“Partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya Kepala Desa memang berdampak sangat besar ya, seperti yang ada di Desa Kasumeia ini, salah satunya agar desa tahu keadaan kondisi kesehatan masyarakatnya, sehingga mereka bisa ikut aktif menyelesaikan masalah yang ada bersama petugas kesehatan. Melakukan intervensi langsung, misal, di desa ini ada beberapa anak yang BGM (Bawah Garis Merah), memang kongenital (karena bawaan dari lahir atau terserang infeksi), bukan hanya pengaruh asupan dan pola asuh, nah desa jadi tahu dan bisa ikut mengatasi masalah tersebut”, tutur Mujaemmah, programmer gizi Puskesmas Onembute yang hafal dan paham keadaan seluruh balita di Kecamatan Onembute sekaligus salah satu Tenaga Kesehatan Teladan yang diundang ke Istana Negara pada tahun 2014.

Desa Kasumeia memiliki sasaran balita sebanyak 66 anak dengan jadwal rutin kegiatan Posyandu di desa ini adalah tanggal 22 setiap bulannya. Kegiatan posyandu sudah dilakukan 5 meja, mulai dari pendaftaran, pemantauan balita lewat penimbangan dan pengukuran tinggi badan, pencatatan hasil, penyuluhan/pelayanan gizi dan yang terakhir adalah pelayanan kesehatan seperti imunisasi. Predikat Mandiri merupakan predikat tertinggi penilaian kinerja Posyandu, di atas Pratama, Madya dan Purnama.

Dibantu oleh petugas kesehatan, pelaksanaan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat. Sebagai kegiatan swadaya masyarakat bidang, Posyandu bertujuan mempercepat penurunan angka kematian bayi, balita dan angka kelahiran, serta meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan penunjangnya.

Agar Posyandu di Desa Kasumeia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, berjalan dengan baik dan maksimal, bersama tenaga kesehatan Puskesmas Onembute, masyarakat di Kasumeia, bekerjasama bahu-membahu untuk meningkatkan kualitas Posyandu Desa Kasumeia yang sudah masuk kategori Mandiri, yaitu Posyandu dengan frekuensi pelaksanaan kegiatan teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, memiliki program tambahan seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hingga program dana sehat, dll.

Sebagai pelengkap kegiatan Posyandu, Puskesmas mendukung Komunikasi, Informasi dan Edukasi kelompok yang dikoordinasikan oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Puskesmas, Daus Lantang. “Meski sulit mengubah perilaku, dengan KIE dan pendampingan yang intens, perkembangan pengetahuan masyarakat akan menjadi modal bagi perubahan perilaku, semakin tahu, semakin kita berusaha mengubah perilaku, sementara perubahan perilaku adalah kunci menuntaskan masalah kesehatan masyarakat”, tutur Daus.

Dari sisi demand atau permintaan, tantangan pelaksanaan Posyandu terletak pada rendahnya kesadaran masyarakat terkait pemantauan pertumbuhan anak dan antusiasme masyarakat untuk menjadi kader serta minimnya alokasi dana desa untuk kegiatan Posyandu. Sementara dari sisi suplai, ketersediaan tenaga kesehatan menjadi kendala, karena pada satu kecamatan biasanya hanya ada 1 orang Ahli Gizi.

Untuk mengatasi hal ini, upaya lintas sektor melibatkan aparat pemerintah desa dan masyarakat secara keseluruhan sangat penting. Sejauh ini, aparat Desa Kasumeia sudah memberikan perhatian khusus terhadap Posyandu. Kepala Desa turut hadir pada kegiatan Posyandu, kader Posyandu secara pro-aktif menggerakkan masyarakat untuk terlibat aktif, hingga alokasi dana desa untuk insentif kader menyediakan PMT yang diprioritaskan bagi anak dengan gizi kurang dan buruk.

Pada akhirnya, Posyandu adalah milik desa, pelaksanaan Posyandu secara rutin merupakan tanggung jawab perangkat desa dengan petugas kesehatan bertindak sebagai fasilitator. Dengan upaya kerjasama lintas sektor, performa pelayanan Posyandu di Kasumeia bisa tetap otimal dan mampu menjangkau seluruh balita sasaran yang ada di Kasumeia maupun di desa lain di wilayah kerja Puskesmas Onembute. Mari wujudkan masyarakat mandiri dan sehat lewat kegiatan Posyandu. Posyandu semangat, balita sehat!


Oleh: Bintang Kasih Yanti (Pencerah Nusantara VI Konawe)