Kejujuran masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menghadapi pandemi COVID-19 di Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Sumber: Dok. Pencerah Nusantara

Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Hingga catatan ini ditulis (15/08) angka positif COVID-19 mencapai 137.468 kasus dengan rincian 6.071 meninggal, 91.321 sembuh dan 76.327 suspek. Tidak hanya di ibu kota, kejadian ini menyebar ke seluruh wilayah, terutama di Kecamatan Bandung Kulon, Jawa Barat. Kecamatan Bandung Kulon merupakan salah satu Kecamatan dengan angka kejadian kasus positif tertinggi kedua setelah Kecamatan Cicendo.

Sebagai salah satu wilayah yang menyumbang angka kejadian kasus tertinggi, semua sektor di Kecamatan Bandung Kulon harus lebih tanggap merespon kehadiran COVID-19. Berbagai upaya kesehatan telah dilakukan untuk menekan laju penyebaran kasus ini sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis penanganan kejadian COVID-19.

Salah satunya dengan melakukan kontak tracing sebanyak-banyaknya untuk kurang lebih 10 hingga 90 kontak erat kurang dari 72 jam pada kasus konfirmasi dan orang-orang yang terduga menjadi kontak erat, baik itu keluarga, tetangga, hingga rekan kerja yang berkontak dengan pasien. Sayangnya, upaya-upaya menekan penyebaran tidak selalu disambut baik oleh masyarakat, terkhusus mereka yang dinyatakan positif COVID-19.

Saya tidak pernah keluar rumah jadi tidak mungkin saya terkena Corona, ujar salah seorang warga. Penolakan-penolakan semacam itu kerap kali diterima oleh petugas kesehatan saat melakukan contact tracing. Tidak hanya itu, tidak jarang pesan WhatsApp petugas kesehatan dibalas seadanya. Ada juga yang sengaja tidak membaca pesan tersebut, tidak mengangkat telepon dari petugas, hingga memblokir nomor WhatsApp petugas kesehatan.

Belum lagi, pada saat proses pemantauan harian pasien kerap merasa risih ketika ditanya status kesehatan serta gejala yang mungkin timbul pada saat isolasi. Bagi sebagian besar pasien, isolasi adalah momok yang sangat menyeramkan karena bisa menjauhkan mereka dari lingkungan sekitar. Alasan tersebut menjadikan sebagian besar pasien lebih memilih isolasi mandiri di rumah,  meski terkadang rumah pasien tidak selalu memenuhi standar untuk isolasi. 

Hal ini menjadi hambatan bagi petugas kesehatan memutus rantai penularan. Belum lagi pasien yang betul-betul tidak ingin memberikan nomor kontak erat yang bisa dihubungi untuk ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan. Sejak pandemi COVID-19 melanda, warga Bandung kulon yang semula ramah dan terkenal jujur berubah menjadi tertutup. Integritas mulai melayang di tengah lonjakan kasus COVID-19 yang mengadang. Jika sikap warga yang seperti ini terus berlangsung, dalam waktu yang lama bukan tidak mungkin angka penyebaran kasus sulit untuk ditekan dan dikendalikan.

Pasien-pasien isolasi mandiri juga kerap meresahkan warga. “Saya tidak pernah ke mana-mana hanya di rumah saja tidak bertemu orang-orang,” jawaban-jawaban tersebut tidak selaras sama sekali dengan laporan-laporan yang bersumber dari masyarakat. Ketidakjujuran pasien menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi petugas kesehatan. 

Wajar jika pada akhirnya kita jumpai tenaga-tenaga kesehatan yang pesimis dengan ketidakpastian pandemi. Mereka lelah karena tidak pernah senada dengan perilaku masyarakat, ditambah dengan kenyataan bahwa banyak sejawat yang telah berguguran akibat ketidakjujuran penderita. Kejujuran menjadi satu hal yang mahal harganya. Banyak yang lupa bahwa kejujuran dan kepatuhan mereka dapat menyelamatkan banyak nyawa tidak hanya keluarga, namun juga tetangga hingga rekan kerja. 

Di sisi lain, alasan penolakan sangat sederhana, bukan karena merasa terganggu ketika dimintai keterangan oleh petugas kesehatan, namun karena mereka tidak ingin di-labeling ketika kontak erat mengetahui identitas mereka. Kebanyakan pasien khawatir dengan stigma yang sering dilayangkan oleh masyarakat bahwa mereka adalah pembawa virus, seolah penyakit ini adalah aib. Padahal, penderitanya sendiri tidak tahu ia terkena di mana dan mendapatkan transfer virus dari siapa. Sungguh tindak jujur dan kooperatif dari masyarakat bukan hanya meringankan tugas tenaga kesehatan, tetapi juga menyelamatkan banyak nyawa.

Srikandi Masker

Perwakilan pemerintah daerah, seperti Rukun Warga (RW) bisa menampilkan empati kepada publik luas dalam upaya pencegahan penyebaran wabah. (Sunber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

Masyarakat memang kerap tidak jujur dalam menyampaikan status kesehatan mereka. Hal ini kerap membuat bingung pemerintah daerah setempat. Meski demikian, tindakan turun langsung ke masyarakat tetap diperlukan. Hal ini untuk menampilkan urgensi upaya-upaya pencegahan penyebaran COVID-19 sekaligus menampilkan kepedulian pemerintah daerah kepada masyarakat.

Di Kelurahan Cigondewah Kidul seorang Ketua RW bernama Ibu Ella bisa menjadi contoh baik pemerintah daerah yang sangat peduli dengan masyarakatnya. Ibu Ella bercerita sulitnya warga mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker. Meski begitu, dia juga bercerita bahwa warganya lama-lama patuh juga memakai masker dan membagikan kiat suksesnya kepada Ketua-Ketua RW lain yang hadir di sebuah forum pertemuan.

Di awal pandemi COVID-19, Ibu Ella memang hanya berkeliling memberikan imbauan agar warga memakai masker. Ada warganya yang menjawab, “Ibu RW, bagaimana kami mau menggunakan masker. Maskernya juga tidak ada, terus aja disuruh pakai masker, kasih dong kami maskernya.” Mendengar keluhan warga itu membuat Ibu Ella berpikir mencari bantuan masker untuk dibagikan ke warganya secara cuma-cuma. Dia berkomunikasi dengan pihak kelurahan dan mendatangi para pengusaha kain di sentra kain Cigondewah.

Usaha tidak mengkhianati hasil, Ibu Ella mendapatkan bantuan masker yang banyak untuk dibagikan kepada warganya. Bersama kader PKK lainnya, ia berkeliling ke rumah-rumah membagikan masker sambil memberikan edukasi agar warga mau memakai masker. Apakah usaha tersebut berhasil untuk membuat warga RW 03 patuh memakai masker? Ternyata tidak, banyak warga yang tidak disiplin memakai masker, keluar rumah, atau berpergian tak menggunakan masker dan ada juga yang maskernya hanya digantung di leher.

Meihat kondisi ini, Ibu Ella tidak mau menyerah begitu saja. Ibu RW 03 ini meyakini nilai-nilai filosofis sunda yaitu Cik karacak ninggang batu laun-laun jadi legok yang artinya usaha yang pelan-pelan dilakukan secara konsisten lama kelamaan akan membuahkan hasil. Usaha memberikan imbauan memakai masker tetap dilakukan, namun lebih gencar. Ibu Ella berkeliling dan jika melihat warganya tidak menggunakan masker langsung ditegur dan disuruh menggunakan masker pada saat itu juga. Bahkan Ibu Ella meneriaki warganya yang tidak mau pakai masker, “Aa Teteh, Bapak Ibu pakai maskernya.” Lama kelamaan warga mulai patuh menggunakan masker.

Usaha Ibu Ella untuk membuat warga patuh memakai masker terlihat berhasil di bulan Juli. Warga yang tadinya tidak mau pakai masker jadi mau menggunakan masker, meski motivasinya berbeda-beda. Ada satu warganya yang mengatakan, “Sebenarnya kami terpaksa menggunakan masker, soalnya kasihan sama Ibu RW setiap hari teriak-teriak menyuruh memakai masker. Jadi, kami pakai masker saja, tapi lama-lama jadi kebiasaan juga. Kalau keluar rumah tidak memakai masker rasanya ada yang kurang.”

Ibu Ella telah memberikan pembelajaran bagi kita semua, bahwa dalam mendisiplinkan warga untuk memakai masker perlu usaha yang dilakukan secara terus menerus. Nilai-nilai lokal di tanah sunda yaitu Cik karacak ninggang batu laun-laun jadi legok, bisa menjadi prinsip dasar yang diterapkan dalam upaya edukasi kepada masyarakat atau dalam upaya respon COVID-19 lainnya. Perihal kejujuran masyarakat juga akan terbentuk ketika pemerintah daerah menampilkan empati kepada masyarakat setempat. Langkah-langkah ini diperlukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, khususnya di wilayah Bandung Kulon.


Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat. 


Penulis

Deni Frayoga (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

Murti Utami Putri (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara COVID-19 Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung