“Pencerah Nusantara adalah gerakan. Selama Anda memiliki mimpi dan harapan menjadikan Indonesia lebih sejahtera, Anda dapat bergabung. Seperti namanya, kehadiran Pencerah Nusantara di suatu komunitas diharapkan dapat mencerahkan, memberikan inspirasi, menularkan semangat ke sekitarnya untuk berinovasi bersama untuk kesejahteraan nusantara”. Demikian tertulis di laman resmi Pencerah Nusantara tentang visi yang diemban oleh para pencerah, mencerahkan nusantara, tidak hanya dari segi kesehatan, tetapi juga berbagai aspek kehidupan.

Kluet Timur, Aceh Selatan, merupakan salah satu daerah penempatan Pencerah Nusantara yang sekarang diisi angkatan keenam sekaligus angkatan penutup. Tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan ahli kesehatan masyarakat ini tidak hanya berkutat dengan masalah kesehatan di Puskesmas, tetapi juga berbaur dengan masyarakat. Hal menarik adalah masyarakat memiliki bahasa sendiri yang sama sekali berbeda dengan Bahasa Jamu maupun Bahasa Aceh yang digunakan oleh masyarakat Aceh Selatan pada khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya.

Bermasyarakat, advokasi, kolaborasi, serta menyukseskan berbagai program mengharuskan Pencerah Nusantara memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Salah satu cara yang ditempuh Pencerah Nusantara 6 Aceh Selatan adalah dengan menguasai Bahasa Kluet. Tersebutlah Mulda, Iwa, Ikma, dan Alwa, sekumpulan anak Gampong Paya Dapur yang rutin berkunjung menjumpai kakak-kakak pencerah. Setiap hari mereka menyambangi rumah Pencerah untuk sekadar bermain, belajar, menjadi instruktur cilik senam jantung sehat dan senam lansia di kantor geuchik (kepala desa). Jika ditanya “Kalian siapa?”, “Kami Pencerah Nusantara 7” jawab salah seorang, “Kami Pencerah Nusantara 20” jawab yang lain. Mereka inilah yang kemudian menjelma menjadi teman baru sekaligus guru bahasa Kluet bagi tim Pencerah Nusantara 6 Aceh Selatan.

Selain kegembiraan yang didapat setelah mengenal Pencerah Nusantara sejak angkatan 4 hingga angkatan 6, ada sisi lain yang mereka khawatirkan. Sekumpulan anak ini menyadari bahwa Pencerah Nusantara angkatan 6 adalah angkatan terakhir di kampung mereka. Hal ini menjadi salah satu momok karena mereka akan kehilangan sosok kakak dan abang perantau di kampungnya. Suatu hari, Imanda, dokter penempatan Aceh Selatan bertanya “Kalian cita-citanya apa?” Sahut-menyahut dijawab “Dokter, guru bahasa Indonesia, hafidzah, pencerah nusantara!” Pertanyaan demi pertanyaan bergulir, hingga “Kenapa kalian mau berteman dengan Kakak PN? Kalian kan masih SD?” Ikma, seorang murid kelas 6 MIN Paya Dapur dengan menggunakan Bahasa Kluet dan Bahasa Indonesia menjawab “Kalau tidak ada kakak PN, engga biasa kami berbahasa Indonesia. Kalau ada Kakak PN biasa kami bahasa Indonesia”. “Lah, kenapa begitu?” Tanya Imanda kemudian, “Karena semua orang di sini pakai Bahasa Kluet, jadi kami engga lancar bahasa Indonesia, Kalo ada anak PN, ada kawan kami berbahasa Indonesia, kami lancar jadinya”.

Haru, betapa kami yang ingin lancar berbahasa Kluet untuk memudahkan komunikasi dengan masyarakat, juga dihadiahi kenyataan bahwa keberadaan Pencerah Nusantara menghasilkan sekumpulan anak yang semakin lancar, berani, dan percaya diri menggunakan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Benarlah visi yang disebut tadi, “Seperti namanya, kehadiran Pencerah Nusantara di suatu komunitas diharapkan dapat mencerahkan, memberikan inspirasi, menularkan semangat ke sekitarnya”.

Penulis: dr. Imanda Husna Silalahi (Pencerah Nusantara 6 Aceh Selatan)