Petualangan tim Pencerah Nusantara pada tanggal 21 Oktober 2014 ke Posyandu Seay Lama merupakan perjalanan yang bersejarah bagi kami. Posyandu Seay Lama sendiri berlokasi di Dusun Seay Lama yang berada di Desa Sikakap. Jarak untuk mencapai Dusun Seay Lama sendiri cukup jauh dan merupakan perjalanan yang panjang bagi tim kami untuk mencapai ke dusun tersebut. Bayangkan saja untuk mendatangi Dusun Seay Lama, kami harus menggunakan transportasi kapal antar pulau untuk menyeberangi satu pulau ke pulau yang lain dan satu kali perjalanan ongkos yang kami keluarkan sebesar Rp.4.000,- per orang. Setelah kami berhasil menyeberangi pulau, perjalanan kami harus dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan medan jalan yang menanjak sepanjang satu kilometer untuk mencapai posyandu tersebut. Cuaca terik dan panas di siang hari menemani sepanjang perjalanan kami pada hari tersebut dan terkadang kami menumpang duduk di teras rumah warga setempat hanya untuk menumpang untuk meneduh dan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga selama sisa perjalanan tersebut.

Pertemuan kami dengan “superboy” Sikakap diawali ketika kami hendak pulang dari Posyandu Seay Lama. Awal pertemuan terjadi ketika dalam perjalanan pulang, kami melihat seorang bocah sedang berjualan sayuran keliling dengan menggunakan keranjang dipunggungnya dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Secara spontan kami memanggil bocah tersebut dan mengajak berbicara dengan dia karena kami belum pernah bertemu seorang bocah yang berpenampilan seperti itu di daerah asal kami . Awalnya anak tersebut enggan dan malu ketika berbicara dengan kami karena kami sangat antusias memberikan banyak pertanyaan kepada bocah tersebut, namun ketika kami mengajak anak tersebut untuk duduk di warung sambil kami tawarkan segelas air putih kemudian anak tersebut menerima ajakan kami. Setelah kami duduk dengan anak tersebut akhirnya “superboy” tersebut mulai menceritakan kisah hidupnya.

Bocah tersebut bernama Radi yang berusia 9 tahun dan dengan badannya yang mungil dan kurus, Ia berjualan sayur keliling setiap harinya dengan menyusuri jalanan setiap sudut kota Sikakap. Saat ini Radi duduk di bangku kelas 3 SD dan setelah selesai bersekolah, Radi langsung berjualan sayur yang dipetik oleh ibunya dari hutan sampai dagangannya habis. Radi sudah mulai bekerja sejak usia dini dan mengemban tugas layaknya seorang yang dewasa karena Radi merupakan anak tertua di keluarga. Selanjutnya, Radi memiliki 4 adik kecil, adik yang pertama berusia 7 tahun lalu adik yang kedua dan ketiga berusia 4 tahun dan 2 tahun sedangkan yang adik terakhir berusia 8 bulan. Keluarga Radi sendiri termasuk kedalam keluarga yang memiliki ekonomi kelas menegah kebawah dikarenakan tempat tinggal keluarganya yang merupakan rumah petak sebesar 3x2 cm. Radi bisa dikatakan sebagai tulang punggung keluarga karena Ayahnya sudah meninggalkan keluarga Radi semenjak dia berusia 1 tahun dan untuk menghidupi keluarganya Radi sudah harus banting tulang sejak usia dini. Walaupun begitu Radi tetap menatap hidupnya dengan optimis, kerja keras dan senyuman yang tersirat di wajahnya.

Terdapat suatu cerita yang menarik ketika Radi sedang berjualan yaitu suatu saat ketika Ia sedang berjualan sampai malam, Radi harus menginap di poskamling karena sudah tertinggal kapal/boat yang biasa beroperasi sampai pukul 17.00 WIB dan untuk itu dia menunggu kapal sampai pagi hari agar dapat kembali ke rumahnya. Menurut Radi hal ini sudah biasa bagi dirinya karena jika dirinya harus berjualan sayur sampai sore hari atau malam pasti dia akan tertinggal oleh kapal/boat untuk menyeberang pulau.

Kehidupan Radi sendiri bisa dikatakan tidak seperti kehidupan layaknya anak berusia 9 tahun pada umumnya karena pada usia tersebut merupakan masa bermain bagi anak tersebut. Namun bagi Radi menafkahi keluarganya lebih penting dibandingkan dengan bermain atau bergaul dengan teman sebayanya. Dengan demikian kisah Radi ini merupakan salah satu kisah mengharukan yang dimiliki oleh Indonesia perihal anak-anak yang terlantar dan ketidaksiapan orang tua dalam membangun suatu keluarga bisa menjadi faktor penyebab penelantaran anak di bawah umur. Oleh karena itu, Bagi kami Radi bisa dikatakan sebagai seorang “superhero” atau pahlawan bagi keluarganya. Alasannya karena bagi anak umur 9 tahun beban dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Radi cukup besar dan juga kerasnya hidup Radi menyebabkan Ia harus bisa menafkahi keluarganya agar keluarga terutama adik-adiknya dapat bertahan hidup dan terpenuhi kebutuhan hidupnya. Karena mental baja yang dimiliki oleh Radi seperti “superhero” yang berada di buku-buku komik, Radi kami juluki sebagai “superboy” atau bocah super dari Sikakap. 

Sumber tulisan dari Pencerah Nusantara Mentawai Batch III, disunting oleh Brillian Arya Musashi dan Muh. Asnoer Laagu