Sabtu, 29 Desember 2012

Hari ini, 28 Desember 2012, selalu menjadi tanggal keramat bagi kita. Tepat saat Sumpah Pemuda 28 November 2012 kita ber-32 dilepas di bandara Soekarno menuju ke 7 lokasi pengabdian kita-dari ujung barat di Mentawai hingga timur di NTT. Rasanya tidak karuan karena kebersamaan selama dua bulan harus terpisahkan.

Masih membekas betapa erat dalam ingatan saya sebagai emak di tim kecil ini bahwa kita pernah mengalami masa-masa sangat sulit. Selama 4 hari pertama ketika pertama kalinya kita berkumpul, kita digabungkan dalam kelompok per lokasi dan digembleng tim Wanadri. Pernah terbayangkan rasanya berkumpul dengan orang-orang yang tidak pernah kalian kenal sebelumnya tetapi dipaksa untuk mengenal mereka dalam hitungan hari saja? Bukan hal mudah tentunya.

Apalagi bagi para dokter yang dalam hal ini dituntut menjadi leader dalam setiap tim, meluluhkan ego masing-masing agar dapat meleburkan diri mengetahui rekan lainnya dalam berbagai profesi. Bahkan bagi profesi lain yang masih memandang dokter sebagai suatu jabatan sulit “dikritik” hingga “arogan” tentunya bukan hal mudah pula menerima kenyataan “lagi-lagi” harus dipimpin oleh dokter. Dan seluruh rasa itu pun akhirnya harus mau tidak mau melebur dalam satu wadah bernama Pencerah Nusantara.

Sahabat…saat membaca ini, saya yakin kita semua telah DUA BULAN berada di 7 pedalaman yang semuanya memiliki masalah kesehatan unik baik terkait akses, pelayanan, maupun harus berhadapan dengan berbagai dinas terkait juga dukun.  Rasa lelah itu pasti akan muncul ketika kenyataan berbeda dengan impian yang kita cita-citakan.  Apalagi ketika intrik-konflik mulai muncul mewarnai pekerjaan mulia ini.

Mari…saya ajak para dokter duluan untuk kembali mengenang lingkaran kecil ingtegritas kita saat pertama kali kita bertemu dalam seleksi di Jakarta. Menerima banyak hal yang tidak masuk akal saat itu tentulah bukan hal mudah apalagi harus meninggalkan zona nyaman. Saat itu, satu-satunya hal yang akhirnya membuat kita semua tetap berada dalam lingkaran ini adalah hanya karena “panggilan jiwa” untuk “mengabdi”. Delapan dokter yang pernah mengabdikan hidup kita sebelumnya di Rumah Sakit, Puskesmas (PNS), PTT, Ranah Penelitian NGO, hingga Dosen. Namun, rasa penasaran mengabdikan di wilayah yang akan didukung dan dikembangkan melalui tangan-tangan Kangtor Utusan Presiden Republik Indonesia untuk Millenium Development Goals (KUKPRI-MDG) ini membawa kita berjuang hingga detik ini. Murni bukan karena hal lain karena kalau mencari “itu” maka jelas Pencerah Nusantara ini bukan wadahnya.

Negara ini memanggil kita untuk membuktikan beragam inovasi promotif dan preventif dapat benar-benar menyehatkan bangsa. Kesehatan bukan hanya bagaimana mengobati kesakitan saja tetapi lebih bagaimana mencegah dan mengetahui kesakitan sebelum bertambah parah. Dan…saat itu kita hanya lingkaran kecil yang diminta menjadi solid untuk berbaur dengan tenaga kesehatan lain. Kita para dokter dituntut untuk “momong” adik-adik lainnya dari latar belakang berbeda. Memberi warna bagi kehidupan mereka bahwa perbaikan kesehatan di negara kita ini butuh lebih dulu perbaikan di taraf tenaga kesehatannya. Saling memahami dan kerja sama yang baik antara dokter, perawat, bidan, apoteker, gizi, epidemiologi, kesehatan masyarakat hingga psikolog sangat dibutuhkan. Itulah hal utama yang seharusnya diperbaiki dulu di tataran bangsa ini dan kita mulai memperbaiki itu sekarang, di Pencerah Nusantara.

Dan…lingkaran dokter pun mulai membesar ketika kita bertemu dengan 24 pemuda lainnya. Rasanya tidak dapat diucapkan ketika pengumuman masing-masing tim dipampang dan kita para dokter mulai mencari satu persatu tim kita.  Mulai mencoba mengenali mereka satu persatu walau hanya terbatas pada dunia maya sebelum dipertemukan.  Tentunya itu bukan hal mudah karena jujur, tim saya pun merasa awalnya saya “sombong, freak, aneh, gila” ketika hanya berkomunikasi dari media sosial saja. Ketika sudah mengenal lebih baik, rasanya mereka tetap menganggap saya “si emak gila “ J

Hingga akhirnya waktu pertemuan itu datang. Yah…32 laskar Pencerah Nusantara dikumpulkan dengan heboh di Balai Besar Kesehatan Cilandak Kemenkes, belakang RS Fatmawati. Dari seluruh nusantara, dari beragam latar belakang pendidikan, dari 1043 pelamar, dari puluhan orang tua yang sulit memberikan izin, akhirnya kita bertemu dan dua bulan lamanya menjalani hari-hari penuh suka cita.

Beberapa adegan gila yang dapat saya rekam dan sampai saat ini dapat membuat tawa kecil tersungging di bibir antara lain ketika harus menyulap “ide kecil” dalam sekejap menjadi “besar” demi mencerahkan seseorang di hari lahirnya. Kali itu korbannya Lucky, perawat UI yang saat ini bertugas di Berau dan malah berhasil membuat nangis sahabatnya, Elys perawat UNHAS yang juga di Berau. Lucu rasanya spontanitas kita akhirnya berhasil memeriahkan satu lini hidup Lucky yang mungkin tidak pernah dibayangkan. Bahkan demi akting, saya harus menahan tawa melihat akting para team leader lainnya. Bayangkan saja, mana sanggup saya menahan tawa ketika melihat muka lucu dokter Ridho (Mentawai) atau mata sipit dokter Harika (Ende) atau ceramah dokter Gungwik (Lindu) hingga polosnya dokter Darsuna (Lindu). Tapi saat itu saya harus beradegan meyakinkan bahkan hingga mengorbankan anak-anak saya sendiri di tim Pasuruan (maaf karena harus marah-marah dan mencari-cari kesalahan). Akhirnya, korban menangis bukan hanya dari yang ultah melainkan dari tim Pasuruan juga.

Malam itu adalah malam dengan kue tart pertama kita semua. Dan setelahnya, malam-malam lain berpindah ke Bandung ketika lingkaran integritas itu pun muncul. Di malam ketika skenario tim Mentawai dijalankan oleh Ratu Rimba Si Inang, akhirnya team leader Mentawai pun bertekuk lutut….pasrah. Saya masih teringat dengan jelas ketika skenario yang dijalankan ini sebenarnya sudah jauh melenceng dari skenario awal yang lebih dahyat namun ternyata adegan di luar skenario justru menambah kemiripan cerita ini seperti tanpa rekayasa basutan sutradara. Semua hal seperti sudah diskenariokan bahkan puncaknya ketika dokter Ufara yang kesehariannya mengkoordinasikan kita semua dari pusat bertambah umur. Saya meminta Usman (Lindu) untuk pura-pura pingsan dan muntah darah akibat penyakit lambung kronis yang dideritanya. Lumayan ternyata pewarna bibir saya masih dapat digunakan seperti darah yang mengering. Walhasil, Ufara menjadi panik dan melakukan pertolongan pertama. Sungguh, ini bukan hal mudah lagi-lagi, berakting dan harus menahan tawa sementara kita semua boleh dikatakan orang-orang gila yang hobi tertawa juga membuat tawa.

Banyak hal dalam hidup yang mungkin sebenarnya direkayasa, bahkan termasuk ketika seseorang marah dengan yang lain, tidak profesional, atau menyakiti hati lainnya. Rasanya nikmat sekali memasukkan dalam memori jika apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang “mungkin” hanya rekayasa baik antara kita ber-32 ini maupun dengan lingkaran luar yang lebih luas. Semua rekayasa ini pasti nantinya akan membentuk kita menjadi tim yang lebih solid sebagai keluarga besar Pencerah Nusantara yang lebih tahan banting.

Dua bulan tepat kita “digembleng” oleh beragam ahli mulai dari dokter spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anestesi, spesialis ilmu kedokteran komunitas, para psikolog Pusat Krisis UI, CEO General Electric, Gollin Haris Media, Kompas, Gender Harmony, bahkan rekan-rekan Indonesia Mengajar bersama Anies Baswedan. Hingga puncaknya kita berpamitan dengan Ibu Nafsiah Mboi, Sp.A selaku ibu kita semua, Menteri Kesehatan Indonesia.

Kita juga mengakhiri dua bulan kebersamaan bersama Wanadri, lagi-lagi 4 hari penuh penderitaan di Gunung Kareumbi. Kita pernah merasa hati kita berbeda, merasa profesi lain lebih enak kerjanya, merasa yang lain hanya bisa menyuruh saja tanpa mau melakukan, merasa team leader kurang berlaku adil atau malah tidak becus, merasa sangat lelah karena harus membagi diri sendiri atas pekerjaan keseharian dan pelayanan pasien, merasa ingin teriak marah atau kesal karena ketidakadilan di berbagai hal. Banyak hal “tidak enak” yang pernah kita rasakan namun ketika kita teringat lingkaran integritas maka kita akan menghela napas, kemudian melepaskannya dan terasa beban itu menghilang.

Sahabat…Ingatlah selalu, dimanapun kalian sekarang berada.

Kita pernah sangat menderita di gunung, kehujanan dan kedinginan tanpa selimut, harus hidup membangun bivak alam hingga akhirnya hanya ada tangan-tangan sahabat yang menggenggam erat memberi kehangatan.

Kita pernah sangat kelaparan di gunung hingga harus makan dedaunan dan hewan-hewan tidak layak makan hingga akhirnya sahabat-sahabat kitalah yang menguatkan kalau kita dapat melalui itu semua.

Kita pernah sangat kehausan hingga rasanya mendapatkan air satu tetes dari dedaunan rasanya seperti mendapatkan air surga hingga akhirnya sahabat-sahabatmu merelakan airnya untuk kamu minum walau dia sebenarnya lebih haus.

Kita pernah sangat ketakutan ketika bertemu ular-ular berbisa bahkan ketika kita harus digigit hingga akhirnya yang terberat adalah menaklukkan “ular-ular” di hati kita

Kita pernah berada dalam kegelapan pekat hingga kita tidak dapat melihat wajah sahabatmu namun suara merdu mereka itulah yang dapat mendamaikan dan menentramkanmu dari gelap.

Kita pernah merasakan merananya sakit perut menahan hasrat jiwa dan harus menggali lubang sendiri hingga akhirnya sahabatmu menemanimu dan mengurangi rasa merana tersebut.

Kita bahkan pernah menderita terpisahkan dari berbagai peralatan canggih dan tidak mengetahui informasi di luar sana selama berhari-hari hingga akhirnya kisah dari sahabat-sahabat menjadi pelipur lara luar biasa. Kisah mereka lebih indah daripada gadget mahal sekalipun. Bahkan lawakan mereka lebih lucu dari OVJ yang ada di tivi-tivi.

Kita bahkan tidak pernah bertemu orang tua kita dalam waktu cukup lama, tidak pernah merasakan dekapan pelukan mereka lagi bahkan kita tidak tahu kabar mereka baik-baik saja atau tidak tetapi disini kita semua punya orang tua baru, ada emak, ada mbok, ada tante, ada mimi, ada pipi, bahkan artis terkenal pun ada. Pelukan keluarga baru yang semoga kehangatannya menggantikan pelukan orang-orang yang kita kasihi di rumah.

Sahabat…kita sudah melewati semua hal “mengenaskan” itu. Dua bulan amunisi itu semakin menguatkan kita hingga akhirnya tidak ada satu pun dari kita berhasil menahan air mata ketika harus berpisah 28 Oktober lalu.

Dan amunisi itu bukan sembarangan senjata. Kita semua membuat senjata itu lebih kuat.

Kita pernah tertawa lepas terbahak-bahak hingga kelelahan. Dengan beragam jenis tawa mulai tawa uvula (Ridho punya), tawa orbita (jelas Harika dong), atau tawa Syahrini (ini emak punya). Tawa yang masih akan selalu kita rindukan hingga kita tidak mampu menahan kencing. Pelawak-pelawak alami kita bertebaran mulai dari Usman (Lindu), Egi (Ogotua), hingga Aji (Karawang).

Kita juga pernah menangis bersama sebagai amunisi terakhir ketika dengan semua hal yang sudah kita tinggalkan di belakang, kita ingin satu tahun ke depan di tempat pengabdian menjadi moment yang indah.  Ketika kita meninggalkan orang tua yang terbaring sakit, kita berharap akan lebih banyak menyehatkan orang tua di tempat pengabdian kita. Ketika kita meninggalkan anak didik maka kita berharap akan ada banyak orang lebih cerdas setelah kedatangan kita di daerah pengabdian. Ketika kita meninggalkan penghasilan lebih maka kita berharap dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di tempat pengabdian kita.  Ketika kita meninggalkan kesempatan sekolah dan karir yang lebih tinggi maka kita berharap melihat bibit-bibit yang bermimpi lebih di tempat pengabdian dan kitalah yang menyalakan lilin-lilin mimpi mereka.

Sahabat…

Demi semua “perjuangan” panjang kita hingga akhirnya saat membaca ini kita sudah berada di daerah pengabdian kita

Demi mimpi-mimpi kita di malam lingkaran integritas yang saling menguatkan satu sama lain

Demi kesehatan Indonesia yang lebih baik dan itu dimulai dari kita yang mengubahnya

Mari…

Mari terus bergandengan tangan, makin menguatkan genggaman tangan kita, tanpa membedakan latar belakang pendidikan kita, siapa kita sebelumnya.

Sekarang….kita kembali punya mimpi yang sama

Ketika satu tahun berlalu…kita menorehkan tinta biru yang baik di masing-masing daerah pengabdian kita

Betapapun sulitnya penghalang yang nantinya akan kita hadapi….selalu ingat bahwa kita dapat melaluinya bersama-sama. Saatnya kita membuktikan jika seluruh tenaga kesehatan bersatu maka sehat bukan hal mustahil lagi tuk rakyat.

Salam sayang dan peluk dari Emak

Untuk semua Laskar Pencerah Nusantara yang hebat

Dua bulan pertama berlalu. Tersisa 10 bulan tuk mengabdi. Akan sangat cepat berlalu

Mari ERATKAN GENGGAMAN 32 PASANG TANGAN KITA!!!!

dr. Hafidaturrahmah (Avis)