6 Januari

Merabu dan Mapulu. Dua kampung yang unik untuk sebuah kawasan kecamatan Kelay yang sangat luas. Jika kampung-kampung lain dipisahkan oleh hutan rimba, gunung-gunung ataupun sungai, kampung ini hanya berbatasan dengan sebuah pagar rumah warga saja dan jumlah penduduk masing-masing desa juga tidak terlalu banyak, bahkan jika dua kampung ini digabungkan menjadi satu, jumlah penduduknya masih terbilang sedikit untuk sebuah kampung. Kampung ini terletak di bagian selatan kecamatan Kelay, hampir mendekati perbatasan kabupaten Kutai Timur. Kedua kampung ini tidak dapat dilalui dengan jalur darat. Untuk menuju ke sana harus dengan menggunakan ketinting dari kampung tetangganya yang bisa diakses lewat jalur darat. Saat ini memang ada jalur darat milik sebuah perusahaan sawit yang bisa tembus ke desa tersebut namun tetap harus menyeberangi sungai. Selain itu jalur perusahaan ini sulit untuk dilewati jika musim hujan tiba.

Sama seperti kampung-kampung lainnya, perumahan warga tersebar di sepanjang bantaran sungai. Sungai yang melintasi desa ini adalah sungai merapun, merupakan anak sungai Kelay yang airnya jernih ketika musim kemarau dan keruh saat musim hujan. Masih terlihat beberapa jamban di sepanjang sungai, namun tidak sebanyak kampung Panaan sebab di desa ini sudah dibangun beberapa unit rumah sehat yang sudah memiliki jamban keluarga. Bahkan warga yang tidak kebagian rumah sehat pun mulai membangun wc pribadi di rumah. Kebanyakan warga yang tidak memiliki jamban di rumah itu bukan karena tidak mau membuat wc sendiri akan tapi lebih karena alasan ekonomi sehingga lebih memilih MCK di sungai.

Meskipun kedua desa ini hidup berdampingan, tetapi karakteristik masyarakatnya sedikit berbeda terutama dari segi mata pencaharian. Masyarakat Mapulu sebagian besar bekerja mencari sarang burung walet di dalam hutan. Sedangkan masyarakat Merabu sebagian warga ada yang berladang dan berkebun di hutan sedangkan sebagian lagi bekerja lepas di kebun sawit milik sebuah perusahaan swasta. Hal ini berdampak pada tingkat kemakmuran masyarakat di kedua desa yang cukup kentara dan sangat jelas terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari.

       

Kepercayaan masyarakat terhadap tenaga medis juga terbilang tinggi. Hanya ada 1 pustu untuk 2 desa ini yang diisi oleh 2 tenaga bidan dan 1 orang perawat. Meski banyak keterbatasan, masyarakat akan rela berkorban untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga mereka yang sakit. Terbukti ketika tim PN mendatangi kampung ini, warga berbondong-bondong membanjiri Pustu karena ingin mendapatkan pelayanan kesehatan langsung dari dokter. Mereka mengira kedatangan tim kesehatan ini hendak melakukan pengobatan massal. Begitulah, paradigma yang berkembang di masyarakat sekarang adalah dokter atau tenaga medis tugasnya hanya mengobati, dan pemikiran tersebut tidak hanya di masyarakat desa saja bahkan juga di perkotaan.

Satu hal yang membuat kampung ini berbeda dengan kampung-kampung lain di Kelay adalah masalah sumber air minum. Hampir semua kampung di Kelay sangat bergantung pada air sungai  sebagai sumber kehidupan. Berbeda dengan kampung Merabu ini, mereka mendapatkan sumber air dari sebuah mata air yang terletak tidak begitu jauh dari desa ini. Mata air Nyadeng namanya. Dari sana, dipasang sebuah pipa besar untuk dialirkan ke rumah-rumah penduduk dengan menggunakan mesin pompa milik desa Merabu. Air ini nantinya akan ditampung dalam sebuah profil tank yang sudah tersedia di setiap rumah warga.

Ada dua mata air yang membentuk seperti kolam yang besar dan mengalirkan airnya menuju ke sungai merapun. Air ini sangatlah jernih dan berhawa sejuk. Uniknya meskipun air ini berhilir ke sungai merapun namun airnya tidak mau menyatu dengan air sungai merapun bahkan saat kondisi banjir. Terlihat jelas batas air sungai merapun yang keruh berwarna kuning dengan air dari mata air yang berwana jernih kebiruan.

Tidak hanya sampai di situ, mata air ini hingga sekarang belum diketahui dasarnya sampai sejauh mana. Menurut cerita warga setempat, pernah beberapa orang bule dari sebuah NGO bidang konservasi hutan melakukan penyelaman ke dalam mata air Nyadeng ini. Namun hingga 500 meter mereka menyelam tak kunjung bertemu dengan dasar mata air bahkan suhu air menjadi semakin dingin. Selain itu jika kita berjalan-jalan di sepanjang sungai tersebut, akan banyak terlihat ikan-ikan besar yang berlalu lalang namun sangat jarang sekali orang bisa menangkap ikan di sana baik dengan kail ataupun dengan memasang pukat. Bahkan pernah warga menggunakan teknik kontak listrik untuk menangkap ikan, namun tidak ada ikan yang mati akibat sengatan listrik tersebut.

Tim PN merasa tertantang untuk membuktikan kebenaran cerita warga setempat. Saat melewati sungai Merapun menuju ke desa Merabu-Mapulu, kami membelokkan ketinting ke sungai Nyadeng menuju ke sumber mata air. Tampak sangat jelas air sungai Nyadeng dan Sungai Merapun yang tidak menyatu. Lebar sungai Nyadeng ini hanya sekitar 3 meter dan terlihat jelas dasar sungai karena saking jernihnya. Sesaat hawa sejuk langsung merasuk ke tulang-tulang. Terlihat asap tipis berterbangan di atas air sungai yang berwarna kebiruan. Hingga kami tiba di batas ketinting bisa dikendarai karena terhalang dengan bagian sungai yang lebih tinggi yang mengalirkan ribuan kubik air dengan begitu derasnya. Kami memutuskan untuk turun di sana dan berehat sambil menikmati kesejukan mata air Nyadeng. Untuk menuju ke sumber mata airnya, kita harus berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit lagi. Namun mengingat hari sudah senja, tim PN pun memutuskan untuk kembali dan melanjutkan perjalanan ke kampung Merabu Mapulu. Kita pun bertekad suatu hari nanti kita harus mampu mencapai sumber mata air Nyadeng yang misterius ini.