Lindu merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Lindu memiliki keunikan tersendiri karena daerah ini terdapat penyakit endemik, yaitu schistosomiasis. Selain penyakit endemik, Lindu memiliki beberapa permasalahan kesehatan. Salah satunya adalah masalah gizi buruk pada balita. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh tim Pencerah Nusantara, sebanyak 2,2% balita terdeteksi status gizi sangat buruk; 4,8% balita mengalami gizi kurang; dan 11,5% balita kurus. Ketersediaan variasi makanan sehat pun menjadi salah satu faktor pendukung status balita gizi buruk. Menurut survey tim Pencerah Nusantara, lebih dari setengah masyarakat Lindu memiliki menu makanan yang tidak bervariasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya daya beli dan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai tempat menanam sayur dan buah.

Di luar dari bidang pemenuhan gizi, promosi kesehatan di posyandu seperti aktivasi kegiatan posyandu perlu digalakkan kembali dengan dukungan berbagai lintas sektor. Tujuan dengan adanya aktivasi kegiatan posyandu adalah untuk meningkatkan pengetahuan maupun sikap dan perilaku masyarakat seputar pola hidup sehat serta meningkatkan asupan gizi bagi masyarakat melalui pilihan makanan yang tersedia di daerah tempat tinggal mereka.

Peluang dan Tantangan

Di Kecamatan Lindu terdapat banyak rumah warga yang memiliki pekarangan yang cukup luas. Pekarangan rumah terkadang menjadi tempat yang terabaikan dan bahkan kotor karena hewan peliharaan banyak berkeliaran di pekarangan rumah warga. Pekarangan rumah warga yang seharusnya menjadi ruang hijau atau ruang sumber pangan berskala mikro, tidak dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan perilaku warga Lindu yang memiliki hewan peliharaan, tim Pencerah Nusantara melihat adanya peluang untuk mengubah fungsi pekarangan rumah menjadi ruang untuk menghasilkan sumber pangan.

Salah satu program Posyandu Lindu yang memiliki relasi kuat dengan pemanfaatan ruang menjadi sumber pangan adalah program Itik Ceria Lindu. Program ini memiliki fokus pada upaya substitusi pemenuhan asupan makanan bergizi yang berasal dari itik. Selain menjadi sumber gizi, itik dapat menjadi komoditas untuk sumber pendapatan masyarakat di Lindu. Program Itik Ceria Lindu merupakan upaya intervensi lintas sektor yang melibatkan kader kesehatan seperti bidan desa, kader posyandu, dan perangkat desa untuk beternak itik melalui skema pengelolaan bersama dengan Posyandu Lindu. Program Itik Ceria Lindu menyasar 55 orang kader dari 11 posyandu di Kecamatan Lindu. Kegiatan yang dilakukan melalui program ini meliputi sosialisasi cara beternak itik bersama kader Posyandu Lindu, Dinas Peternakan, dan masyarakat Lindu; pemberian bantuan itik berusia 4 bulan kepada kader dan masyarakat untuk diternakkan; serta monitoring dan evaluasi program Itik Ceria Lindu.

Dalam kurun waktu tiga tahun, Program Itik Ceria Lindu memberikan beragam pencapaian seperti meningkatkan angka kunjungan ke posyandu, meningkatkan kesadaran akan kesehatan terlebih dalam upaya penurunan angka gizi buruk, dan advokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi mengenai “Gerakan Sejuta Telur” untuk memperbaiki gizi buruk.