Tanpa terasa, tahun ini alumni Pencerah Nusantara terdiri dari 5 angkatan yang berjumlah 196 orang. Bagi Pencerah Nusantara Batch V, tahun ini merupakan tahun pertama bergabung dalam keluarga besar Alumni Pencerah Nusantara (Alura). Ingatan tentang pengalaman pelatihan dan masa-masa penugasaan masih sangat lekat, bahkan untuk Alumni Pencerah Nusantara batch 1. Pelatihan yang sangat penuh dengan pembelajaran dan ilmu-ilmu baru sangat mengesankan bagi seluruh Alura. Terlebih lagi, ketika kita dapat bertemu dengan mereka yang memiliki cita-cita luhur untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dan bergabung dalam lingkungan positif.

Satu tahun masa penugasaan merupakan fase kehidupan yang berharga bagi para Alura. Satu tahun, waktu untuk ditempa menjadi pribadi yang kuat, menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan tentunya. Rindu menjadi salah satu perasaan yang menggebu di hati para Alura. Namun rindu itu telah terawat oleh hadirnya kegiatan Temu Alura yang dilaksanakan pada tanggal 17 November 2018. 

Temu Alura merupakan salah satu kegiatan rutin untuk mempererat tali silaturahmi antara alumni program Pencerah Nusantara. Temu Alura kali ini dilaksanakan di kediaman salah satu alumni Pencerah Nusantara angkatan V, Anida Hanifah, di wilayah Cipayung. Kegiatan ini dihadiri oleh 25 Alura dari berbagai daerah di Indonesia. Karena rindu yang sudah sangat meluap dan butuh untuk dirawat, beberapa alumni rela datang dari luar Jakarta untuk bertemu dengan kerabat lama. Bahkan, Ketua Alura tahun ini bertolak dari Pekanbaru. Temu Alura bukan sekedar kegiatan reuni belaka, namun tetap ada pengalaman positif di dalamnya. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka dengan kegiatan diskusi tentang Mental Health yang disampaikan oleh Putri Novelia, S.Psi, M.Psi. Materi yang sangat relevan dengan kebutuhan para Alura yang mungkin mengalami masa-masa perubahan dari sistem kerja tim dalam Pencerah Nusantara ke sistem kerja masing-masing yang beragam tipenya. Materi ini juga dapat meningkatkan kesadaran kita tentang kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan game dan sharing kisah-kisah yang sangat mengesankan selama penempatan. Jelas saja setiap kita memiliki kisah yang berbeda dari masa pengabdian. Masa pengabdian, menurut saya pribadi, merupakan salah satu fase berharga dalam perjalanan hidup saya. Mudah-mudahan hal itu juga yang dirasakan oleh teman-teman Alura yang lain. Dengan mengenang masa itu, masa dimana semangat kita sangat membara, berharap agar api semangat itu senantiasa berkobar dengan kondisi kita yang baru. Dengan mengenang masa itu, masa dimana kita sangat cinta terhadap Indonesia, berharap semoga rasa cinta itu senantiasa terpupuk hingga di kemudian hari.

Kegiatan Temu Alura ditutup dengan diskusi untuk merencanakan program-program Alura secara lebih baik. Diskusi kali ini menampung semua aspirasi dan kritikan untuk Alura mulai dari keinginan untuk melaksanakan kegiatan sosial, meningkatkan intensitas diskusi bagi Alura, dan kegiatan-kegiatan positif lain untuk meningkatkan kapasitas Alura serta mempererat tali persaudaraan seluruh alumni program Pencerah Nusantara. Semoga Alura bisa menjadi salah satu wadah untuk berbagi dan menjadi lingkaran positif bukan hanya untuk Alumni Pencerah Nusantara namun untuk lingkungan di sekitarnya.

Ditulis oleh: Ririh Citra Kumalasari (Pencerah Nusantara angkatan VI,  penempatan Sumbawa Barat)