Di sebuah siang yang terik, petugas gizi Puskesmas (PKM) Tumbang Miri, Kabupaten Gunung Mas, Berdianto Amg, melakukan kunjungan ke beberapa rumah bayi balita di Kecamatan Kahayan Hulu Utara. Salah satu yang dikunjungi Pak Berdi adalah Bayi Defan. Kunjungan rumah merupakan kegiatan rutin PKM Tumbang Miri untuk memastikan pemberian ASI Ekslusif yang dilakukan setiap bulan.

Hasil dari kunjungan tersebut, Bayi Defan dinyatakan sebagai satu dari empat bayi lulus ASI Ekslusif di 12 desa wilayah kerja Puskesmas Tumbang Miri.

Berdasarkan data profil kesehatan Kalimantan Tengah tahun 2017, baru 9,7 persen bayi mendapatkan ASI Ekslusif. Padahal merujuk dari Peraturan Menteri Kesehatan mengenai Standar Pelayanan Kesehatan, standar pelayanan minimal pemberian ASI Ekslusif dalam satu tahun di sebuah kabupaten idealnya 100 persen. Hal ini berarti seluruh bayi yang berada dalam sebuah kabupaten berhak mendapatkan ASI Ekslusif.

Ingin mengejar ketertinggalan, Kabupaten Gunung Mas menetapkan target capaian tahun 2018 sebesar 47 persen bayi mendapat ASI Ekslusif. Namun, hingga saat ini capaian ASI Eksklusif di salah satu wilayah Kabupaten Gunung Mas yaitu di Kecamatan Kahayan Hulu Utara dari bulan Januari hingga Juli baru mencapai 2,1 persen.

Bulan ini Bayi Defan dari Kelurahan Tumbang Miri menyumbang capaian tersebut dengan menjadi satu-satunya bayi sekelurahan yang lulus ASI Ekslusif, sementara tiga bayi lainnya berasal dari Desa Tumbang Korik. Seorang bayi lulus ASI Ekslusif di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah adalah sebuah prestasi, dikarenakan budaya masyarakat turun temurun memberikan santan dan kopi pada bayi baru lahir.

Bayi Defan adalah anak kedua pasangan Arbayah dan Dirjo. Ibu Defan bercerita anaknya tidak pernah mengalami sakit, berbeda dengan anak pertamanya. Begitu juga tumbuh kembangnya, Bayi Defan aktif merangkak serta sesekali berusaha menyeimbangkan tangan dan lutut, juga sudah bisa duduk.

“Defan berbeda dengan kakaknya. Dulu kakaknya langsung dikasih santan dan kopi oleh Tambi (nenek) dan Bue (kakek) begitu lahir. Menurut saya ASI Ekslusif bikin bayi enggak gampang sakit terus jadi aktif anaknya,” pengakuan Arbayah, Ibu Defan.

Rima Sumayyah Ahmad S.Gz, ahli gizi Pencerah Nusantara 6 yang bertugas mendampingi petugas gizi puskesmas dalam pelayanan dan intervensi masyarakat turut menegaskan bahwa pemberian ASI bukan hanya masalah kuantitas.

“Kualitas pemberian ASI Eksklusif perlu diperhatikan dengan baik khususnya oleh para ibu karena masih banyak masyarakat kita yang belum memahami betul pengertian ASI Ekslusif. Pemberian ASI Eksklusif saja tanpa makanan tambahan lain, masih banyak ditemukan di Kabupaten Gunung Mas. Termasuk pemberian ASI yang disertai dengan kopi dan santan. Defan membawa angin segar untuk kita tenaga kesehatan dan masyarakat, merupakan suatu prestasi karena telah lulus ASI Ekslusif. Hal ini membuktikan, jika ibu diberikan informasi yang tepat, maka pemenuhan gizi sangat mungkin untuk dilakukan” ucapnya.

“Bayi Defan menjadi bukti, upaya kita melakukan sosialisasi ASI Ekslusif melalui program Puskesmas seperti Kelas Ibu Hamil, Posyandu dan Kelas Ibu Balita mulai meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI. Hal ini tidak mungkin diwujudkan tanpa kolaborasi, dalam hal ini Puskesmas Tumbang Miri dan tim Pencerah Nusantara”, tutup Pak Berdi.

Upaya edukasi kesehatan menjadi katalis perubahan di tingkat akar rumput, seperti yang dilakukan oleh Puskesmas Tumbang Miri bersama tim Pencerah Nusantara. Pencerah Nusantara sendiri adalah tim profesional muda kesehatan yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk mendorong perbaikan pelayanan kesehatan primer demi mewujudkan masyarakat dengan paradigma sehat. Program ini dikelola oleh CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative) dan sudah direplikasi oleh Kementerian Kesehatan RI menjadi program skala nasional, Nusantara Sehat.

Penulis: Brian Sahar Afifah ( Bidan Pencerah Nusantara Gunung Mas)