Narasi RPJMN Tahun 2020-2024 menyampaikan berbagai keberhasilan program pembangunan Pemerintah Indonesia. Salah satunya terkait dengan penurunan angka stunting dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,8% pada 2018.

Tahun 2024 pemerintah menargetkan angka stunting berada di kisaran 19%. Target itu penting karena Indonesia, meski mengalami pencapaian gizi signifikan, masih tergolong sebagai negara dengan status gizi buruk oleh WHO lantaran melebihi batas toleransi stunting sebesar 20%.

Secara umum, stunting terjadi karena rendahnya asupan gizi dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak atau ketika anak masih berupa janin hingga berumur dua tahun. Oleh sebab itu, persoalan stunting lekat dengan masalah ekonomi, sosial, dan budaya di suatu wilayah.

Anak yang lahir dalam kondisi stunting biasanya akan mengalami gangguan kecerdasan, kesulitan berbicara, dan sulit fokus belajar. Ini menyebabkan kecenderungan mereka menjadi tidak produktif di masa depan dan kurang bisa berkontribusi pada pembangunan daerah. Sebab itu, peran serta tenaga kesehatan daerah untuk mencegah stunting sangatlah diperlukan.

Sri Nurnaningsih telah mengabdi selama 20 tahun sebagai tenaga kesehatan di Kabupaten Grobogan. Perempuan yang kini bertugas sebagai penanggung jawab gizi Puskesmas Kradenan I, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, punya cita-cita besar untuk mengatasi masalah gizi di daerahnya.

“Saya tidak ingin ada ibu yang menyesal melihat anaknya tidak tumbuh normal seperti yang lain,” ujar Ibu Sri.

Persoalan gizi adalah masalah kronis di Grobogan. Kabupaten ini bahkan termasuk dalam daftar 100 kabupaten/kota  prioritas untuk penanganan stunting di tingkat nasional.

Hampir setiap hari ada saja anak yang lahir dengan penurunan berat badan yang drastis. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, mengingat banyak warga Grobogan yang menjadikan aktivitas fisik seperti bertani dan bersawah sebagai sumber mata pencarian.

Ibu Sri, meski begitu, tidak ingin berlarut-larut meratapi kondisi tersebut. Bersama dengan Tim Pencerah Nusantara mereka berdiskusi, mencari solusi terbaik dari permasalahan gizi di Grobogan. “Saya yakin dengan kerjasama kita bisa menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Setelah bergerak mengedarkan survey dan melakukan riset bersama tim Pencerah Nusantara, ditemukan akar persoalan permasalahan gizi di Grobogan. Salah satu akar masalah itu terkait dengan cakupan ASI Eksklusif yang tidak memadai.

Padahal, menurut UNICEF (1991) sumber makanan yang tidak adekuat dan penyakit adalah dua faktor utama penyebab stunting. Sangat jelas bahwa dua asal persoalan itu lekat dengan permasalahan ekonomi dan sosial pada kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, pencatatan data balita dengan gizi kurang dan gizi buruk yang dilakukan puskesmas juga belum memadai. Ini menyebabkan banyaknya kemunculan balita yang terkategori sangat pendek dan pendek di Kabupaten Grobogan, namun tidak teridentifikasi kekurangan gizi. “Kalau kita tidak cepat-cepat bergerak masalah akan terus berlanjut,” lanjut Ibu Sri.

Data yang terkumpul kemudian dijadikan bahasan rapat antara Pencerah Nusantara dengan stakeholder daerah terkait. Tanpa mengenal lelah dan takut, mereka merencanakan program-program intervensi untuk kemudian diimplementasikan melalui Puskesmas Kradenan I. Ibu Sri, sebagai penanggung jawab gizi, menyambut baik inisiatif ini dan bersedia bermitra menjalankan inisiatif dari program intervensi Pencerah Nusantara.

Salah satu program intervensi terkait gizi yang dirancang oleh Pencerah Nusantara adalah Sehatkan (Seribu Hari Pertama Kehidupan), sebuah inisiatif untuk meningkatkan status gizi anak berusia di bawah dua tahun, yang masih menjadi bagian dari seribu hari pertama kehidupan. “Saya yakin program ini penting untuk mengatasi masalah gizi.”

Adapun, implementasi program ini disampaikan melalui Kelas Ibu Balita. Materi pembelajaran dibuat sesederhana mungkin melalui metode bermain peran. Ibu Sri sendiri berperan besar dalam menyusun modul dan materi fasilitator pelaksanaan Kelas Ibu Balita. Sementara, pengetahuan gizi tenaga kesehatan puskesmas juga ditingkatkan melalui beragam pelatihan dan lokakarya.

Kelas Ibu Balita ini secara tidak langsung juga melengkapi program pelayanan calon pengantin terpadu yang telah berjalan baik di Puskesmas Kradenan I. Sebagai bagian dari persiapan fisik dan mental, calon pengantin mengikuti kelas untuk memahami perubahan fisiologis serta kebutuhan yang perlu dipertimbangkan sebelum calon pengantin menjalani peran sebagai calon ibu. Salah satunya adalah pemenuhan gizi untuk memastikan lingkungan yang adekuat bagi calon bayi.

Ibu Sri tidak jarang juga terlibat dalam koordinasi program lintas sektor antara Puskesmas Kradenan I dengan pemerintah daerah, di samping juga terlibat untuk mengevaluasi jalannya program yang telah direncanakan oleh Pencerah Nusantara

Tidak jarang karena kesibukannya menuntaskan permasalahan gizi, Ibu Sri perlu bekerja di waktu-waktu istirahat dan waktu bersama keluarga. Meski begitu, semua pengorbanannya kini terbayar tuntas.

Ibu Sri merasakan betul manfaat program Pencerah Nusantara di wilayah Puskesmas Kradenan I. Baginya, melalui berbagai inovasi program penanggulangan dan pemantauan gizi di masyarakat menjadi lebih teratur. Di samping itu berkat Kelas Ibu Balita, banyak ibu di Kecamatan Kradenan I yang kemudian mengingatkan satu sama lain tentang kondisi gizi anak.

Berkat kerja keras Ibu Nur dan kawan-kawan Pencerah Nusantara, program ini juga telah berhasil diselenggarakan di 7 desa dan 6 kepala desa di antaranya telah menjalin kerja sama untuk memfasilitasi program tersebut.

Kini Ibu Sri sudah bisa tersenyum. Berkat kerja keras dan kerja sama, impiannya untuk mewujudkan Grobogan tanpa gizi buruk akan segera terwujud. Dan perlu diakui, keberhasilan serta pencapaian program pembangunan pemerintah tidak akan terwujud tanpa usaha serta doa tenaga kesehatan seperti Ibu Sri.


Sumber:

Narasi RPJMN IV 2020-2024 Edisi Agustus 2019


Penulis:

Amru Sebayang