Kabupaten Karawang


PROFIL DAERAH

Keadaan Geografis Umum

  • Kabupaten Karawang secara geografis terletak antara 107o02 – 107o40 BT dan 5o56 – 6o34 LS. Luas wilayah Kabupaten Karawang ± 1.753,27 km2 atau 175.327 Ha, 3,73 % dari luas provinsi Jawa Barat.
  • Batas wilayah administratif  terdiri dari :

Bagian Utara berbatasan dengan Laut Jawa

Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Subang

Bagian Tenggara berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta

Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Cianjur

Bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Bekasi

  • Kabupaten Karawang relatif merupakan daerah dataran rendah mempunyai variasi kemiringan wilayah 0-2 %, 2-15%, 15-40% dan diatas 40%. Pada bagian utara berupa dataran dan pantai, bagian tengahnya merupakan dataran dan bukit sedangkan pada bagian selatan merupakan dataran dataran tinggi (pegunungan) dengan ketinggian maksimum (Gunung Sanggabuana) mencapai ± 1291 m diatas permukaan laut
  • Curah hujan tahunan berkisar antara 1100-3200 mm/tahun dengan rerata temperatur tahunan 28,87oC, rerata tekanan udara 0,01 milibar Musim kemarau berkisar antara bulan April sampai dengan November dan musim hujan antara bulan Desember - Maret. Keberadaan Sungai Citarum yang membelah Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi seringkali menimbulkan banjir pada saat musim hujan.
  • Karawang dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat dengan luas lahan sawah mencapai 93. 590 hektar atau sekitar 53% dari luas kabupaten yang tersebar di seluruh kecamatan. Produksi padi didukung oleh sistem pengairan yang memadai. Saluran irigasi di Karawang terdiri dari Saluran Induk Tarum Utara dari Bendungan Walahar, Saluran Induk Tarum Barat dan Saluran Induk Tarum Timur dari Bendungan Curug. Selain tiga saluran induk itu daerah ini juga memiliki saluran irigasi yang sumber airnya berasal dari Bendungan Cibeet serta Bendungan Barugbug dan Pundog di Kabupaten Purwakarta. Dengan kondisi pengairan yang tertata rapi, musim kemarau tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi padi.

Keadaan Demografis Umum

  • Karawang memiliki rasio kependudukan sebagai berikut; pria 1.127.859 dan wanita 1.060.002 (April 2012).
  • Mata pencaharian utama adalah sebagai pekerja pabrik, petani dan buruh. Di daerah dataran rendah dan pantai di Tanjung Pakis, masyarakat umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan.
  • Mayoritas penduduk Kabupaten Karawang berasal dari Suku Sunda karena letak geografisnya yang masih berada di daerah Jawa Barat.
  • Masyarakat kecamatan Tanjung Pakis adalah masyarakat desa namun dalam beberapa hal menunjukkan sifat seperti masyarakat kota. Hal ini disebabkan karena letaknya yang berdekatan dengan kota Karawang, Cikarang, Bekasi dan Jakarta. Selain karena letaknya, jenis pekerjaan penduduk juga menuntut mobilitas yang berpengaruh pada gaya hidup masyarakat. Masyarakat cenderung mengidentikan dirinya sebagai orang Betawi, sehari-hari berbahasa Indonesia dengan dialek Betawi yang memiliko konotasi “Jakarta”. Meskipun nampak “kekotaan” pada beberapa hal gotong-royong dan kerjasama antar penduduk masih terlihat.
  • Kebudayaan yang menyebar di tanah Sunda adalah kebudayaan Sunda yang diwariskan sejak masa kerajaan Hindu-Budha seperti Tari Parahiyangan, Tari Karawanganan dan Seni Rampak Kendang

Daerah Cakupan Tim Pencerah Nusantara

Tim Pencerah Nusantara akan bertugas di Kecamatan Pakis Jaya, bekerja sama dengan Puskesmas Pakis Jaya. Berikut rincian kondisi kecamatan tersebut :

  • Kecamatan Pakisjaya memiliki luas wilayah sejumlah 5.560.207 Ha dengan jarak tempuh 75 km (120 menit) menuju ibukota kabupaten dan jarak tempuh 200 km (240 menit) menuju ibukota provinsi.
  • Secara geografis, Kecamatan Pakisjaya berbatasan dengan wilayah :

Sebelah Utara                 :    Laut Jawa

Sebelah Selatan              :    Sungai Citarum dan Kecamatan Cabang Bungin Kabupaten Bekasi

Sebelah Timur                 :    Kecamatan Batujaya

Sebelah Barat                 :    Sungai Citarum dan Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi

  • Kecamatan Pakis Jaya terdiri dari 8 desa  : Desa Tanjung Pakis, Desa Tanjung Mekar, Desa Tanjung Bungin, Desa Solokan, Desa Tanah Baru, Desa Teluk Jaya, Desa Teluk Buyung, Desa Telaga Jaya.
  • Jumlah penduduk Kecamatan Pakis Jaya sebanyak 42.403 jiwa dengan rincian pria sebanyak 21.856 jiwa dan wanita sebanyak 20.547 jiwa dan jumlah KK sebanyak 11.217. Dengan demikian kepadatan penduduk/km2 adalah 35orang.  Jumlah penduduk miskin adalah 3.785 KK.
  • Mayoritas penduduk berpendidikan rendah. Terdapat Bangunan sekolah SD terdapat 22 unit dan MI 9 unit yang tersebar di 8 desa di Kecamatan Pakisjaya., namun pendidikan SMP dan SMA sangat terbatas.

Tabel 1. Sarana Pendidikan Puskesmas Pakisjaya

No

Sarana pendidikan

Jumlah Sekolah

1.

SMA/MA/SMK

2

2.

SLTP

3

3.

MTS

2

4.

SD

22

5.

MI

9

Jumlah

38

Sumber: Kecamatan Pakisjaya 2012 

  • Alasan utama orangtua tidak menyekolahkan adalah faktor biaya, karena meskipun SMP gratis, namun masyarakat masih harus menanggung biaya-biaya lain. Sementara itu, untuk ke tingkat SMA masyarakat juga merasa kesulitan karena akses sekolah cukup jauh sehingga memerlukan biaya transportasi cukup besat (dengan ojek 10 ribu rupiah sekali jalan). Karena tidak bisa meneruskan sekolah, bagi anak laki-laki mereka akan membantu orang tua untuk mencari ikan, sementara untuk perempuan cenderung dinikahkan. Sehingga kawin di usia muda bukan hal yang aneh.
  • Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan karena letak wilayahnya yang berdekatan dengan laut. Selain itu, wilayah desa ini juga memiliki wilayah pertambakan yang cukup luas. Namun demikian, sebagian besar nelayan dan petambak adalah nelayan kecil dengan alat tangkap sederhana dan petani tambak. Hanya sedikit yang merupakan nelayan pemilik kapal demikian juga hanya sedikit petani tambak yang memiliki pertambakan yang luas. Umumnya, yang bekerja di bidang pertambakan tersebut adalah buruh tani. 
  • Penduduk yang bekerja sebagai epdagang jumlahnya juga cukup banyak. Hal ini terkait keberadaan lokasi wisata “Pantai Tanjung Pakis” yang dikelola oleh swasta. Keberadaan pantai wisata ini berdampak positif dalam hal peningkatan pendapatan namun secara sosial juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan dampak buruk dari sisi pelanggaran moral dan praktek asusila. 

PROFIL KESEHATAN

Sarana dan Prasarana

Puskesmas Pakis Jaya adalah Puskesmas Satelit Tingkat Pertama yang memiliki 2 gedung kerja.

Masyarakat cenderung berobat ke fasilitas kesehatan atau pemberi layanan di desa atau dusun mereka (Bidan Desa atau Pa Mantri). Puskesmas bukanlah tempat berobat yang digandrungi oleh masyarakat karena letaknya yang jauh dan tidak tersedianya alat transportasi umum. Selain karena ongkosnya yang mahal, masyarakat juga tidak nyaman bepergian dengan motor dalam keadaan sakit. Puskesmas Pakisjaya hanya ramai pada hari Jumat, yaitu pada saat pasar desa mingguan sehingga optimalisasi layanan Puskesmas Keliling harus dilakukan.

Jumlah Puskesmas pembantu dan UKBM meliputi poskesdes, polindes, posyandu, rumah singgah ibu bersalin, dapat dilihat dari tabel 2 sebagai berikut :

 Tabel 2. Jumlah Pustu dan UKBM

No.

Nama Desa

Pustu

Poskesdes

Posyandu

1

Teluk Buyung

1

0

9

2

Teluk Jaya

0

0

11

3

Telaga Jaya

0

1

8

4

Tanah Baru

0

0

9

5

Solokan

0

0

10

6

Tanjung Bungin

1

0

6

7

Tanjung Mekar

0

0

7

8

Tanjung Pakis

0

0

10

Jumlah

1

     1

     70

Sumber; Data Primer 2014

Tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas Pakis Jaya meliputi 1 dokter umum, 14 perawat, 1 ahli gizi, 19 bidan, dan 1 tenaga tata usaha. Pemasukan Puskesmas yang ada pada Puskesmas Pakisjaya berasal dari dana APBN, BPJS (kapitasi) dan BOK.

Akses

  • Sarana jalan aspal yang menghubungkan pusat kabupaten dan kecamatan dibangun pada tahun 1995. Kondisi jalan bervariasi (dilapis semen/cor, aspal, dan paving block, sirtu (pasir batu), dan tanah/lumpur), beberapa bagian jalan nampak sudah rusak terutama ketika mendekati pemukiman penduduk (berbatu dan berlumpur) yang semakin sulit dilalui jika hujan.
  • Alat transportasi umum menuju ke desa ini tidak tersedia kecuali ojek motor atau mobil sewaan. Angkutan umum (angkutan perdesaan) hanya sampai kecamatan Batu Jaya dari arah Rengasdengklok. Dari pusat Kecamatan menuju kecamatan Batujaya harus ditempuh dengan naik ojek selama 30 menit dengan tarif Rp 20.000,00 sekali jalan.
  • Sebelum tersedia jalan raya sampai ke desa ini, masyarakat desa bila ingin menuju Tanjung Priok (Jakarta) dan sekitarnya, menggunakan alat transportasi laut (kapal motor/perahu bermotor), kini angkutan laut tersebut tidak tersedia lagi.
  • Puskesmas dapat diakses dengan cukup mudah. Jarak terdekat akses terhadap Puskesmas adalah 2 menit jarak tempuh dengan roda dua sementara yang terjauh adalah 20 menit jarak tempuh dengan roda dua. Sementara dengan menggunakan kendaraan roda empat, jarak tempuh terdekat dengan Puskesmas adalah 5 menit sementara yang terjauh adalah 28 menit.

Tabel 3. Nama Desa di Kecamatan Pakisjaya dan Jaraknya ke Puskesmas

No.

Nama Desa

Jarak ke Puskesmas

1

Tanjung Pakis

5 km

2

Tanjung Mekar

3 km

3

Tanjung Bungin

300 m

4

Solokan

1 km

5

Tanah Baru

2 km

6

Teluk Jaya

4 km

7

Teluk Buyung

6 km

8

Telagajaya

10 km

Sumber : Puskesmas Pakisjaya 2013

Permasalahan Kesehatan

1. Mortalitas

  • Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas pakis jaya tahun 2013, tidak ditemukan angka kematian bayi di kecamatan pakisjaya. Dari kasus tahun-tahun sebelumya penyebab terbesar dari kematian bayi terdapat beberapa faktor, yaitu : BBLR, Gizi buruk, gangguan nafas,keracunan air ketuban dan penyakit bawaan
  • Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Pakisjaya tahun 2013, tidak ditemukan angka kematian ibu dikecamatan pakisjaya. Dari kasus tahun sebelumnya umumnya kematian ibu terjadi karena si ibu memiliki tensi darah yang tinggi dan terjadinya perdarahan pasca bersalin.
  • Dari data Puskesmas Pakisjaya bahwa selama tahun 2013 hingga bulan September 2014 tidak ditemukan kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Pakisjaya. Namun dari data laporan Pencerah Nusantara II kuartal 3, telah diidentifikasi kematian ibu di desa Teluk Jaya. Penyebab kematian tersebut dari hasil autopsy verbal bahwa pendarahan pasca melahirkan adalah penyebab utama kematian ibu.

2. Morbiditas

  • Angka kejadian diare mencapai 1688 kasus per tahun. Hal ini mengisyaratkan perilaku hidup bersih dan sehat sangat kurang(hanya terdapat 60% KK ber-PHBS). Jumlah rumah sehat mencakup 69,55%, sementara kepemilikan jamban dan SPAL sangat rendah, yakni masing-masing hanya 21,75% dan 27,59%. Akibatnya masyarakat yang masih menggunakan sungai irigasi untuk MCK, cuci beras, cuci baju, dsb.
  • 1 dari 5 warga pra lansia dan lansiadalah menderita hipertensi. Hal ini dikarenakan pola hidup yang tidak baik dengan budaya makanan yang asin dan hidup sedentary (kurang berolahraga).
  • Berdasarkan data TB paru di Puskesmas Pakisjaya di tahun 2013 menunjukkan bahwa dari kunjungan pasien ke Puskesmas Pakisjaya terdapat sejumlah 400 pasien yang menunjukkan gejala klinis TB paru. Dari jumlah pasien TB paru tersebut, terdapat 40 yang positif TB paru. 40 pasien tersebut diobati dan 27 berhasil disembuhkan. Persentase pasien dengan TB paru dan sembuh mencapai 67,5%.
  • Pola penyakit rawat jalan:
    • Pola penyakit rawat jalan di Puskesmas Pakisjaya beragam dan digolongkan berdasarkan umur. Penyakit terbanyak yang diderita oleh bayi 0 – 28 hari adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), kemudian disusul oleh Influenza. Pola penyakit pada golongan ini didominasi oleh penyakit infeksi. Hal ini sama dengan golongan umur 29 hari – 1 tahun.
    • Pola penyakit penderita rawat jalan di Puskesmas pada umur 1 – 4 tahun yang terbanyak sama seperti pada golongan umur 0 – 28 hari dan 29 hari – 1 tahun yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), kemudian diikuti oleh influenza, diare, dan gastroenteritis. Pada umur ini balita sudah banyak beraktivitas di luar rumah sehingga rentan terhadap penyakit infeksi.
    • Pola penyakit penderita rawat jalan pada golongan umur 5 – 44 tahun bervariasi, selain penyakit infeksi juga terdapat banyak penyakit non infeksi. Penyakit terbanyak masih penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut, kemudian Gastritis, Batuk, dan Influenza.
    • Pola penyakit penderita rawat jalan di Puskesmas pada umur 45 – 64 tahun didominasi oleh Hipertensi Primer, Gastritis, kemudian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pada kelompok umur ini penyakit non infeksi lebih banyak karena pada umur ini penyakit disebabkan oleh pola makan yang salah, kurang berolahraga, stres, dan merokok. Pola penyakit penderita rawat jalan di Puskesmas pada umur > 65 tahun didominasi oleh Hipertensi Primer, Rematik, dan Gastritis.

3. Kesehatan Ibu dan Anak

  • Cakupan ibu hamil yang memeriksa kehamilan untuk pertama kalinya (K1) ke sarana kesehatan dengan mendapatkan pelayanan antenatal minimal 5T di Puskesmas Pakisjaya pada tahun 2013 adalah 83,15% (target 90%).
  • Cakupan K4 pada tahun 2013 di Puskesmas Pakisjaya adalah 79,2%, telah mencapai   target yang ditetapkan yaitu 80%.
  • Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 973 persalinan  (80,94%).
  • Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal (0-28 hari) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali dari tenaga kesehatan, 1 kali umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 0-28 hari. Ini digunakan untuk melihat jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal. Di Puskesmas Pakisjaya cakupan KN kepada tenaga kesehatan yang kedua kalinya (KN2) Pada tahun 2013 mencapai  1031 kunjungan (85,77%). Dengan adanya kunjungan neonatus maka bisa diketahui neonatal yang resiko tinggi untuk kemudian dirujuk dan ditangani
  • Berdasarkan data Puskesmas Pakisjaya tentang cakupan Fe1 dan Fe3 menunjukkan bahwa Ibu hamil yang mendapat tablet besi 30 tablet (Fe) selama kehamilanya pada tahun 2013 sebanyak 956 (76,66%) , hal ini belum mencapai target yang ditetapkan  yaitu 90%. Sedangkan untuk ibu hamil yang mendapat 90 tablet besi (Fe3) selama kehamilanya pada tahun 2013 sebanyak 880 (756%), belum mencapai target 80 %. Tablet Fe sangat penting dimasa kehamilan untuk mencegah anemia. Apabila terjadi anemia di masa kehamilan menyebabkan bayi lahir menjadi BBLR.

4. Keluarga Berencana

Di Puskesmas Pakisjaya jumlah akseptor KB baru sebanyak 7821 atau 75,39%. Pola penggunaan alat kontrasepsi pada akseptor baru, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dari hasil tabel menunjukkan bahwa alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB yaitu suntik (31,76%). Di Kecamatan Pakisjaya jumlah akseptor KB aktif sebanyak 4925 atau 47,47% dari PUS yang ada pada tahun 2013.

5. Status Gizi

  • Pada tahun 2013 jumlah balita yang menderita gizi buruk sebanyak 0,15%, gizi kurang 5,84%, gizi baik 94,01%, dan gizi lebih 0,60%.
  • Pengetahuan terkait infant feeding practice seperti ASI eksklusif, MP ASI, Kolostrum sudah mulai diinformasikan kepada masyarakat. Penyebaran informasi ini dimulai dari para kader kesehatan. Pelatihan PMBA (Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak) yang diselenggarakan atas kerjasama Pencerah Nusantara dan Indofood diberikan untuk para kader di Desa Tanjung Bungin. Pelatihan ini berisi materi tentang ASI eksklusif, pemberian MP ASI, pengetahuan tentang kolostrum, dan pengetahuan lain terkait ibu dan anak.

6. Tingginya angka pernikahan dini

Tidak terdapatnya data tentang usia pernikahan di Puskesmas Pakisjaya. Tetapi berdasarkan fakta di lapangan, banyak di temukan usia pernikahan dini usia 15-18 tahun. Hal ini disebabkan berbagai faktor  antara lain budaya dan agama.Menurut budaya yang terdapat di Kecamatan Pakisjaya ini, apabila seorang anak remaja sudah bepacaran itu langsung dianggap serius untuk menjajak ke jenjang yang lebih lanjut. Masyarakat berpendapat bahwa berpacaran lama-lama akan membawa efek negatif kedepanya, ujar bikor puskemas. Dari segi agama sendiri diyakini bahwa wanita dan pria yang sudah baliq sudah diperbolehkan menikah. 

Pada saat ini Puskesmas Pakis Jaya masih berada pada kondisi yang tidak ideal karena harus menghadapi banyak tantangan dari luar sementara di saat yang bersamaan masih memiliki berbagai kelemahan internal. Pencerah Nusantara akan berfokus melakukan program penguatan ke dalam untuk meningkatkan kapasitas institusi yang berfokus pada pengembangan SDM Kesehatan (kapasitas formal, manajemen dan teknik), peningkatan kapasitas institusi pelayanan (ketersediaan, akses, kualitas, cakupan dan efektivitas program, pemerataraan dan kepuasan), advokasi dan sosialisasi sektor terkait serta pemberdayaan masyarakat.  

Seluruh program yang disusun  diupayakan agar sustainable, oleh karenanya diprioritaskan melaksanakan program yang tidak menimbulkan biaya operasional terlebih dahulu seperti tata kelola administrasi, penetapan prosedur klinis, prosedur mutu dan instruksi kerja, menyelenggarakan kelas penyegaran materi bagi tenaga kesehatan serta advokasi.

Untuk menggerakkan masyarakat dan mengatasi masalah akses, Pencerah Nusantara telah berupaya menggeser pelayanan medis ke arah community outreach dan home based care dengan memanfaatkan jejaring Puskesmas.

TIM PENCERAH NUSANTARA KARAWANG (2012-2015)

Pencerah Nusantara Angkatan 1 Karawang (2012-2013) :

  1. Stefani Christanti (Dokter Umum)
  2. Zuniatmi (Perawat)
  3. Sindi Shabrina (Bidan)
  4. Rahmat Aji Prasetya (Pemerhati Kesehatan)

Pencerah Nusantara Angkatan 2 Karawang (2013-2014) :

  1. Ardi Fredi (Dokter Umum)
  2. Eva Prihatiningtyas (Perawat)
  3. Nurasma Hamra Yati (Bidan)
  4. Siti Nurokhmah (Ahli Kesehatan Masyarakat)
  5. Andika (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara Angkatan 3 Karawang (2014-2015) :

  1. Dianing Latifah (Dokter Umum)
  2. Mustafidz (Perawat)
  3. Fitri Yanti (Bidan)
  4. Happy Ari Satyani (Ahli Kesehatan Masyarakat)
  5. Farahdila Lailatul Qoriah (Ahli Kesehatan Masyarakat)