Jakarta, 28 Oktober 2016 - Tantangan global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Salah satu aktor yang memiliki peran penting sebagai pendorong pembangunan bangsa adalah pemuda. Pemuda merupakan aset pembangunan sehingga perlu adanya pengembangan kapasitas, potensi dan melibatkan mereka untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya dan politik.

Indonesia memiliki 65 juta atau sekitar 30% jumlah populasi pemuda yang sebagian besar masih mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang kurang dalam pengambilan keputusan dalam kehidupannya. Namun dipihak lain, pemuda merupakan generasi pendorong pembangunan. Sehingga diharapkan pemuda yang dipadukan dengan inovasi dapat memberikan solusi terhadap permasalahan pembangunan dan melakukan transformasi sosial. Oleh karena itu, mempertimbangkan daya ungkit yang besar dari keterlibatan pemuda dalam pembangunan, maka pemerintah melalui Kemenpora_RI menerbitkan Peraturan Kemenpora-RI No 59 Tahun 2013 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda. Peraturan ini mendorong adanya upaya untuk  mengembangkan potensi keteladanan, keberpengaruhan, serta penggerakan pemuda di tingkat daerah sampai nasional.

UNFPA saat ini sedang membantu Bapenas dalam merancang (Rencana Aksi Nasional) RAN dan indeks pembangunan  kepemudaan untuk melihat secara real kondisi kepemudaan saat ini. Dalam menyusun RAN ini, UNFPA berjejaring dengan komunitas remaja untuk mendapatkan masukan dan melihat real problem pemuda di masyarakat.

”Saat ini banyak kondisi program kepemudaan yang tumpang tindih dan juga kurangnya perhatian pemerintah terkait dengan kelompok kepemudaan di daerah termarginalkan. Indeks kepemudaan ini diharapkan menjadi gambaran yang objektif untuk melihat pergerakan pemuda di Indonesia”. Ungkap Margaretha sebagai keynote speaker dari UNFPA dalam memaparkan kondisi pemuda diIndonesia saat ini.

Diluar sektor pemerintahan, sejatinya pemuda Indonesia saat ini memang sudah banyak melakukan kegiatan positif yang bergerak diberbagai bidang, baik pendidikan, kesehatan maupun kepemimpinan. Begitupula komunitas yang disasar, ada yang menyasar anak usia SD, menyasar remaja itu sendiri, masyarakat secara umum ataupun masyarakat korban bencana. Semua aktifitas dan gerakan pemuda yang menyasar berbagai bidang ini muncul sebagai bentuk kontribusi nyata pemuda dalam mengisi janji kemerdekaan.

Salah seorang panelis yang merupakan penggagas Forum Indonesia – Amien Elmir menyampaikan, bahwa anak muda dan gerakannya tidak boleh bergantung dan mengandalkan pada Pemerintah, gerakan Pemuda harus berusaha dengan mandiri dan bertahan dalam kondisi apapun termasuk minimnya pembiayaan gerakan atau organisasi.

“FIM sejak tahun 2003 mulai mengadakan pelatihan pengembangan karakter bagi anak muda di Indonesia, setiap tahunnya bahkan 2 kali dalam setahun. FIM didanai pribadi, jadi bagi pemuda jangan melulu mengandalkan dana dari pemerintah, alhamdulillah FIM dapat terus berjalan dengan baik. Kami menerima pendaftar terbaik yang serius untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat. Masih banyak masalah kesehatan di Indonesia, jadi berbuat untuk menyelesaikan mengandalkan kekuatan kita. Jangan terlalu berharap pada pemerintah, andalkan diri sendiri. Dibutuhkan hati yang keras dan wacana, karena semua dimulai dari ide dan wacana, tapi harus dieksekusi jangan dibiarkan berlalu aja. Harus berjuang juga sampai titik darah penghabisan. Tutur Elmir dalam diskusi tersebut

Hambatan dana memang seringkali menjadi satu alasan mandegnya sebuah gerakan atau organisasi, hanya modal keberanian dan semangat yang tinggilah yang menjadikan sebuah organisasi kepemudaan tetap berdiri. Seperti yang diungkapkan oleh Lara Aristya salah satu panelis dari Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI)

Masalah pendanaan adalah salah satu dari berbagai faktor yang menjadi hambatan berjalannya suatu gerakan. Akan tetapi lebih penting dari itu, tujuan yang jelas dari sebuah gerakan serta motivasi yang tulus yaitu motivasi untuk memberi arti kepada sesama, tentunya akan menjadi penguat sebuah gerakan maupun organisasi pemuda.

“Kelas Inspirasi dibentuk untuk menunaikan janji kepada negeri. Sebenernya, kami para profesional iri dengan anak-anak yang lebih muda yang bisa menjadi Pengajar Muda. Pilot project KI di tahun 2012, diadakan di Jakarta. Hebatnya, walaupun lokasi acara di Jakarta, pesertanya berasal dari beragam daerah. Sekarang banyak sekali KI di berbagai penjuru kota. Dalam pelaksanaan KI, kita mulai dari tahap perkenalan (upacara bendera). Salah satu tujuan KI adalah bagaimana merasakan jadi guru sehari, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap guru-guru yang telah begitu berjasa mendidik kita, tak hanya itu, KI diciptakan untuk memberikan percikan semangat kepada anak-anak SD yang berada di daerah manapun, agar kelak mereka memiliki mimpi, cita-cita dan harapan untuk masa depannya. Prinsip megikuti KI itu sangat sederhana yaitu: sukarela, siap belajar, siap silahturahim, terjun langsung, bebas kepentingan, dan bebas biaya” ungkap Novi Safitrisebagai salah satu penggiat Kelas Inspirasi saat memaparkan gerakan Kelas Inspirasi.

Tak hanya itu, pemahaman terhadap kebiasaan,budaya lokal dan fleksibilitas juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan, karena ini menyangkut tentang penerimaan masyarakat terhadap manfaat yang ditawarkan oleh gerakan atau organisasi.

“Pada akhirnya, kami hanya mengarahkan dan membantu mereka menemukan solusi dari berbagai permasalahan yang mereka hadapi, biarkan mereka menemukan solusinya sendiri, dari mereka saya berfikir jika saya memang tidak bisa memaksa mereka untuk melakukan sesuai dengan idealisme saya karena nantinya mereka yang akan menjalankan, jadi biarkan mereka mencari jalan keluar sesuai dengan kemampuannya.” Ujar Fairuziana saat menceritakan pengalamannya membina Laskar Pencerah - sebuah organisasi kepemudaan di pegunungan Bromo, Tosari-Pasuruan.

Inti dari kegiatan bertajuk diskusi produktif “Pemuda Anti Wacana” ini adalah saling berbagi kisah dan strategi dari setiap komunitas dengan berbagai bidang yang digarap. Harapannya dari diskusi tersebut juga terjalin sebuah jejaring yang memungkinkan setiap gerakan atau Komunitas untuk berkolaborasi dalam menjalankan setiap aktivitasnya, karena jika ditarik benang merahnya setiap gerakan ataupun komunitas memiliki tujuan yang sama, yakni untuk berbagi dan memberi arti bagi ibu pertiwi. Sehingga meskipun dari latar belakang yang berbeda dan target yang berbeda tentunya setiap gerakan atau komunitas tetap bisa untuk saling mengisi dan melengkapi.


Penulis: Siti Khumaida