Berdasarkan data Puskesmas Tumbang Miri, Kecamatan Kahayan Hulu Utara (Kahut), Provinsi Kalimantan Tengah, kondisi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah tersebut terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Total satu orang ibu dan enam bayi meninggal akibat pendarahan, gagal bernafas dan penyakit demam maupun diare pada bayi baru lahir. Gambaran AKI dan AKB ini menjadi gambaran bahwa Indonesia masih menghadapi permasalahan kesehatan yang berdampak serius terhadap angka harapan hidup. Salah satu cara menilai derajat kesehatan masyarakat, adalah dengan mengacu pada indikator Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di suatu negara. 

Penekanan angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator kesehatan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Menuju tahun 2030, Indonesia menargetkan pengurangan angka kematian ibu hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran dan menurunkan angka kematian balita 25 per 1.000 KH. Target ini tentu akan sulit dicapai bila kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu melahirkan masih belum tidak maksimal.

Hasil penelitian World Health Organization (WHO) di 97 negara tahun 2002-2003 menyimpulkan adanya korelasi signifikan antara kualitas pertolongan persalinan dengan kematian ibu. Hasil penelitian menyebutkan semakin tinggi jumlah persalinan oleh tenaga non kesehatan (dukun bersalin) maka semakin membahayakan keselamatan ibu dan bayi, terutama karena dukun bersalin tidak memiliki kemampuan ataupun pendidikan yang cukup untuk menangani komplikasi saat dan setelah bersalin.

Sebagai langkah upaya untuk menekan AKI dan AKB agar tidak terus meningkat, Puskesmas Tumbang Miri dan Pencerah Nusantara menginisiasi ajakan kemitraan antara dukun dengan bidan. Upaya  dilakukan sejak tahun 2015 di Desa Dandang, kemudian di Desa Pasangon, dan pada tahun 2018 kemitraan telah terjalin di empat desa dan satu kelurahan. Kemitraan  melibatkan 19 orang dan 17 bidan penanggung jawab wilayah desa. Kemitraan tersebut menghasilkan beberapa pertemuan untuk membahas pembagian peran bidan dan dukun serta pelatihan deteksi dini resiko tinggi  ibu hamil, bayi baru lahir,  ibu nifas dan perawatan bayi baru lahir serta ibu nifas.

“Dengan kemitraan bidan dukun, bidan sangat terbantu dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi. Dukun pun tidak akan kehilangan profesinya, bahkan akan lebih sejahtera. Saya optimis kemitraan ini akan membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kahut”, ujar Bidan Sri Rahayun, bidan yang sudah 20 tahun bekerja di wilayah Puskesmas Tumbang Miri. Ia menyadari pengetahuan dukun harus diperbarui update karena masih banyak masyarakat lebih mempercayakan pertolongan persalinan sampai perawatan bayi baru lahir kepada dukun, bukan bidan. 

Selain karena merasa bahwa pengetahuannya masih perlu ditambah, risiko salah langkah dalam penanganan Ibu melahirkan juga menjadi alasan kemitraan dua pihak tersebut. Ibu Neti, dukun bersalin yang sudah menolong persalinan sejak 15 tahun lalu mengatakan setuju bergabung karena takut terjadi komplikasi pada ibu dan bayi. “Selama ini saya panggil bidan menyuntik ibu setelah melahirkan dan mengimunisasi bayi. Soalnya takut mereka jadi sakit dan meninggal. Hari ini, saya dapat pengetahuan tugas bidan dan dukun bersalin. Kami sudah bermitra berarti saya harus memanggil bidan dari awal ibu mau bersalin.”

Brian Sahar, bidan Pencerah Nusantara juga menyampaikan para dukun memiliki hak untuk mendapat sosialisasi atas perannya di ranah lintas sektor serta mendapat pembinaan setiap tahun yang dibiayai negara melalui Kementerian Kesehatan. Selain mendapatkan sosialisasi dan edukasi, kemitraan tersebut juga melahirkan komitmen untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, yang ditandatangani dukun bersalin dan bidan penanggung jawab wilayah desa. 

Penulis : Brian Sahar (Bidan PN 6 Gunung Mas)