Peran tenaga kesehatan selalu dikaitkan dengan tindakan kuratif atau “pengobatan”. Padahal, jika mengingat semboyan “mencegah lebih baik dari mengobati,” tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam upaya promotif dan preventif. 

Tenaga kesehatan, apapun gelar profesinya, bisa disebut sebagai penjaga utama kesehatan masyarakat. Mereka merupakan kelompok profesional yang memiliki pemahaman teknis maupun non-teknis tentang pembangunan kesehatan dalam masyarakat.

Keadaan pembangunan yang tidak merata di Indonesia menimbulkan ketimpangan pelayanan kesehatan di banyak daerah. Di sanalah, kehadiran peran tenaga kesehatan menjadi semakin sentral. 

Sebagai upaya mengurangi jurang ketimpangan, CISDI melalui Program Pencerah Nusantara memfasilitasi keberadaan tenaga-tenaga kesehatan profesional di berbagai wilayah tertinggal di Indonesia. 

“Peran tenaga kesehatan sangat besar dalam upaya promotif dan preventif di berbagai daerah,” ujar Deni Frayoga, Ketua Tim Pencerah Nusantara Angkatan V Mamuju Utara pada diskusi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, UGM (1/12).

Deni yang kini bekerja sebagai pekerja sosial menceritakan ketimpangan yang terjadi di Mamuju Utara, tempat ia bertugas sebagai Pencerah Nusantara dua tahun yang lalu. Problem yang dihadapi puskesmas setempat tidak hanya kurangnya jumlah tenaga kesehatan, tetapi juga belum optimalnya sistem administrasi. 

“Di daerah yang belum berkembang bahkan sistem rujukan belum tertata,” ujarnya. 

Padahal, sistem rujukan penting untuk meningkatkan kenyamanan penduduk. Ketika muncul ketidaknyamanan, penduduk akan enggan untuk pergi ke puskesmas. Jika itu terjadi, puskesmas akan kesulitan menjalankan peran promotif dan preventif.

Karena permasalahan itu, Deni bersama tim berusaha menguatkan pelayanan puskesmas. Diketahui masalah pelayanan puskesmas terjadi karena manajerial yang buruk. 

Deni lantas mengadakan kegiatan pendampingan akreditasi puskesmas. Tujuannya, untuk meningkatkan mutu pelayanan. Pegawai puskesmas juga ditingkatkan kapasitasnya melalui beragam pelatihan dan lokakarya.

“Kalau tenaga kesehatannya siap, upaya preventif dan promotif lebih mudah dilakukan.”

Begitu puskesmas dan tenaga kesehatan dibenahi, Deni lantas melakukan intervensi gizi dan program untuk ibu hamil. Program intervensi bernama Kawal Ibu Hamil ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak semenjak dalam kandungan.

Wilayah hidup yang sehat adalah inti dari pembangunan kesehatan. Karena itu, kerja sama dengan kepala daerah dan pemangku kepentingan juga penting. 

Selain aktif dengan Program Kawan Ibu hamil, Deni dan tim juga kerap mengadakan mendampingi kades menyiapkan perdes. “Kalau ada Perdes, dana desa bisa dialokasikan untuk program kesehatan.” 

Periode reses, masa musrenbang, forum PKK, dan forum kecamatan juga selalu digunakan untuk mensosialisasikan pentingnya kesehatan di tingkat desa. Di tingkat kabupaten, Deni juga kerap ikut serta dalam Forum Satuan Kerja Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan, dan Sidang Paripurna DPRD.

“Semua itu juga bagian usaha promotif kesehatan dalam bentuk advokasi.” 

Di samping advokasi, mengikutsertakan penduduk sekitar juga sangat penting. Para tokoh setempat perlu diberdayakan untuk mendukung upaya promotif. Dari proses itu, Deni sering mengikutsertakan tokoh-tokoh adat setempat dalam program-program kesehatan. 

Tidak lupa, ia juga membangun gerakan sosial dengan mengikutsertakan penduduk setempat, supaya program-program kesehatan berjalan berkelanjutan. 

“Penduduk setempat harus dilibatkan untuk menggali masalah dan menemukan solusi. Bahkan masyarakat yang potensial bisa dijadikan kader puskesmas,” ujar Deni. 

Untuk menjaga derajat kesehatan masyarakat, peran tenaga kesehatan sangatlah penting, terutama dalam aspek promotif dan preventif. Meski begitu mereka tidak bisa bergerak sendiri. diperlukan kerja kolektif dengan pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang baik. 

Bagaimanapun, upaya untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dasar adalah cara untuk mengatasi jurang ketimpangan di daerah-daerah tertinggal. 

Dengan begitu, paradigma masyarakat yang mengedepankan upaya kuratif atau pengobatan akan bergeser perlahan ke arah upaya promotif dan preventif atau pencegahan.

“Kuncinya (meningkatkan derajat kesehatan masyarakat) adalah kolaborasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan juga masyarakat,” tutup Deni. 


Penulis:

Amru Sebayang