkan data BKKBN 2019, angka pernikahan di bawah usia 20 tahun di Indonesia mencapai 11,2 persen. Angka ini masih terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Terlebih dengan adanya peningkatan populasi dalam rentang usia produktif, potensi kasus pernikahan di usia dini terus meningkat. Praktik pernikahan usia dini ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi dan pergaulan bebas, tetapi juga tidak adanya pendidikan seksual sejak dini. Edukasi seputar kesehatan reproduksi dapat menjadi upaya pencegahan utama dalam praktik pernikahan usia dini terutama bagi remaja.

Pernikahan usia dini juga muncul sebagai salah satu isu terbesar di kalangan remaja Desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur. Menurut data Pencerah Nusantara di 2012, remaja desa Tosari memiliki pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi. Hal ini berpengaruh terhadap tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan, tingginya angka pernikahan dini, dan banyaknya remaja desa Tosari melakukan tindakan aborsi. Berdasarkan data tersebut, tim Pencerah Nusantara bersama Puskesmas Tosari dan kaum muda desa Tosari menginisiasi program Laskar Pencerah. Laskar Pencerah merupakan sebuah inisiatif untuk meningkatkan derajat kesehatan remaja melalui tutor sebaya seputar kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah dan tempat tinggal mereka. Program ini bertujuan untuk menekan angka pernikahan dini yang terjadi di Desa Tosari melalui edukasi kesehatan reproduksi.

Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Laskar Pencerah yaitu pelatihan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan rokok kepada kader atau posyandu remaja, pembinaan posyandu remaja melalui diskusi dengan pihak terkait, advokasi kepada Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan Puskesmas untuk bekerja sama, pembentukan tim pengurus KRR, dan publikasi kegiatan Laskar Pencerah sebagai salah satu upaya promosi kesehatan di kalangan masyarakat desa Tosari.

Pencapaian dari program Laskar Pencerah adalah meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja, menjangkau 6 desa dengan 8 posyandu sebagai mitra, penyuluhan hidup sehat di kalangan pelajar di 6 SMP dan 3 SMA, dan program Laskar Pencerah berhasil dikembangkan menjadi program Posyandu Remaja sekaligus diadopsi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan sebagai program inovasi kecamatan. Selain itu, Laskar Pencerah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi SATU Indonesia Award 2016. Hal ini menandakan bahwa peran kaum muda menjadi faktor penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.


Penulis:
Angga Prabowo