Susah, lama, dan mahal adalah gambaran yang muncul di kepala banyak orang tentang sekolah kedokteran dan perjalanan menjadi dokter. Sebagai dokter, mungkin kamu masih ingat bagaimana perjalanan panjang yang telah kamu lalui, seperti selalu begadang setiap malam, harus menyelesaikan berbagai jenis laporan praktikum dan penelitian, hingga menghadapi ujian yang seakan tidak ada akhirnya.

Namun, bagaimanapun juga sekolah kedokteran adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Mari kita tengok kembali 6 alasan di bawah ini yang akan membuat kamu merasa bangga telah melewati segala proses hingga menjadi seorang dokter.

1. Tidak bisa “berdiam diri”

Sebagai dokter, kamu tidak pernah terbebas dari tugas. Sehingga, ketika “hari bebas” itu tiba, kamu justru bingung mencari sesuatu untuk dikerjakan. Bahkan, ketika akhirnya sudah menjadi dokter, kamu malah mulai merencanakan untuk sekolah lagi. Ya, kan?

2. Mengetahui banyak hal

Sejak tahun pertama, kamu sudah belajar tentang anatomi, fisiologi, biokimia, dan bahkan beberapa kampus menyisipkan kurikulum filsafat dan kewarganegaraan! Meski begitu, rasanya kerumitan hidup kamu belum cukup. Di luar waktu kuliah, mungkin kamu juga menjadi asisten dosen, asisten penelitian, tutor belajar, bahkan menjadi pengurus BEM, meski kamu harus menyiapkan diri untuk menghadapi kuis, ujian, dan tentamen.

Tidak terasa setelah materi tentang sistem organ dan patofisiologi penyakit berlalu, kamu pun harus mulai menguasai ilmu-ilmu yang beraroma sains sosial seperti sistem kesehatan, kesehatan masyarakat bahkan bioetika kedokteran. Kamu memiliki begitu banyak hal yang harus dilakukan dan ilmu untuk dipelajari. Namun, ketika sudah lulus dari fakultas kedokteran, kamu merasa dapat menghadapi segala tantangan hidup sambil menjalaninya dengan penuh kesenangan dan terus menjadi produktif!

3. Langsung mendapat pekerjaan

Banyak pilihan setelah menjadi dokter. Salah satunya mendaftar bekerja sebagai klinisi di suatu klinik atau puskesmas dan rumah sakit.  Namun, jika tidak mau bekerja di klinik, kamu juga bisa menjadi bagian dari pemerintah maupun organisasi internasional yang berfokus pada isu kesehatan, menjadi peneliti bahkan bekerja menjadi dokter perusahaan. Terlebih lagi, dengan terbatasnya jumlah dokter di Indonesia yang baru memenuhi kuota minimum kebutuhan dokter di suatu negara, kamu tidak akan kesulitan mencari pekerjaan seperti teman-teman yang lulus dari fakultas lain.

4. Kamu mengerti diri orang lain, lebih dari yang mereka bisa pahami

Ketika bekerja di klinik, sangat mungkin pasien tidak memberi tahu semua hal yang perlu kamu ketahui. Namun, karena saat kuliah diajarkan untuk mengidentifikasi informasi tersembunyi yang tidak pasien ceritakan saat anamnesis dan selama berinteraksi denganmu, kamu dapat belajar melihat detil dalam setiap respon, gerakan, gestur, bahkan intonasi pasien dan keluarganya untuk mendapatkan hasil terbaik dalam menentukan status kesehatan pasien. Hebatnya, hal ini kamu lakukan siang dan malam!

 5. Selalu ditanya, “Kapan lulus?”

Selama tujuh kali lebaran, kamu selalu mendapat pertanyaan yang sama, “kapan lulus dokternya?”

Perjalanan panjang pendidikan kedokteran dapat membuat kamu menjadi sorotan keluarga besar dan harus bersabar menjawab pertanyaan yang sama. Dengan pola keluarga dan bermasyarakat di Indonesia, bisa dimaklumi jika kehadiranmu sebagai seorang calon dokter yang masih di bangku kuliah menjadikanmu pusat perhatian dan sasaran pertanyaan di atas.

6. Bangga ketika resmi menjadi dokter

Setelah menempuh enam sampai tujuh tahun proses pendidikan, orang di sekelilingmu mulai mempercayaimu dalam sekejap saat kamu mem-posting foto sumpah dokter dengan captionIt’s official, finally, I’m an MD!” dengan hashtag #sumpahdokter

Segala “keistimewaan” dan pencapaian di atas tentu tidak datang dengan sendirinya. Keunggulan kapasitas seorang dokter adalah aset berharga bagi kemajuan bangsa yang dapat diperluas manfaatnya apabila lebih banyak masyarakat dapat menjangkau dokter dan mengakses fasilitas kesehatan.

Program Pencerah Nusantara memungkinkan para dokter untuk bekerja bersama tenaga kesehatan dan non-kesehatan secara lintas profesi. Di saat yang bersamaan, dokter memiliki posisi strategis sebagai aktor publik dari lintas sektor dalam memecahkan masalah di suatu wilayah yang memliki tantangan kesehatan yang kompleks.

Pengalaman para dokter Pencerah Nusantara di pelosok negeri membentuk pemahaman pembangunan kesehatan yang lebih komprehensif, pematangan keterampilan kesehatan dan kapasitas manajemen yang lebih baik serta memungkinkan proses pendewasaan diri yang utuh. Dengan sederet insentif sosial ini, tidak heran bila di kemudian hari banyak dokter alumni Pencerah Nusantara memetik hasil kerja kerasnya dengan meraih berbagai kesempatan pengembangan diri dan karir.

Setiap tahunnya, selalu ada dokter alumni Pencerah Nusantara yang berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri atau melanjutkan program pendidikan dokter spesialis. Mengabdi dalam pembangunan sistem kesehatan sekaligus mengembangkan diri secara komprehensif adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Tunggu apalagi, jadilah bagian dari kami dan daftarkan dirimu dari 22 Oktober 2017 - 1 Desember 2017 di: www.pencerahnusantara.org/apply/