Desa Teluk Kenduri, sebuah desa yang terletak Kecamatan Kahayan Hulu Utara, Kabupaten Gunung Mas memiliki perkumpulan ibu-ibu yang sangat aktif. Seperti pada siang yang terik di hari Rabu, 22 November 2018, para ibu hamil tampak berkumpul bersama dengan kader kesehatan di salah satu rumah. Perkumpulan ini dilakukan bukan untuk melakukan pemeriksaaan kehamilan, melainkan mengikuti kelas ibu hamil. Menurut Kementerian Kesehatan, kelas ibu hamil adalah kelompok belajar bagi para ibu dengan usia kehamilan antara 20-32 minggu dengan peserta maksimal 10 orang. Kelas ibu hamil bertujuan untukmeningkatkan pengetahuan dan keterampilan sang ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas (paska ibu bersalin sampai 40 hari), perawatan bayi baru lahir, bahkan mendiskusikan mitos dan penyakit menular.

Ninawaty namanya, seorang bidan penanggung jawab wilayah Desa Teluk Keduri yang saat itu dengan semangat memfasilitasi kelas ibu hamil. Sudah 18 tahun ia mengabdikan diri sebagai bidan di Puskesmas dan menjadi fasilitator beberapa pertemuan kelas ibu hamil. “Saya lihat sampai saat ini pengetahuan ibu hamil tentang proses kehamilan, proses persalinan, dan proses perawatan bayi masih kurang. Selain itu, kesadaran ibu untuk bersalin di fasilitas kesehatan masih rendah. Oleh karena itu, saya tergerak untuk mengoptimalkan fungsi kelas ibu hamil dengan inovasi untuk menarik minat masyarakat,” ungkapnya. 

Didampingi juga oleh Brian Sahar, Bidan Pencerah Nusantara, kegiatan ini menghasilkan Papan Impian Ibu Hamil. Papan Impian Ibu Hamil adalah sarana untuk menuliskan harapan ibu hamil terhadap proses kehamilan, kelahiran, dan bayi yang dikandungnya. Para Ibu hamil dengan antusias menuliskan dan menempelkan harapannya di Papan Impian Kelas Ibu Hamil yang akan ditempel di Posyandu guna membangkitkan afirmasi positif kepada ibu dalam menjalani proses kehamilan, proses persalinan, dan proses perawatan bayi. Selain pengisian papan harapan, para ibu juga melakukan diskusi serta tukar pengalaman antara ibu hamil dan fasilitator serta membahas materi di Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang merupakan salah satu media kelas ibu hamil sederhana.

“Tidak mudah menggerakkan kelas ibu hamil, karena mereka sulit dikumpulkan dalam satu waktu, biasanya mereka ikut suami nyedot (menambang emas), melakukan pekerjaan rumah, atau kalau musim durian seperti sekarang pergi ke kebun menunggu durian jatuh”, tutur Ninawaty.

Tantangan ini yang kerap dihadapi Puskesmas Tumbang Miri sebagai puskesmas yang bertanggung jawab terhadap kesehatan ibu dan anak di wilayah Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Tetapi, hal ini tidak menyurutkan semangat Ninawaty untuk terus menyelenggarakankelas ibu hamil dan berinovasi seperti membuat Papan Impian Ibu Hamil dan mengaktifkan kembali senam ibu hamil.

Gayung bersambut, antusiasme ibu hamil meningkat ketika Ninawaty mengajak ibu menulis impian dan mengajak ibu melakukan senam ibu hamil.

“Kelas ibu hamil menjadi agenda penting untuk membekali ibu hamil dengan informasi terkait proses kelahiran dan perawatan nifas. Kelas ini merupakan perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak, karena kelas ini gerbang utama kesehatan ibu dan bayi baru lahir di desa yang jauh dari akses informasi”, ujar Brian.

Penulis : Brian Sahar (Bidan Pencerah Nusantara angkatan 6, penempatan Gunung Mas)